MISI
Bersama gereja dan lembaga Kristen:
-memberitakan kabar baik kepada anak, generasi muda, dan keluarga
-memfasilitasi umat melalui Alkitab dan doa agar mengalami pembaruan hidup menjadi serupa Kristus.
VISI
Anak, generasi muda, dan keluarga mengenal Allah dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus untuk melakukan firman-Nya.
Slahkan klik konten yang diinginkan
Doakan rencana promosi Superkidz, Specialkidz, Smart & Gen M ke sekolah-sekolah Kristen dan Gereja-gereja di kota Solo kerjasama dengan Sekolah Kalam Kudus Solo pada tanggal: 24 Agustus 2013. dan di kota Ambon untuk sekolah2 Kristen dan Gereja2 pada tanggal 20-22 Sept.2013: Dalam bentuk seminar: "bagaimana Alkitab tetap menarik di dunia Anak & Remaja di Era Informasi dan Teknologi saat ini"
Partner:
-Doakan acara Partner Gathering tgl 22 Juni 2013 bersama Ms. Janet Morgan
-Doakan Mitra Su Indonesia dalam pekerjaan, pelayanan dan keluarga
Pembinaan:
-Pelayanan Bp. Hans Wuysang di Manado tgl 22 Juni-7 Juni 2013
-Pelayanan generasi muda dan pelayanan anak di Manado tgl 19 Juni-4Juli 2013
-Pembinaan BGA Regional di Ambon pada awal Juli 2013
30 Juni 2013
TERSESAT, NAMUN DISELAMATKAN
Mazmur 107 adalah mazmur pembuka kitab kelima Mazmur (I: 1-41; II: 42-72; III: 73-89; IV: 90-106; V: 107-150). Tema syukur mazmur ini melanjutkan Mazmur 105 dan 106. Namun, alasan bersyukur lebih kepada pertolongan Tuhan dalam berbagai situasi kehidupan.Alasan mendasar bersyukur diberikan pada ayat 2-3, yaitu Allah telah menebus mereka.Alasan spesifik diberikan dalam ayat-ayat 4-9, 10-16, 17-22, dan 23-32. Ayat 33-43 memaparkan karya Tuhan yang mengubah ‘situasi’ manusia dari keadaan tidak berdaya menjadi diberkati, sebaliknya yang merasa hebat menjadi tak berdaya (33-43).
Situasi pertama (4-9) menggambarkan orang-orang yang tersesat dalam perjalanan menuju kota (4-5). Di padang gurun sejauh mata memandang, hanya pasir melulu. Tanpa arah yang pasti, orang bukan hanya tersesat, tetapi juga akan mati kehausan dan kelaparan. Tuhan menyatakan belas kasih-Nya.Ia menunjukkan jalan yang lurus mencapai kota. Biasanya perjalanan di padang gurun dihubungkan ke peristiwa sesudah keluaran. Namun beberapa frasa yang dipakai di ayat 4-7 dekat dengan nubuat Yesaya mengenai pemulangan umat Israel yang dibuang ke Babel. Bandingkan ayat 7 dengan Yesaya 40:3; 43:19-20. Pembuangan ke Babel adalah kenyataan pahit. Keselamatan dari Tuhan, adalah pemulangan ke tanah perjanjian, yang walaupun secara harfiah perjalanan berat dan berliku-liku, tetapi penyertaan-Nya membuat jalan serasa lurus!
Ketersesatan di padang gurun melambangkan ketersesatan karena dosa. Seseorang kehilangan arah karena mencari jalan sendiri, bukan jalan Tuhan. Akibatnya, haus dan lapar yang melumpuhkan.Hanya pertolongan Tuhan yang dapat memerdekakan dari belenggu dosa dan memberikan kelegaan serta kembali ke jalan yang benar. Berserulah kepada Tuhan, Ia akan segera menolong!
29 Juni 2013
TIDAK KOMPROMI DENGAN BERHALA
Pasti kita bukan satu-satunya penghuni rumah kita. Selain pemilik rumah, di dalam rumah biasanya ada berbagai hewan, mulai dari hewan peliharaan seperti anjing atau kucing, hingga hewan yang dianggap sebagai hama, seperti tikus, semut, dll. Terhadap yang disebut terakhir ini, jelas orang-orang yang tinggal di rumah itu tak mau kompromi. Sebisa mungkin hewan-hewan pengganggu itu dienyahkan.
Allah pun tidak mau bangsa Israel berkompromi dengan berhala. Ini terlihat dari perintah-perintah-Nya, di dalam nas hari ini. Mereka dilarang membuat patung-patung sesembahan, terutama yang terbuat dari perak dan emas (23). Ketika mendirikan mezbah bagi Allah, mereka tak boleh menggunakan batu pahat, karena batu jenis ini biasa digunakan orang Kanaan untuk mendirikan mezbah bagi dewa-dewi mereka; mereka juga dilarang menggunakan beliung, sejenis kapak, karena alasan serupa (25). Larangan untuk membangun mezbah yang tinggi kelihatannya disebabkan alasan serupa, yaitu imam-imam orang Kanaan terbiasa membiarkan aurat mereka tak tertutup saat mempersembahkan korban (26). Larangan-larangan ini disempurnakan dengan beberapa perintah positif. Pertama, Israel mesti mengingat bahwa Allah telah berfirman secara langsung kepada mereka, kehadiran-Nya di hadapan mereka nyata (22), tak abstrak seperti dewa-dewi yang hanya bisa dilihat patungnya. Kedua, tempat persembahan haruslah ditentukan oleh Allah sendiri, dan di tempat itulah Allah akan datang dan memberkati mereka (24).
Allah tetap menghendaki kita untuk terus berperang dan tidak berkompromi dengan berhala. Namun berhala-berhala yang kita perangi kini tak hanya berupa dewa-dewi ataupun roh-roh. Berhala masa kini juga bisa berupa ambisi, harta, teknologi, sensasi inderawi, ketenaran, dan lainnya. Intinya, berhala adalah apa pun yang kita tempatkan sebagai hal dan terpenting bagi diri hidup kita, yang menggantikan posisi Allah. Jangan kompromi dengan hal-hal itu. Gumuli semuanya di dalam terang firman Allah, dan kita akan melihat bagaimana Allah berperang bagi kita dan memberkati kita.
28 Juni 2013
JANGANLAH TAKUT ATAU TAKUTLAH ?
Kata takut punya beberapa arti. Takut bisa berarti perasaan gentar yang melumpuhkan, yang membuat seseorang hanya bisa melarikan diri sejauh mungkin dari hal atau orang yang ditakuti. Bahkan, mungkin, saking ketakutannya, orang tersebut tak bisa berbuat apa-apa selain berdiri mematung sambil gemetaran. Namun, takut juga bisa memiliki arti yang lebih positif. Takut berarti perasaan segan, respek, ataupun hormat kepada sesuatu atau seseorang.
