Mazmur 132
Minggu Ke-27 sesudah Pentakosta


Antara Bait Allah dan istana.

Mendahulukan Tuhan dalam hidup bukanlah sikap yang mudah untuk
dipelihara. Namun, mazmur kita hari ini berbicara tentang Daud
yang bisa dijadikan teladan bagi kehidupan kita dan hubungan
kita dengan Allah: bagaimana kita menempatkan Allah sebagai yang
utama.Kemungkinan besar mazmur ini ditulis sebelum pembuangan
karena pengungkapannya tentang tabut perjanjian menyiratkan
bahwa Bait Allah belum dijarah oleh bangsa Babel (ayat 587 SM).
Ada 2 bagian dalam mazmur ini: ayat 1-10 diucapkan oleh seorang
raja atau seseorang yang mewakilinya, ayat 11-18 diucapkan oleh
seorang nabi atau imam dalam bait Allah.


Pemazmur memulai dengan doa agar Allah mengingat kesesakan Daud.
Penderitaan yang dimaksud di sini bukan mengacu ke masa-masa
sebelum Daud menjadi raja, tetapi menunjuk ke perjuangan Daud
untuk membawa tabut perjanjian ke Yerusalem dari Kiryat-Yearim
(ayat 1Sam. 7:2; 2Sam. 6). Yerusalem akan menjadi pusat agama
dan politik dari kerajaan Daud. Jika Yahweh mengingat apa yang
Daud lakukan, hal tersebut akan menjamin Yahweh tetap bermurah
hati kepada keturunan-keturunan Daud dan penggantinya di
Yerusalem.


Daud diyakini telah bersumpah untuk mengutamakan tempat kediaman
bagi Allah, Yang Mahakuat dari Yakub—menunjukkan bahwa segenap
suku-suku Israel harus menyembah Allah yang esa ini. Dengan
tabut perjanjian dan Bait Allah menjadi pusat kehidupan bangsa
Israel, ibadah kepada Allah dinomorsatukan di atas segala-
galanya. Sebagaimana Daud bersumpah (ayat 2), Allah pun
bersumpah setia kepada Daud dan keturunannya. Allah sendiri
telah memilih Sion untuk menjadi tempat kediaman-Nya. Ini adalah
sebuah anugerah—Allah rela untuk hadir di tengah umat manusia,
menyertai dan bergumul bersama mereka. Allah pun menjamin
keberlangsungan dinasti Daud.


Renungkan:

Biarlah Allah menjadi pusat kehidupan Anda, bukan harta,
kedudukan, ataupun prestasi. Istana pun tak berarti bila Allah
tak sudi hadir di dalamnya.

Scripture Union Indonesia © 2017.