Dengan Tuhan, Siapa Takut!

Kejadian 32:1-21
Minggu ke-6 sesudah Pentakosta
Takut merupakan bagian dalam kehidupan manusia. Kita sebagai orang percaya, kadang juga dihantui rasa takut. Tentu saja, ini hal yang lumrah. Masalahnya adalah bagaimana kita menyikapinya?
Allah selalu menyertai Yakub, baik ketika hidup bersama Laban maupun saat meninggalkan rumah Laban. Allah selalu menyertainya.
Meskipun demikian, Yakub masih merasakan takut. Kehadiran Esau sangat meresahkannya (6-7). Peristiwa masa lalu, ketika ia merampas hak kesulungan dan berkat untuk Esau, masih menghantuinya. Penyertaan Allah seolah kurang menjamin keselamatan dirinya. Bayang-bayang kemarahan Esau tampak lebih besar dan menutupi keagungan perlindungan Allah. Yakub memandang masalahnya lebih besar dari Tuhan Pencipta.
Untuk menutupi ketakutannya, Yakub rela menyebut dirinya hamba dan menyebut Esau sebagai tuan (18). Tidak cukup di situ, upeti pun disiapkan demi meluluhkan hati Sang Kakak (13).
Layaknya dua sisi kepingan koin, demikian kecamuk perasaan Yakub. Sisi yang satu, ia percaya kepada Tuhan. Namun di sisi lain, ia takut kepada Esau.
Sepertinya, kita juga sering seperti Yakub. Ada kalanya kita percaya kepada Tuhan. Namun, pada saat menghadapi perkara besar, kita sering kali malah merasakan takut dan mulai meragukan-Nya.
Karena ketakutan itu, kita kerap jatuh dalam dosa. Misalnya, dalam urusan tertentu yang rasanya sulit, kita lebih memilih jalan keluar dengan melakukan korupsi. Suap kita jadikan sebagai pelicin pemecah masalah.
Dengan tindakan koruptif sesungguhnya kita seolah sedang meragukan bahwa Dia tak bisa menolong kala masalah datang mendera.
Melalui bacaan ini, kita kembali disegarkan dan dikuatkan. Beriman kepada Allah, berarti kita menjalani hidup bersama-Nya. Kita memercayakan segalanya kepada Dia tanpa kekhawatiran yang berlebihan.
Doa: Tuhan, tolonglah kami agar mempercayakan hidup seutuhnya dalam penyertaan-Mu. [SP]
Sugeng Prihadi
Scripture Union Indonesia © 2017. Design & Development by Aqua Genesis