Puncak perlawanan, puncak penghukuman.
Bukan saja kejahatan Satan bertahap dan memuncak, penghukuman
Allah terhadapnya pun bertahap dan memuncak. Dalam bagian
kemarin, perlawanan Satan digambarkan terjadi di dalam kegiatan
para pengikutnya, yaitu kekuatan duniawi dengan berbagai
ekspresi kebudayaan yang menolak kebenaran Allah. Tindakan Allah
pun digambarkan sebagai penghukuman terhadap kekuatan jahat dari
dunia ini. Bagian ini memaparkan puncak perlawanan Satan.
Sesudah sementara waktu dirantai, kini ia dilepaskan dan diberi
kesempatan menyesatkan penduduk dunia. Ini menegaskan bahwa
sedahsyat apa pun Satan, ia tidak bebas tanpa kendali Allah.
Tujuan akhir kegiatannya ini adalah untuk mengepung kota Allah,
melawan Allah dan umat-Nya (ayat 7-10). Satan akan terus
menyerang umat Allah, tetapi ia harus tunduk kepada batas-batas
yang Allah tentukan.Yohanes memberi kita prinsip penting, yaitu
bahwa penglihatan orang beriman tidak saja harus tajam membaca
pekerjaan-pekerjaan gelap si jahat, tetapi lebih lagi harus
tajam menatap tindakan-tindakan Allah menghakimi kejahatan.
Entah berapa pun banyaknya gelombang perlawanan si Satan dan
para pengikutnya, api Allah pasti akan menghanguslenyapkan
mereka (ayat 9). Satan dan para nabi palsunya akan menerima
siksa hukuman yang tanpa kenal henti (ayat 10).
Dalam doa dan penghayatan iman kita, kita mengakui bahwa Allah
adalah Raja. Kini pemahaman iman itu mengambil wujud konkritnya.
Bahwa Allah adalah Raja yang bertakhta, tidak berarti bahwa
Allah hanya menikmati kemuliaan-Nya. Sebaliknya, Allah yang
bertakhta itu adalah yang berdaulat memerintah dan mengadili.
Drama eskatologis ini membentangkan kepada kita bahwa Ia pasti
akan mengadili semua orang sesuai dengan perbuatannya (ayat 13).
Hanya orang-orang yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan
akan luput dari murka kekal-Nya yang adil dan mengerikan itu
(ayat 15).
Renungkan:
Bagaimana kita tahu bahwa kita sungguh tercatat dalam kitab
hayat apabila kita tidak bersungguh di dalam peperangan iman
kita dari waktu ke waktu?