Jika kita membaca nas ini sepintas kita bisa berkesimpulan bahwa ayat 20 memuat kalimat yang kontradiktif: Israel diminta “Janganlah takut …”, tetapi juga diminta supaya “takut akan Dia ada padamu.” Namun kita tak perlu berkesimpulan demikian. Israel diminta untuk “jangan takut” dalam arti supaya mereka tidak larut dalam kengerian yang melumpuhkan karena takut mati (19). Musa menegaskan, bahwa kedatangan Allah justru untuk “mencoba” mereka, yaitu untuk memberikan kesempatan, bahkan menantang mereka, untuk mengambil pilihan yang tepat. Apa pilihan yang tepat itu? Dengan mempertahankan “takut” akan Allah sehingga mereka tidak berbuat dosa. Takut di sini punya makna yang berbeda dengan takut sebelumnya. Takut di sini berarti respek dan hormat, sehingga mereka mau mematuhi perintah Allah, khususnya kesepuluh perintah yang telah diberikan. Inilah ajakan Allah melalui Musa kepada bangsa Israel.
Kristus telah menaklukkan ketakutan yang membabi-buta terhadap Allah, sehingga kita kini boleh bersekutu dengan Dia, bukan tanpa rasa takut (Luk. 1:74 menunjuk pada ketakutan disiksa karena melayani Allah), tetapi dengan takut yang tepat, yaitu takut akan Dia yang telah menyelamatkan kita, yang diekspresikan melalui ketaatan kepada-Nya dan pada perintah-perintah-Nya. Jika kita takut akan Allah, pertanyaan pertama kita setiap hari bukanlah janji dan berkat apa yang bisa kita tuntut dari-Nya hari ini, tetapi bagaimana kita bisa menyenangkan Dia hari ini? Itulah sikap orang yang telah benar-benar mengecap karya keselamatan-Nya. Mengapa? Karena keseluruhan hidup kita adalah persembahan syukur kita kepada Allah Tritunggal.
27 Juni 2013
ARTI BERELASI DENGAN ALLAH
Kehidupan berbangsa di republik tercinta ini beberapa kali dikotori perbuatan tercela atas nama Tuhan. Segelintir orang secara demonstratif menonjolkan identitas-identitas “ketuhanan”, tetapi melakukan perbuatan yang bertabrakan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mau tidak mau, suka tidak suka, pesan yang kita dapat dari tindakan seperti itu adalah, orang boleh menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan, asal dilandaskan atas nilai-nilai “ketuhanan” versi mereka.
Nas hari ini bertentangan dengan interpretasi seperti di atas. Di dalam nas yang bisa dikatakan menjadi puncak keseluruhan Perjanjian Lama ini, Allah pertama-tama menegaskan bahwa diri-Nyalah “Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar … dari tempat perbudakan” (1). Jadi relasi mereka didasari oleh inisiatif penyelamatan Allah atas Israel. Atas dasar karya-Nya yang ajaib itu, Allah memberikan tuntutan dan perintah yang mesti ditaati. Berbeda dengan tuntutan dewa-dewi bangsa lain yang melulu berkisar pada pemberian kurban materiil, kesepuluh perintah Allah justru bersifat teologis dan etis. Kesepuluh perintah itu bisa digolongkan ke dalam dua bagian besar: perintah-perintah yang berkaitan dengan Allah (2-11) dan dengan manusia (12-17). Artinya, jika bangsa Israel hanya menaati perintah yang berkenaan dengan Allah, tetapi tak mengindahkan perintah tentang perilaku kepada sesama manusia, itu berarti tidak taat.
Maka kita layak bertanya: bagaimana saya bisa menaati perintah ini dan bagaimana ketaatan saya mempengaruhi relasi saya dengan Allah Tritunggal yang menyelamatkan saya. Di sini kita tidak mencari perasaan suci yang legalistis, seakan kita hebat kalau mampu melaksanakannya. Sebagaimana Allah melepaskan Israel terlebih dahulu dari perbudakan sebelum memberikan perintah-Nya, demikian juga Allah mengutus Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Roh Kudus sebagai pendamping, yang memampukan dan menuntun kita dalam menaati semuanya. Saat kita taat, di situ kita justru melihat karya dan kehebatan Allah di dalam ketaatan kita. Itulah arti berelasi dengan-Nya.
26 Juni 2013
TUHAN AKAN DATANG
Bayangkan jika Anda tiba-tiba menerima pemberitahuan resmi bahwa presiden republik yang tercinta ini akan datang bertamu ke rumah Anda. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Boleh jadi Anda akan merapikan penampilan diri dan rumah Anda. Namun bisa juga Anda berkonsentrasi memberitahu sebanyak mungkin orang tentang kabar membanggakan ini. Bukankah ini yang terpenting, Anda bisa membanggakan sesuatu yang tak dialami orang lain?
Di sini Allah menegaskan kepada Musa, bahwa Ia “akan datang kepadamu dalam awan tebal,” supaya ketika Allah berfirman kepada Musa, bangsa Israel bisa turut mendengar (9). Ayat ini mengilustrasikan satu hal yang diminta Allah dari Israel: memahami perintah Allah dan menaatinya. Karena itulah sebelumnya Allah, melalui Musa, meminta Israel untuk “sungguh-sungguh mendengar firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku” (5), dan kemudian menyuruh mereka menguduskan diri (10), bersiap (11), tidak menyentuh gunung itu (12-13, 21, 24), dan supaya para imam menguduskan diri (22). Karena itu, kedatangan Tuhan menuntut ketaatan Israel dengan cara mengerti kehendak-Nya dan melakukannya. Buah ketaatan ini didefinisikan melalui tiga janji Allah. Pertama, Israel akan menjadi “harta kesayangan” Allah di antara bangsa-bangsa lain (5). Kedua, Israel akan menjadi “kerajaan imam”, dalam arti berperan sebagai imam yang melayani dan memuliakan Allah (6). Ketiga, mereka akan menjadi “bangsa yang kudus”, terpisah dari dunia, dan menjadi contoh tentang bagaimana relasi perjanjian dengan Allah mengubah suatu bangsa.
Sebagai orang Kristen, kebanggaan kita tak terletak pada kebanggaan sosial yang kita dapat saat melayani Tuhan. Kebanggaan kita justru terletak pada ketaatan kita, walaupun sikap taat itu membuat orang lain mencemooh kita. Janji-janji Allah jauh lebih indah dari semua cercaan itu. Apa lagi semua janji kepada Israel sudah mulai kita rasakan melalui karya penebusan Kristus dan tuntunan Roh Kudus. Mestinya kita tak sibuk memikirkan apa yang bisa kita banggakan. Kita justru harus bertanya: bagaimana saya bisa taat kepada Allah hari ini?
