Sirnanya lara.
Harapan selalu memiliki dua sisi. Pertama adalah kebahagiaan.
Kedua adalah keresahan. Keseluruhan perikop ini selain merupakan
kesimpulan dari bagian sebelumnya, sekaligus jendela untuk
mengantisipasi teks-teks selanjutnya. Di sini tibalah langit
yang baru dan bumi yang baru. Istilah "baru" lebih menunjuk ke
perubahan kualitas, suatu transformasi. Artinya, yang lama masih
tetap hadir, namun dalam perubahan dahsyat. Perubahan itu
seperti tubuh Kristus yang dimuliakan—tubuh itu tetaplah tubuh-
Nya, namun diperbarui dalam kilauan kemegahan. Di sana laut tak
ada lagi. Ada baiknya kita memahami "laut" secara simbolis.
Dalam Alkitab, ‘laut’ bisa menunjuk ke sumber kejahatan (ayat
12:18), tempat orang-orang mati (ayat 20:13), dan tempat air
secara harfiah. Namun, dalam 21:4 kita melihat bahwa laut
sebagai perwakilan dari dunia yang lama, dunia yang penuh dengan
penderitaan, kejahatan, dan kematian. Kala laut tiada, lara pun
sirna.
Sebuah kota yang kudus turun dari surga. Yerusalem baru adalah
gereja Tuhan di mana orang percaya yang setia mempertahankan
imannya berkumpul; Seperti pengantin perempuan yang menjaga
kemurnian dan keelokan dirinya bagi sang suami tercinta (bdk.
3:12). Orang-orang ini akan masuk ke dalam keintiman tak bertara
bersama Allah dan Kristus, sang kekasih hati mereka.
Lalu terdengarlah sebuah suara dari surga (ayat 3). Suara itu
menjadi satu tanda bahwa tiada lagi yang dapat memisahkan mereka
yang tetap teguh mempertahankan hubungan dengan Allah dan
Kristus. Terjemahan yang lebih setia menyatakan, "Mereka akan
menjadi umat-umat-Nya". Bukan hanya bangsa Israel yang dimaksud,
namun orang-orang seluruh bangsa, suku, dan bahasa terhisab di
dalamnya. Keselamatan menjadi universal, dan kehadiran Allah tak
lagi dibatasi tembok-tembok bait Allah. Ia hadir secara penuh
senantiasa. Nestapa akan berlalu. Hidup akan selamanya indah.
Renungkan:
Jika nubuat Tuhan tentang penganiayaan terlaksana, bukankah
kemuliaan akan tiba jua? Jadilah mempelai Kristus yang
senantiasa elok!