41 - Syafaat Perwira Romawi
Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira
mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: ”Tuan, hambaku terbaring
di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”
Matius 8:5-6

Syafaat Perwira Romawi

”Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita” (Mat. 8:6). Demikianlah curhat seorang perwira Romawi di Kapernaum.

Kita boleh menduga, hambanya itu bukan warga negara Roma. Itu berarti curhatnya bersifat lintas SARA (Suku Agama Ras Antargolongan). Pada titik ini si perwira telah menjadi jembatan antara hambanya—yang tak mudah pergi ke mana pun karena lumpuh—dan Yesus Orang Nazaret. Ia menyampaikan kerinduan terdalam hambanya—kesembuhan—kepada Yesus. Dan, Yesus cepat merespons. Ia tidak menunda-nunda untuk pergi ke rumah kepala pasukan 100 orang itu.

Mengapa Yesus melakukannya?

Tampaknya Yesus melihat betapa si perwira itu sangat mengasihi hambanya. Ia berempati—menjadikan penderitaan hambanya sebagai penderitaannya sendiri. Ia juga tidak malu meminta tolong kepada seorangYahudi. Di mataYesus, si perwira telah bersedia menjadi jembatan bagi kesembuhan hambanya. Inilah inti doa syafaat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, syafaat berarti ”perantaraan untuk menyampaikan permohonan”. Perwira itu menjadi pelantang bagi hambanya. Ia menyuarakan kembali suara hati hambanya. Nah, kita pun dipanggil untuk bersyafaat. Sakit bukanlah alasan untuk tidak mendoakan orang lain. Dalam sakit kita bisa berbagi—berbagi doa. (YMI)

Doa: Saat terbaring sakit, mampukan kami untuk percaya—meski kami tak tahu—ada orang-orang yang berdoa untuk kami. Mampukan kami juga mendoakan orang-orang yang sedang menyandang sakit.

Untuk Mendengarkan Audio Klik Link dibawah ini
Scripture Union Indonesia © 2017. Design & Development by Aqua Genesis