25 Juni 2013
PENDELEGASIAN PELAYANAN
Kadangkala persepsi orang tentang sosok seorang pelayan dicemari konsep dunia tentang pemimpin. Seorang pemimpin tak jarang dianggap pahlawan super sekaligus artis mahaterkenal. Ia diberi berbagai penghargaan, karena dirinya, entah sukarela atau karena terpaksa, mau menanggung semua beban. Akibatnya, pelayanan yang dilakukan nyaris menjadi aksi solo, sedangkan orang lain menjadi figuran atau penonton. Hal ini berdampak negatif, baik pada diri orang tersebut, dan juga pada orang-orang yang dilayani dan yang bekerja sama dengannya.
Yitro mulai mengamati potensi munculnya dampak negatif pada diri Musa, juga pada bangsa Israel (18). Apa yang dilakukan Musa saat itu terlalu berat untuk dilakukan seorang diri saja, jika ia harus melayani mereka satu per satu seharian. Orang-orang yang datang mengadu pun akan kepayahan jika harus antri seharian. Karena itu, Yitro memberikan nasihat penting. Pertama, Musa mesti terus menjadi jembatan komunikasi dua arah antara Allah dengan bangsa Israel. Ia harus tetap mewakili Israel di hadapan Allah dan menyampaikan “perkara-perkara” mereka kepada Allah (19), juga mengajarkan kepada Israel “ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan” Allah, dan juga “jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan” (20). Kedua, Musa mesti melakukan pendelegasian dengan mencari orang-orang yang “cakap dan takut akan Allah, … dapat dipercaya … dan benci … suap” (21). Merekalah yang akan menangani kasus-kasus yang lebih ringan. Yitro menegaskan bahwa Allah pun “memerintahkan hal itu kepadamu” (23).
Pendelegasian seperti ini patut diteladani di dalam pelayanan, khususnya di dalam konteks gereja. Ketika tuntutan pelayanan makin bertambah, sewajarnyalah tugas-tugas tertentu didelegasikan kepada orang-orang yang terpilih, dilatih, dan selalu mengutamakan kehendak Allah (20). Dengan demikian, pelayanan di gereja takkan menjadi ajang aksi solo seorang hamba Tuhan tertentu, tetapi persekutuan yang saling melengkapi di dalam Allah Tritunggal.
24 Juni 2013
BERSAKSI TENTANG PERBUATAN TUHAN
Orang Indonesia terkenal gemar bertukar cerita. Apa lagi jika seseorang baru melakukan perjalanan panjang, bahkan mencapai tempat-tempat yang jauh dan tak pernah dikunjungi kerabat dan kenalannya. Tentu saja, orang itu akan memilih cerita yang paling menarik perhatian. Makin seru dan aneh, makin bagus, walaupun belum tentu dirinya sendiri yang mengalaminya. Kepuasan tersendiri didapatkan ketika kerabat dan kenalan itu terpukau mendengar ceritanya.
Konteks Musa sedikit terbalik. Ia dan bangsa Israel sedang menempuh perjalanan jauh, tetapi Yitro, mertuanya, mendatangi dia beserta istri Musa dan kedua putranya (2-5). Saat bertemu, Musa menceritakan segala perbuatan Allah bagi Israel, mulai dari “segala sesuatu yang dilakukan Tuhan kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel,” dan juga segala kesusahan yang Israel alami dan “bagaimana Tuhan menyelamatkan mereka” (8). Setelah mendengar cerita itu, Yitro bersukacita (9) dan memuji Tuhan (10-11), lalu mempersembahkan korban bakaran dan sembelihan kepada Allah (12). Respons Yitro kontras dengan perbuatan Israel yang telah kita baca di dalam kisah sebelumnya. Yitro belum pernah melihat langsung perbuatan-perbuatan itu, hanya mendengar cerita Musa, tetapi ia memuji Allah karenanya. Bangsa Israel sudah berkali-kali melihat dan merasakan perbuatan ajaib Allah, tetapi masih saja menggerutu dan menunjukkan ketidakpercayaan.
Di dalam nas ini kita melihat teladan Musa, yang sigap menyampaikan kesaksian tentang perbuatan ajaib Allah. Sikap ini mesti kita contoh. Ada baiknya tiap perjumpaan dengan kerabat dan kenalan, kita isi dengan cerita-cerita yang menunjukkan anugerah penyertaan Allah di dalam hidup kita, dan bukan adu hebat cerita siapa yang paling menarik. Juga ada teladan dari Yitro. Meski tidak melihat langsung peristiwa yang disaksikan Musa, Yitro mengucap syukur kepada Allah. Kesiapan untuk bersyukur melihat anugerah penyertaan Allah pada orang lain merupakan bagian dari persekutuan kita dengan Allah dan sesama.
23 Juni 2013
KETIDAKTAATAN DAN KASIH SETIA
Apa yang pantas kita terima dari Tuhan, kalau kita sering tidak taat kepada-Nya? Masihkah kita merasa layak diampuni, dipulihkan, dan diberkati dengan limpah?
Di padang gurun, ketidaksetiaan umat ternyata tidak membatalkan kasih setia Tuhan. Ia tetap memimpin mereka memasuki tanah Kanaan. Namun, di tanah pusaka ini kembali mereka memberontak terhadap Tuhan. Mereka menolak taat kepada perintah Tuhan, yaitu membinasakan penduduk Kanaan (34-35). Akibatnya mereka pun dipengaruhi oleh penduduk Kanaan, terutama dalam beribadah. Mereka melakukan perzinaan rohani, dengan menyembah ilah-ilah bangsa-bangsa di Kanaan (36-39). Ibadah Kanaan merupakan ibadah yang menjijikkan dan mengerikan (37-38). Lebih mengerikan lagi umat Israel ikut-ikutan dalam ibadah tersebut!
Namun demikian, kasih setia Tuhan tetap menopang mereka, walau dengan cara yang keras, yaitu dengan menyerahkan mereka kepada bangsa-bangsa musuh yang menjajah dan menyengsarakan. Ya, kejahatan mereka dibalas dengan pendisiplinan dari Tuhan.Berulang kali mereka jatuh ke dalam dosa, berulang kali pula Tuhan menghajar mereka.Semua itu Tuhan lakukan karena Perjanjian-Nya dengan mereka.Ia tetap Allah mereka, dan mereka tetap umat-Nya. Hal itu dilakukan-Nya agar mereka sadar bahwa ketidaktaatan mereka menyedihkan hati-Nya.Ia ingin mereka bertobat.
