Ritual kosong

Markus 2:18-22

Ada orang yang menjalankan hidup keagamaan dengan taat tanpa memahami
esensinya. Ada juga yang menjadikan ritual keagamaan sebagai
pertunjukan untuk mengundang decak kagum orang lain.


Hukum Musa mengatur waktu puasa satu hari dalam setahun, yaitu pada
Hari Pendamaian (Im. 16:29). Namun para pemimpin agama mengatur
waktu puasa melebihi Hukum Musa (band. Luk. 18:12). Kebiasaan
memakai pakaian buruk dan menaburkan abu di wajah saat berpuasa,
kemudian dimaksudkan agar orang mengagumi betapa saleh mereka.


Yesus tidak mengajarkan tradisi puasa pada para murid. Menurut Yesus,
orang tidak berpuasa pada saat pesta kawin. Dialah mempelai pria
dan umat Allah adalah mempelai wanita. Selama mempelai pria ada
di dalam pesta maka yang ada hanya sukacita, bukan puasa (ayat
19-20). Bila mempelai pria pergi, barulah orang berpuasa.


Yesus melengkapi penjelasan-Nya dengan dua perumpamaan, yaitu tentang
secarik kain baru dan baju tua serta tentang kantong kulit tua
dan anggur baru (ayat 21-22). Kedua perumpamaan itu berbicara
tentang orang Yahudi yang telah lama terjebak dalam ritual agama
yang kosong. Mereka memang melakukan semua tuntutan agama, tetapi
berdasarkan pemahaman yang keliru. Mereka melakukan itu bukan
karena merasakan kebutuhan untuk bersekutu dengan Allah. Bahkan
ada yang melakukan karena ingin pamer kesalehan. Parah bukan?
Sebab itu Tuhan ingin menyatakan bahwa ritual agama yang membuat
hubungan manusia dengan Tuhan jadi gersang seharusnya tidak
digunakan. Roh Allah tak dapat bekerja leluasa dalam kegersangan
demikian.


Peringatan Yesus kiranya membuat kita bercermin. Adakah kebiasaan ke
gereja di hari Minggu dan waktu teduh setiap hari masih
menyegarkan kerohanian kita? Atau kita melakukan semua itu karena
sudah terlanjur menjadi kebiasaan dan kita merasa tidak afdol
bila tidak melakukannya? Kiranya Roh Kudus menyegarkan dan
membarui kita.

Scripture Union Indonesia © 2017. Design & Development by Aqua Genesis