Tetaplah percaya!
Mazmur ini menegaskan perlunya untuk tetap percaya kepada Allah.
Memang tidak begitu jelas latar belakangnya, tetapi dari
petunjuk ayat 3, kita melihat bahwa tongkat-tongkat kefasikan
kelihatannya sedang menjadi ancaman bagi umat Allah. Kita bisa
memahaminya sekarang, bahwa mazmur ini menunjuk ke fakta
kekuasaan orang-orang yang tidak mengasihi Tuhan.Umat Allah di
sini digambarkan sebagai orang-orang yang percaya, orang-orang
benar, baik, dan tulus hati. Mereka dilindungi Allah dengan
sempurna. Dalam perikop ini, ada 2 gambaran yang dipakai untuk
melukiskan keamanan dan perlindungan. Pertama, ada gunung Sion
yang mengelilingi bait Allah tempat Allah bersemayam (ayat 1).
Kedua, para peziarah diingatkan bahwa betapa megah pun
Yerusalem, ia dikelilingi oleh gunung-gunung yang lebih tinggi
sebagai perlindungan alamiah dari serangan musuh (ayat 2).
Namun demikian, tetap ada kemungkinan bahwa tanah Israel diundikan
di antara orang-orang fasik (ayat 3). Ini terbalik dengan masa
Yosua ketika tanah Kanaan diundi bagi orang-orang benar (Yos.
18:6). Dalam situasi ketika tanah bangsa Israel jatuh ke tangan
musuh, ada kemungkinan mereka makin kehilangan semangat agamawi
dan makin ingin meninggalkan kepercayaan mereka, dan tambah
ingin berkompromi atau bergabung dengan mereka yang berbuat
jahat.
Karena itu, mazmur ini memberikan penegasan kepada mereka agar
tetap percaya, teguh di dalam iman mereka (ayat 4). Juga
peringatan keras bahwa orang-orang yang mudah berubah, tergerak
untuk mengikuti kefasikan, harus dilenyapkan dari antara umat
Tuhan.
Kata-kata berkat terakhir (damai sejahtera atas Israel) menunjukkan
sebuah klimaks. Dengan kedamaian Ilahi, bangsa Israel akan mudah
menantang musuh dari luar dan mengatasi ketegangan-ketegangan
yang terjadi di dalam jemaat. Kata-kata damai seperti ini
pulalah yang diberikan Yesus ketika Ia akan meninggalkan para
murid (Yoh. 14:27).
Renungkan:
Ketika iman Anda mulai lemah, ingatlah bahwa Allah tidak pernah
meninggalkan Anda. Tetaplah teguh!