Kalau Tuhan berlaku keras terhadap kita yang gampangan dalam menjaga kekudusan kita, itu tandanya Ia mengasihi kita. Kita sudah ditebus dengan harga yang mahal, yaitu darah Kristus. Masak kita bermain-main dengan dosa, sepertinya pengurbanan-Nya tidak berarti bagi kita? Sebelum hajaran-Nya menimpa kita dengan keras, bertobatlah! Taat firman-Nya, hidup kudus dan jauhi godaan untuk melampiaskan hawa nafsu.
22 Juni 2013
SIAPA TUHAN BAGI KITA ?
Kadang orang salah sangka terhadap Allah, mengira bahwa Allah mesti berkarya sesuai dengan cara yang mereka maui. Jika tidak, artinya Allah tidak ada. Mereka berasumsi, karena Allah Maha Kuasa, mestinya semua kehendak mereka bisa dilaksanakan. Teologi seperti ini memposisikan Allah sebagai Jongos Maha Kuasa, yang mesti siap meladeni segala kehendak mereka. Padahal Allah berdaulat dan berkehendak di dalam hikmat dan kekudusan-Nya.
Ketika bangsa Israel tiba di Rafidim dan tak menemukan air (1), sebenarnya mereka cukup meminta kepada Allah melalui Musa. Namun kekecewaan atas tidak terpenuhinya ekspektasi mereka ini membuat mereka menuduh Musa, dan dengan demikian, menuduh Allah membawa mereka keluar hanya untuk membiarkan mereka mati kehausan (3). Tampak bahwa ekspektasi mereka atas Allah didasari teologi yang dangkal. Karena itu, Allah lebih lanjut menyatakan diri melalui dua peristiwa ajaib: air yang keluar dari gunung batu di Horeb (6) dan kemenangan Israel atas Amalek (8-16). Di keduanya, Allah tidak begitu saja mengaruniakan air dan kemenangan, sementara bangsa Israel tinggal bersantai menunggu hasilnya. Allah menunjukkan bahwa diri-Nya memang benar-benar maha kuasa dan lebih dari sanggup untuk memelihara mereka. Namun, Ia menggunakan hamba-hamba-Nya untuk melaksanakan kehendak dan mukjizat-Nya. Allah memakai ketaatan Musa, Harun, dan Yosua, juga bangsa Israel sendiri, untuk melaksanakan mukjizat penyertaan-Nya.
Siapa Allah di dalam pandangan kita? Jika kita masih menganggap Allah sebagai Jongos Maha Kuasa, di mana sebagai orang Kristen kita cukup santai menikmati segala berkat dan hak yang dijanjikan-Nya, maka kita mesti bertobat. Allah menghendaki yang terbaik untuk kita, anak-anak-Nya, tetapi sesuai dengan hakikat diri-Nya dan berdasarkan kehendak-Nya. Kita adalah alat yang Dia pakai untuk menyatakan kehendak dan karya-Nya, tidak hanya bagi diri kita pribadi, tetapi juga bagi orang lain, bahkan seluruh kosmos ini. Marilah kita terus belajar mengenal-Nya, dan terus taat pada perintah-perintah-Nya.
21 Juni 2013
PILIH ALLAH ATAU PERBUDAKAN ?
Logisnya, tak ada orang yang sudi diperbudak. Meskipun begitu, banyak orang yang dengan sukarela membiarkan dirinya diperbudak sesuatu yang negatif. Sebagai contoh, ada orang yang membiarkan dirinya menjadi budak narkoba, padahal ia sadar bahwa narkoba berdampak buruk bagi dirinya. Sayangnya, walaupun orang-orang terdekatnya melakukan intervensi untuk menyadarkan dirinya, yang bersangkutan akhirnya kembali jatuh ke dalam kubangan yang sama.
Israel mirip orang tadi. Di dalam nas ini, kita membaca permulaan kecintaan mereka pada masa perbudakan yang kelam itu. Mereka tidak hanya dipaksa kerja rodi (Kel. 1:8-14). Saking hitamnya kondisi mereka di Mesir, bayi-bayi lelaki Israel yang baru lahir pun dibantai orang Mesir tanpa kenal ampun (Kel. 1:15-22). Namun rupanya mereka sudah melupakan semua itu. Yang mereka ingat, di Mesir mereka bisa “duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” (3). Karena itulah Allah berfirman bahwa Dialah Tuhan, Allah, satu-satunya yang layak diandalkan sebagai sumber pangan, dan bukan Mesir; dan juga bertindak dengan mengaruniakan kawanan burung puyuh sebagai sumber protein hewani mereka dan manna, sebagai “roti” mereka (12). Sebagai gantinya, Allah hanya meminta umat Israel untuk taat pada perintah-Nya. Di dalam konteks ketaatan inilah, Allah melaksanakan janji-janji-Nya, dan bukan menghukum Israel. Menikmati penggenapan janji-janji ini jelas lebih nikmat daripada perbudakan, bukan?
Yesus berkata, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24; bdk. Luk. 16:13). Kita tak boleh menjadi seperti Israel, yang justru merindukan kembali masa lalu yang kita anggap lebih enak, walaupun sebenarnya nista dan kejam. Nikmat berbuat dosa, apa pun itu, takkan bisa menandingi penggenapan berbagai janji-janji Allah di dalam kehidupan kita. Kita takkan bisa melakukan keduanya, kembali mencicipi dosa sambil berusaha terus memelihara persekutuan dengan Dia. Salah satu harus ditinggalkan. Alangkah ruginya, jika kita memilih untuk meninggalkan Allah.
20 Juni 2013
BERSUNGUT-SUNGUT vs BELAJAR TAAT
Mengeluh itu sebenarnya manusiawi. Keluhan biasanya ditujukan kepada pihak yang dianggap lebih berkuasa. Keluhan bisa saja wajar dan punya dasar, tetapi bisa juga sebaliknya. Misalnya, ketika kita butuh sesuatu, tetapi pihak yang menurut kita mestinya menyediakan kebutuhan itu, gagal melakukannya.
Bangsa Israel merasa Allah gagal menyediakan air minum yang layak di dalam perjalanan mereka (22-23). Karenanya, mereka “bersungut-sungut”. Keluhan mereka kepada Musa dijawab dengan sebuah tindakan luar biasa dari Allah (25) yang menggarisbawahi satu hal penting: Allah terus menyertai mereka, termasuk mencukupkan kebutuhan air minum mereka. Ketika kekurangan air, mereka menemui mata air berlimpah (27). Ketika air yang mereka temui pahit, Allah membuatnya menjadi manis. Atas dasar karya anugerah Allah ini, Allah “mencoba” mereka (25b): Allah tidak dengan sewenang-wenang meneropong ke masa depan melalui kemahatahuan-Nya untuk mencari tahu apakah mereka akan taat atau tidak; Ia justru memberi kesempatan kepada bangsa Israel untuk menunjukkan secara konkret siapa sebenarnya diri mereka, apakah mereka “sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan” ketika berhadapan dengan kesulitan, atau malah sebaliknya. Jika mereka memilih taat, mereka akan menerima jaminan penyertaan dari Dia “yang menyembuhkan” (26).
