Kekudusan.
Sampailah kita ke epilog dari kitab Wahyu (ayat 22:6-21).
Sebagaimana dalam pendahuluan kitab ini, di sini kita menemukan
pernyataan bahwa Yohanes adalah saksi yang mendapatkan
penglihatan dari Allah. Namun, dalam bagian penutup ini lebih
ditekankan kutuk yang akan menimpa semua orang yang tidak
menaati pesan-pesan wahyu. Kekudusan adalah unsur yang terus-
menerus ditekankan dalam bagian ini.Pertama, dalam ayat 6-7 ada
penegasan mengenai perkataan yang dapat dipercaya dan sahih.
Allah dinyatakan sebagai yang memberikan roh pewahyuan, sama
seperti Ia memberikan kata-kata-Nya kepada para nabi. Allah yang
sama itu pula yang memberikan penglihatan kepada Yohanes bahwa
kedatangan Kristus akan segera tiba.
Kedua, Yohanes menyatakan bahwa dirinya adalah saksi, yang mendengar
dan melihat penglihatan-penglihatan dalam kitab Wahyu (ayat 8-
10). Ia tidak boleh menyimpan wahyu itu untuk dirinya sendiri,
tidak boleh menyembah malaikat yang ada di hadapannya (bdk.
19:10). Yohanes hanya boleh menyembah Allah.
Ketiga, mereka yang tidak kudus akan dihukum (ayat 11-12). Perkataan
"siapa yang cemar, biarlah ia terus cemar" tidak dimaksudkan
bahwa kecemaran diperbolehkan, namun di sini menunjukkan bahwa
jikalau seseorang terus keras hati dan tidak mau mendengarkan
kebenaran, biarlah ia terus berada dalam keadaannya itu sesuai
dengan keputusannya—ini adalah hukuman dari Allah. Kristus akan
datang segera, bahkan mungkin tiba-tiba. Ia akan membalaskan
kebenaran dengan keselamatan dan kejahatan dengan hukuman. Ini
tidak berarti bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan perbuatan
baik. Tidak ada perbuatan baik di luar Kristus—keselamatan
adalah anugerah semata.
Keempat, Kristus akan menyertai orang-orang yang percaya kepada-Nya
(ayat 13-17). Sedangkan bagi mereka yang sesat muncul peringatan
akan hukuman (ayat 15). Kristus adalah tunas dan terang fajar
yang sejati—Dialah pengharapan umat manusia.
Renungkan:
Pertahankan jubah pembaruan hidup Anda bersih dan beresponslah
terhadap panggilan-Nya untuk senantiasa murni.