Perjamuan besar Allah.
Perjamuan ini berbeda dari Perjamuan kawin Anak Domba (ayat 19:6
dst.). Yang dirayakan kini bukan kesukaan keselamatan yang akan
dialami oleh para pengikut Kristus yang setia, tetapi kesukaan
karena kehancuran total yang akan diterima oleh semua pihak yang
melawan Allah. Hal itu disebut perjamuan karena penghukuman
akhir Allah atas semua kejahatan dan semua yang jahat adalah
pesta kemenangan keadilan dan kekuasaan Allah.Hukuman Allah
tidak akan membeda-bedakan, tidak seperti pengadilan manusia.
Keadilan akan benar-benar adil, kebenaran akan sungguh
ditegakkan. Tokoh-tokoh yang karena kuasa politis atau uang atau
militer di dunia ini dapat menyetir pengadilan, pada waktu itu
tidak akan luput dari hukuman Allah. Demikian pun orang-orang
lemah tidak dapat mencari alasan untuk tidak
mempertanggungjawabkan keikutsertaan mereka di dalam kejahatan.
Semua yang jahat akan dihukum dan karena yang menghukum adalah
Allah, akan terjadi akibat yang mengerikan dan tuntas (ayat 18).
Orang-orang itu dihukum karena mereka menerima tanda dari
binatang buas dan nabi palsu (ayat 20).
Dari hari ke hari kita menyaksikan bahwa pola budaya masa kini makin
tak menghormati Allah dan makin seenaknya melanggar norma-norma
kehendak Allah. Kita perlu berhati-hati terhadap pengaruh
kebudayaan dunia ini. Kita tidak menjadi duniawi karena dipaksa
oleh suatu kekuatan tertentu, tetapi karena kita membiarkan diri
kita turut hanyut oleh arus keduniawian itu. Menerima (ayat 20)
pengaruh Babel itulah yang telah membuat orang-orang itu kini
dihukum Allah
Renungkan:
Kita milik Sang Anak Domba. Kita harus tegas menjaga tanda
kemilikan Kristus atas kita!