Sebagai orang yang telah mengecap karya keselamatan Kristus, nas ini tak mengajar kita untuk bersikap seperti bangsa Israel yang menagih-nagih manifestasi penyertaan Allah. Sebaliknya, kita dipanggil untuk taat, yang didefinisikan melalui kepekaan pendengaran, memahami perintah, serta kesiapan untuk melakukannya (27). Inilah yang dikehendaki Allah dalam hidup kita, sebagai respons atas karya keselamatan-Nya. Apa yang Anda lakukan, yaitu membaca dan merenungkan firman-Nya, merupakan bagian ketaatan. Namun tidak berhenti pada saat teduh. Ketaatan mesti mewujud pada kehidupan; firman yang kita renungkan mesti menjelma ke dalam perbuatan dan perkataan kita. Inilah arti ketaatan yang sesungguhnya.
19 Juni 2013
BUKAN PENGUCAPAN SYUKUR BIASA
Di jemaat tempat saya bergereja, orang biasanya mengadakan Kebaktian Pengucapan Syukur untuk merayakan kelahiran anak, ulang tahun, kelulusan, rumah baru, pekerjaan baru, dan banyak lagi. Biasanya, di tengah perayaan itu pelayan firman mengingatkan semua yang hadir untuk mengucap syukur kepada Allah atas hal baik yang telah terjadi. Lalu sang kepala keluarga menjelaskan apa sebenarnya yang dirayakan itu, beserta ucapan terima kasih untuk semua yang mendukung, juga atas kesediaan menghadiri perayaan itu.
Nas ini memberikan cara pandang yang lebih spesifik atas sebuah perayaan keberhasilan. Bangsa Israel berhasil lolos dari kejaran bala tentara Firaun, karena faktanya kaki mereka sendiri yang melangkah dan membawa mereka menjauh. Namun seperti yang kita lihat kemarin, langkah kaki itu tak mungkin terjadi tanpa karya dahsyat Allah. Mereka takkan mungkin lolos tanpa “tangan kanan Tuhan” yang menghancurkan musuh. Bahkan, nyanyian Musa ini justru tak mengagungkan lolosnya Israel atas campur tangan Allah: itu hal sekunder. Yang diagungkan adalah sosok Allah sendiri, karena sejak awal Musa berkata, “Baiklah aku menyanyi bagi Tuhan” (1). Isi kidung pujian ini pun melulu tentang apa yang dilakukan Allah, baik terhadap musuh-musuh-Nya (1, 4-10; 12-16) maupun kepada Israel, umat-Nya (16-18), bukan sekadar nyanyian tentang kehancuran musuh-musuh Allah dan keselamatan Israel berkat campur tangan-Nya. Kelihatannya kedua hal ini sama, padahal tidak. Di yang pertama, Allah diakui sebagai subjek, sementara di yang terakhir Ia sekadar ditempatkan sebagai keterangan pelengkap.
Tidak semua kita diberi talenta untuk menggubah lagu, tetapi kita diberi kemampuan untuk menceritakan, entah dengan kata-kata, karya seni, pekerjaan, bahkan senyum di muka kita, seperti apa hidup kita ini kita maknai, dan siapa subjek utama di dalamnya. Sebagai orang Kristen, sewajarnyalah, kita memaknai hidup kita sebagai ranah di mana Allah memerintah selama-lamanya (18), sebagai kekuatan, mazmur, dan keselamatan kita (2).
18 Juni 2013
ALLAH MENUNJUKAN KUASA-NYA
Tentu Musa tidak bermaksud munafik ketika sebelumnya ia terlihat sangat beriman kepada Allah di depan orang-orang sebangsanya, tetapi di hadapan Allah ia tampaknya menyuarakan keputusasaan. Ini bisa kita lihat dari respons Tuhan di ayat 15.
Lalu Musa diperintahkan untuk melakukan serangkaian tindakan untuk membelah Laut Teberau supaya orang Israel dapat berjalan di tengah-tengahnya (16). Allah bertujuan agar orang Mesir, termasuk Firaun tentunya, tahu bahwa Allah Israel adalah Tuhan (18).
Benar saja, Allah bekerja secara ajaib melawan Mesir. Ia membuat tentara Mesir mengalami masalah (24-25) sampai bangsa Israel berhasil menyeberangi Laut Teberau. Waktu tentara Mesir memaksakan diri untuk mengejar orang Israel, Tuhan membuat air Laut Teberau melanda mereka hingga binasa (26-28, 30).
Peristiwa Laut Teberau menjadi titik balik dalam sejarah Israel. Bila sebelumnya mereka berada di bawah kuasa Mesir, saat itu mereka menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan menyingkirkan orang Mesir dari kehidupan mereka. Matinya tentara Mesir merupakan konfirmasi bahwa kelepasan mereka dari Mesir sungguh nyata. Mereka tidak perlu lagi merasa tertekan karena bangsa lain menindas mereka. Identitas mereka sebagai bangsa, terutama sebagai bangsa pilihan Allah, telah dipulihkan oleh Allah yang memilih mereka.
Mukjizat terbelahnya Laut Teberau tampak merupakan jawaban atas pertanyaan Firaun di Keluaran 5:2 “Siapakah Tuhan itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku Tuhan itu...”. Tuhan telah menunjukkan kuasa-Nya sehingga baik orang Israel, (31) maupun orang Mesir, atau siapapun akan mengetahui kedahsyatan Allah Israel.
Allah memang tidak tinggal diam ketika umat-Nya bergumul dengan masalah. Dilepaskannya kita dari krisis atau pencobaan akan merupakan kesaksian tentang kuasa Allah yang membuat kita semakin percaya kepada Dia. Maka berserulah kepada Allah bila Anda sedang bergumul dengan masalah. Minta Dia menolong Anda.
17 Juni 2013
TUHAN PASTI MENYELAMATKAN
Kuldesak adalah sebuah kata serapan yang bermakna jalan buntu atau tertutup. Di dalam nas hari ini, Israel seolah berada di kuldesak. Firaun, yang sebelumnya mengizinkan mereka pergi, kemudian berubah pikiran. Padahal sebelumnya ia menyuruh Musa untuk membawa rakyat Israel sekaligus hewan ternak mereka untuk keluar dari Mesir (Kel. 12:31-32) setelah Mesir mengalami serangkaian tragedi memilukan. Mungkin Firaun telah melupakan ratap tangis yang bergema di seluruh negeri akibat setiap rumah tangga kehilangan anak sulung mereka.
