Mengikat Perjanjian

Kejadian 31:43-55
Minggu ke-6 sesudah Pentakosta
Mudah berjanji, mudah pula mengingkari. Mungkin itu jugalah potret kita, manusia yang kerap mungkir dari janjinya sendiri.
Dalam keseharian kita mungkin sering membuat janji. Mulai dari janji kecil sampai yang sifatnya serius. Misalnya, perjanjian piutang, kontrak rumah, pekerjaan, dan sebagainya.
Sifat perjanjian selalu mengikat. Kedua belah pihak, yang berjanji “dijaga” oleh sanksi. Bila ada yang melanggar, maka ada konsekuensi menanti.
Setelah hubungan membaik, Laban dan Yakub sepakat untuk mengikat janji. Laban meminta agar Yakub menjadi suami dan ayah yang baik. Dia pun melarangnya mengambil istri lain lagi (50). Mereka juga bersumpah setia untuk saling meniadakan niat jahat satu sama lain (52). Dengan itulah mereka membuka lembaran kehidupan baru dan mengikat lagi silaturahmi.
Untuk mengeratkan perjanjian mereka membuat prasasti dari timbunan batu. Laban menamakannya Yegar-Sahaduta, sedangkan Yakub menyebutnya Galed (47). Korban persembahan perdamaian dipersembahkan. Mereka pun makan bersama dengan sukacita. Selanjutnya, mereka mengundang Tuhan agar jadi pengawas perjanjian diantara mereka (53).
Tuhan mengikat perjanjian dengan kita melalui peristiwa baptisan kudus. Dalam perjanjian tersebut Dia memberi anugerah keselamatan. Dia berjanji akan menolong kita dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, bagaimana dengan kita? Apa yang harus kita lakukan terhadap perjanjian dengan Tuhan itu? Jawabannya sederhana: hiduplah di dalam kesetiaan dan ketaatan.
Namun, apakah kita setia? Sejujurnya, kita sering mengumbar janji kepada Tuhan. Janji tinggal janji. Berbagai pergumulan hidup, misalnya, kesibukan, masalah keuangan, keluarga, kerap membuat kita lupa. Kita meninggalkan Tuhan dengan berbagai macam alasan.
Mari kita terus-menerus memperbaiki perjanjian kita dengan Tuhan.
Doa: Tuhan, kiranya kami dimampukan untuk setia terhadap perjanjian dengan Engkau. [SP]
Sugeng Prihadi
Scripture Union Indonesia © 2017. Design & Development by Aqua Genesis