Perbedaan Manusia dengan Binatang

Pengkhotbah 3:16-4:6
Minggu ke-3 sesudah Pentakosta


Allah kita penuh misteri dan apa yang dikerjakan-Nya dalam dunia tidak dapat diselami oleh manusia, bahkan orang percaya. Salah satunya adalah perbandingan antara manusia dan binatang.

Pengkhotbah menunjukkan bagaimana perjuangan manusia hanyalah kesia-siaan. Ia mengatakan bahwa dunia di mana kita hidup penuh dengan kejahatan. Pertama, ketidakadilan. Tidak ada orang maupun lembaga yang dapat menegakkan keadilan. Kedua, penindasan. Setiap orang yang dilahirkan ke dunia akan melihat betapa jahatnya manusia.

Allah membiarkan hal ini terjadi karena Allah hendak menguji manusia dan memperlihatkan bahwa mereka tidak ada bedanya dengan binatang (18). Di sini ditunjukkan betapa nasib yang sama menimpa mereka, yaitu sama-sama harus mati. Mungkin ada yang berkata bahwa roh manusia berbeda dengan roh binatang. Roh manusia naik ke atas, sedangkan roh binatang turun ke bumi. Namun, pengkhotbah meragukannya karena tidak ada yang bisa membuktikannya (21). Manusia tidak lebih dari binatang karena segala jerih payah dan kecakapan bekerja adalah sia-sia, yang artinya fana.

Satu-satunya yang sanggup membuat perbedaan adalah keadilan Allah. Ia yang akan mengadili setiap manusia. Orang-orang yang tidak adil dan yang menindas akan diganjar hukuman. Sedangkan, orang-orang benar mendapat ketenangan. Allah hendak mengajarkan agar manusia mengerti betapa kita berbeda dari binatang. Sebab, manusia harus mempertanggungjawabkan hidupnya kepada Tuhan.

Banyak orang, bahkan orang Kristen, yang hidupnya seperti binatang. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan sedang menguji mereka. Karena itu, hendaklah kita tidak hidup seperti binatang. Binatang hanya mengikuti instingnya, sedangkan kita hidup untuk menjadi orang benar di hadapan Tuhan dan masuk ke dalam ketenangan bersama-Nya. Sebaiknya, kita paham tentang tanggung jawab iman dan sadar untuk mempertanggungjawabkan semuanya kepada Tuhan. [INT]
Scripture Union Indonesia © 2017.