Akan tetapi setelah bangsa Israel pergi, Firaun menyesali keputusannya lalu mengejar mereka dengan membawa pasukan perang (6-8). Tentu saja kecepatan kereta perang tak sebanding dengan kecepatan orang berjalan. Maka dalam waktu yang tidak lama, pasukan Mesir berhasil menyusul orang Israel (9-10). Tidak ada jalan keluar bagi Israel, kecuali melalui jalan dari mana mereka datang sebelumnya. Namun tentu saja tentara Mesir telah menguasai jalan itu.
Bagai dikejar anjing galak, Israel mulai ketakutan dan berseru kepada Tuhan. Mereka juga protes kepada Musa yang dianggap telah mengganggu ketenangan hidup serta membahayakan nyawa mereka (11-12). Ketakutan orang Israel dapat dimaklumi, tetapi perkataan mereka menunjukkan kurangnya iman kepada Tuhan.
Bila Anda di tempat Musa, bagaimana perasaan Anda? Tentu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin Musa sendiri tidak mengerti kenapa Tuhan menempatkan mereka dalam situasi demikian. Namun ia tahu bahwa Tuhan pasti menyelamatkan umat-Nya dan mengalahkan musuh-Nya (13-14).
Ada masalah atau situasi dalam hidup yang dapat membuat kita panik karena merasa tidak ada jalan keluar. Kita ketakutan karena terdesak. Namun ingatlah bahwa kepanikan serta ketakutan dapat melemahkan harapan dan iman kita sehingga bisa mendorong kita melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Seperti Musa, marilah kita belajar untuk menaruh iman dan harap penuh hanya kepada Allah yang tidak akan pernah meninggalkan kita.
16 Juni 2013
MUDAH BERSUNGUT-SUNGUT
Padang gurun memang bukan tempat yang nyaman. Siang hari, kering dan terik, dan haus. Di malam hari, dinginnya menusuk tulang. Namun, Israel mampu menjalani hidup di padang gurun 40 tahun, sampai alih generasi, tanpa berkekurangan suatu apa pun (Ul. 29:5). Di padang gurun, penyertaan Tuhan sangat nyata. Tiang awan dan tiang api menyertai mereka (Kel. 13:21-22). Mata air yang memuaskan dahaga, serta manna sebagai makanan pokok mereka, jelas berasal dari Tuhan. Burung puyuh yang ditiupkan Tuhan secara berkala ke perkemahan Israel adalah bukti pemeliharaan Tuhan. Di perjalanan yang gersang dan sulit itu, hadirat Tuhan jauh lebih nyata dibandingkan saat mereka menetap di tanah perjanjian.
Toh, kehadiran Tuhan yang begitu nyata tidak membuat mereka berpuas hati. Bilangan 14:22 menuliskan bahwa Allah mencatat mereka memberontak 10 kali. Cukuplah Allah bersabar terhadap sikap tak tahu bersyukur Israel. Ia harus menghukum mereka keras (15)!
Di antara pemberontakan itu, ada yang sangat serius, seperti memberontak kepada pemimpin mereka, Musa dan Harun (16), menyembah lembu emas (19-20), menolak masuk ke negeri perjanjian (24-25), menyembah baal peor (28-29). Ada pula yang sepertinya sepele, bersungut-sungut karena makanan (14). Namun sebenarnya sama seriusnya karena ketidakpercayaan mereka kepada Tuhan. Penghukuman Tuhan pantas dan adil. Namun, penghukuman itu bukan untuk menghancurkan mereka melainkan agar bertobat dan tidak bersungut-sungut lagi.
Berapa kali dalam hidupmu Anda bersungut-sungut kepada Tuhan? Tidak puas dengan cara Tuhan mengelola hidup Anda? Anda bahkan sering memilih jalan sendiri yang jelas-jelas melawan kehendak-Nya? Jangan sampai Dia harus menghajar Anda, baru kapok dan bertobat. Belajar dari Israel. Belajarlah mengucap syukur karena Dia mengasihi Anda.
15 Juni 2013
TUNTUTAN DAN PENYERTAAN
Setelah berada dalam bayang-bayang Mesir ratusan tahun lamanya, Israel akan menjadi bangsa yang merdeka. Bukan karena perjuangan mereka sendiri, melainkan karena kuat kuasa Allah yang beranugerah.
Kepada bangsa yang baru merdeka itu, Allah memberikan aturan mengenai anak sulung (1-2, 11-16), roti tidak beragi (3-7), dan perintah untuk memperingati karya Allah (8-10).
Anak sulung, baik anak sulung manusia maupun hewan, harus dikuduskan bagi Allah karena anak sulung adalah milik Allah (bdk. Kel. 4:22). Anak sulung dianggap sebagai yang terbaik dan yang terbaik layak dipersembahkan kepada Allah. Dan ini akan dilakukan Israel setelah mereka memasuki Tanah Perjanjian (5, 11-12), sebagai peringatan akan karya Allah dalam membebaskan Israel dari perbudakan Mesir sebagaimana peringatan Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi (bdk. Kel. 12:14-15). Maka peringatan akan karya Allah tersebut harus dilakukan dengan makan roti yang tidak beragi selama tujuh hari (7). Dalam peringatan ini, orang tua Israel harus memberitahu anak laki-laki mereka tentang makna peringatan itu (8, 14-16). Tentu ini bertujuan agar generasi yang lahir kemudian tetap mengenal Allah dan karya-Nya yang besar.
Bila untuk masa yang akan datang Allah telah menyatakan pengarahan-Nya maka untuk masa yang sedang berlangsung pun Allah menunjukkan penyertaan-Nya. Allah memahami benar kondisi psikologis bangsa Israel saat itu serta bahaya yang akan menghadang mereka. Karena itu Allah menuntun Israel melalui jalan lain meskipun mereka berjalan dalam kondisi siap berperang (17-18). Hal yang sama juga terjadi dalam perjalanan kita bersama Allah. Jalan yang kita rasa benar mungkin justru merupakan jalan yang penuh bahaya yang tidak terpikirkan oleh kita. Namun Allah tidak akan membiarkan kita. Ia niscaya melindungi kita. Seperti adanya tiang awan dan tiang api (21-22) yang menggambarkan jaminan penyertaan penuh atas umat, kita pun akan menikmati penyertaan yang juga penuh asal kita mau tunduk pada Allah.
14 Juni 2013
MEMPERINGATI HARI TUHAN
Perjamuan Paskah hanya berlaku bagi umat Israel karena sebagai keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub, merekalah yang berhak menerima janji-janji Allah.
Nas hari ini berisi ketentuan tambahan mengenai perayaan Paskah yang harus dilakukan di rumah masing-masing dan tidak boleh ada makanan yang dibawa ke luar rumah (46). Lalu bagaimana jika ada orang asing di tengah-tengah mereka? Tuhan memberi ketentuan bahwa para pendatang dan orang upahan tidak diperbolehkan ikut makan Paskah (45). Namun budak belian serta orang asing yang telah lama menetap dan ingin merayakan Paskah bersama orang Israel diperbolehkan ikut merayakan Paskah dengan syarat disunat terlebih dahulu (48). Karena setiap orang yang ingin ambil bagian dalam perayaan Paskah harus terlebih dahulu menjadikan dirinya sebagai bagian dari bangsa Israel.
Sunat memang menjadi semacam identitas bagi orang Israel. Setiap laki-laki Israel berkewajiban untuk disunat karena sunat merupakan tanda iman terhadap perjanjian Allah, seperti yang telah dinyatakan kepada Abraham, nenek moyang bangsa Israel. Maka setiap orang yang menyatakan diri sebagai bagian dari umat Israel harus merayakan Paskah dan setiap orang yang ingin merayakan Paskah harus memastikan diri sudah disunat. Peraturan mengenai sunat, dalam kaitannya dengan peringatan Paskah tersebut, dinyatakan karena yang keluar dari Mesir ternyata bukan orang Israel saja. Ada banyak orang dari berbagai-bagai bangsa di dalam rombongan itu (Kel. 12:38).
Di dalam kekristenan pun, ada perayaan atau peringatan atas karya Tuhan di masa lampau, yang menjadi bagian dari sejarah kekristenan. Walau sudah menjadi bagian dari masa lalu, peristiwa-peristiwa tersebut tetap harus diperingati atau dirayakan sebagai bahan pengetahuan dan ingatan bagi setiap generasi, agar mereka tidak melupakan dan meninggalkan Allah. Melalui peringatan atas karya Tuhan, setiap generasi dapat tetap mengenal serta menyembah Allah yang hidup dan berkuasa.
13 Juni 2013
KUAT KUASA ALLAH
Bayangkan jika kita memiliki anak sulung yang tiba-tiba meninggal dunia tanpa sebab, tentu kita akan sangat terkejut dan bukan tidak mungkin menjadi histeris. Inilah yang terjadi ketika Tuhan menjatuhkan tulah yang terakhir bagi orang Mesir. Semua anak sulung, yang menjadi harapan dan kebanggaan keluarga, tiba-tiba meninggal dunia. Jelas peristiwa ini mengejutkan semua orang Mesir dan membuat mereka mengusir orang Israel agar tidak ada lagi sesuatu yang buruk menimpa mereka lagi (33). Itu sebabnya bangsa Israel bergegas meninggalkan Mesir dengan membawa persediaan makanan serta berbagai barang berharga pemberian orang Mesir (34-36).
Akhirnya Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian yang telah ditetapkan Tuhan bagi mereka. Ada sekitar enam ratus ribu laki-laki dewasa (belum termasuk anak-anak dan perempuan), orang asing, serta ternak (37-38). Rentetan kejadian ini digambarkan berlangsung cepat dan semua dilakukan berdasarkan perintah Tuhan yang disampaikan melalui Musa dan Harun.
Tuhan menggerakkan hati orang Mesir menjadi sangat bermurah hati untuk memberikan harta benda mereka kepada Israel sesuai permintaan (35-36). Sampai kemudian disebutkan bahwa Tuhan sendiri berjaga-jaga pada malam keluarnya bangsa Israel dari Mesir (42). Sungguh nyata kuasa Allah karena janji-Nya untuk membebaskan Israel digenapi, setelah mereka terkungkung di bawah kekuasaan pemerintahan Mesir selama empat ratus tiga puluh tahun (40-41). Sungguh sebuah momen yang luar biasa dan patut untuk diingat sepanjang masa. Kalau bukan karena Tuhan, bagaimana mungkin Israel sanggup melepaskan diri dari belenggu yang telah mengikat mereka selama kurun waktu yang sangat panjang.
Betapa Allah tidak tinggal diam menyaksikan kehidupan umat yang Dia kasihi, Ia campur tangan dan menunjukkan kuat kuasa-Nya. Maka bila Anda merasakan sebuah tekanan berat melanda hidup atau ada “belenggu” yang begitu kuat mengikat Anda, mintalah pertolongan-Nya, mintalah Ia menunjukkan kuat kuasa-Nya.
12 Juni 2013
INGATLAH KASIH TUHAN
Biasanya orang merayakan hari ulang tahun dengan makan bersama keluarga, sahabat, kekasih, atau yang lainnya. Perayaan itu dilakukan untuk mengingat peristiwa luar biasa yang pernah dialami dalam kehidupannya.
Nas hari ini berkisah tentang perayaan Paskah yang dilakukan oleh Israel atas perintah Tuhan. Sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan atas Mesir, Tuhan memerintahkan Israel untuk menyembelih anak domba dan memakannya bersama dengan roti yang tidak beragi. Perayaan Paskah ini dilakukan sebagai ucapan syukur atas perbuatan Tuhan bagi Israel, yang akan membebaskan mereka dari Mesir. Kekuasaan Tuhan yang luar biasa ini telah disaksikan oleh Israel, mulai dari tulah yang pertama sampai tulah kesembilan. Peringatan ini merupakan peringatan baru dalam kehidupan orang Israel. Namun demikian, peringatan ini harus dilakukan terus-menerus agar nantinya keturunan Israel senantiasa mengingat kuasa Tuhan yang telah mengeluarkan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Jadi Perayaan Paskah merupakan peringatan tentang kuasa Tuhan dalam kehidupan orang Israel.
Di dalam kekristenan pun, ada perayaan-perayaan hari keagamaan yang dilakukan untuk memperingati suatu peristiwa tertentu dalam sejarah kekristenan. Namun sebaiknya peringatan akan kebaikan Tuhan bukan hanya terjadi pada hari-hari raya Kristen saja, melainkan harus menjadi aktivitas sehari-hari dalam kehidupan umat Tuhan. Kita diminta untuk terus mengingat kebaikan Tuhan agar kita dapat terus mengucap syukur oleh karena berkat dan pemeliharaan Tuhan nyata dalam hidup kita. Berkat dan pemeliharaan Tuhanlah yang membuat kita dapat hidup sampai sekarang. Pemazmur mengungkapkan ucapan syukurnya dalam puji-pujian kepada Tuhan, “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm. 118:1).
Dengan demikian tak ada alasan untuk tidak mengingat kasih Tuhan dan mengucap syukur atasnya. Maka pertanyaannya, sudahkah kita mengingat kasih Tuhan dan mengucap syukur atasnya?
11 Juni 2013
JANGAN MELAWAN ALLAH
Babak akhir dari penderitaan Mesir dan Israel akan segera usai. Mesir akan menghadapi tulah terakhir -karena sesudah itu tidak akan ada tulah lagi- dan Israel akan segera keluar dari Mesir. Namun tulah terakhir itu akan mengakibatkan Mesir mengalami penderitaan yang sangat hebat, melebihi penderitaan saat menghadapi tulah-tulah sebelumnya.
Puncak dari karya ajaib Tuhan di Mesir adalah kematian semua anak sulung orang Mesir.
Tidak ada pengecualian. Anak sulung Firaun bahkan anak sulung hewan mereka akan mati (5). Pada saat itu, ratap tangis akan terdengar di seluruh tanah Mesir karena meninggalnya semua anak sulung secara tiba-tiba. Meski Firaun masih belum bisa diyakinkan, para pegawai Firaun yang khawatir bila situasi akan semakin runyam, mendesak Musa untuk membawa seluruh orang Israel keluar dari Mesir. Dalam situasi demikian, orang Mesir akan dengan senang hati memberikan harta mereka yang diminta oleh orang Israel (2-3), yang mungkin akan digunakan sebagai bekal perjalanan, asal saja orang Israel segera angkat kaki dari negeri mereka.
Melalui tulah ini, Firaun serta orang Mesir dapat melihat bahwa Allah berkuasa atas Mesir dan allahnya. Termasuk Firaun dan putra mahkotanya, yang dianggap sebagai allah. Perlawanan kepada Allah Israel, apa lagi yang dilakukan terus menerus, akan membuat keadaan semakin parah dan mendatangkan penghukuman yang mengerikan. Dengan kematian sang putra mahkota nantinya akan jelas bagi Firaun dan rakyat Mesir bahwa kemenangan dan kekuasaan mutlak ada pada Allah Israel.
Bila kita ingin mengalami kuasa Allah, tentu yang kita harapkan adalah kuasa Allah atas penyakit atau penderitaan yang kita alami. Kita tentu tidak ingin mengalami kuasa Allah yang justru memunculkan masalah sebagai hukuman akibat murka-Nya oleh karena pembangkangan kita. Maka bila masalah atau penderitaan datang silih berganti, cobalah peka, siapa tahu Tuhan sedang ingin menegur kita karena terus menerus melawan Dia. Jika memang demikian yang terjadi, memohon ampun dan bertobat merupakan jalan terbaik.
10 Juni 2013
JANGAN SPERTI FIRAUN
Sebagaimana di belahan dunia lain, di Mesir belalang pun merupakan sebuah ancaman. Atas kehendak Tuhan, angin timur melintasi Mesir dan mendatangkan belalang dalam jumlah tak terbilang banyaknya hingga menutupi tanah. Alkitab mencatat bahwa belalang sebanyak itu belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan ada lagi sesudahnya (14). Belalang itu memenuhi rumah semua orang Mesir (6), tetapi belalang itu tidak menghampiri tanah Gosyen. Belalang-belalang itu memakan habis sisa-sisa pohon dan tanaman yang hancur karena hujan es (5, 15). Allah kembali membuktikan kedahsyatan kuasa-Nya yang melampaui kuasa dewa Mesir.
Para pegawai Firaun semakin menyadari kemahakuasaan Allah Israel. Desakan mereka kepada Firaun jelas menggambarkan rasa takut mereka bila kuasa Allah Israel melanda mereka lebih hebat lagi (7). Namun Firaun masih belum berlapang dada untuk membiarkan orang Israel pergi. Ia masih ingin tawar menawar dengan Allah dan Musa. Ia mau saja membiarkan laki-laki bangsa Israel pergi ke padang belantara untuk beribadah, tetapi anak-anak dan kaum perempuan harus tinggal di Mesir (11). Tentu saja Musa menolak tawaran ini. Firaun kemudian mengakui dosanya dan memohon pengampunan (16-17). Namun ketika belalang telah dihalau dari tanah Mesir, Firaun kembali mengeraskan hatinya (20) dan tidak mau mengikuti kehendak Allah sepenuhnya (24). Konsekuensinya, tulah kesembilan dijatuhkan atas mereka, dan kegelapan pun meliputi tanah Mesir (22).
Bagaimana perasaan kita setelah membaca kisah Firaun? Gemas, geram, atau kesal? Namun tahukah kita, bahwa sebenarnya kita pun tak jauh beda. Tak mau berserah penuh dan tawar menawar dengan Allah bukan “penyakit” Firaun saja. Kita pun kadang-kadang demikian, ingin setengah berserah atau melakukan separuh kewajiban saja. Namun di sisi lain, kita berdoa tak henti agar Tuhan menjawab doa dan memenuhi segala permintaan kita. Bukankah ini sama dengan Firaun? Kiranya firman Tuhan membuat kita bercermin, mengakui dosa, lalu bertobat.
9 Juni 2013
TERLALU BEBAL UNTUK MENGUCAP SYUKUR
Mazmur 106 mulai dengan ajakan untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena Dia baik, dan penuh kasih setia (1).Namun, isi mazmur ini justru ‘pengakuan dosa’ (6-46). Bahwa dalam perjalanan sejarah umat Tuhan, saat mengalami kasih setia Tuhan, mereka melupakan kebaikan Tuhan, sehingga memberontak, bersungut-sungut dan menolak-Nya (7, 13-14, 24-25, 28-29, 34-39, 43).
Rasa syukur umat sangat tipis. Betapa mereka tidak cepat menyadari dan mengakui kebesaran-Nya (2). Permohonan pemazmur ialah agar mereka diberi kepekaan untuk melihat dan menyadari kebaikan-Nya di tengah-tengah mereka (4-5) sehingga mereka pun hidup sesuai dengan hukum Tuhan (3).
Catatan pemberontakan ini bertujuan agar umat menyadari kasih setia Tuhan yang melampaui kebebalan mereka. Paparan sejarah bisa dibagi tiga bagian. Permulaan mereka ditebus dari perbudakan Mesir (6-12); perjalanan di padang gurun (13-33); penaklukan dan pendudukan tanah Kanaan (34-46). Mazmur ini ditutup dengan permohonan agar mereka dapat belajar bersyukur (47) dan ajakan kepada seluruh umat untuk memuji Tuhan (48).
Kebebalan umat Tuhan, terlihat mencolok. Baru saja mengalami kebaikan dan keperkasaan-Nya yang membebaskan mereka dari Mesir. Namun, di tepi laut Teberau, saat dikejar pasukan Firaun, Israel ketakutan dan memberontak terhadap Tuhan (7; Kel. 14:10-12). Tuhan tetap setia. Laut Teberau terbelah.Umat Israel menyeberang selamat, sementara pasukan Firaun tenggelam di dalamnya (11). Pujian kepada Tuhan pun membahana (12; Kel. 15:1-21).
Inilah penyakit yang sering diderita anak-anak Tuhan, lupa anugerah Tuhan. Saat masalah datang, kita bersungut-sungut dan melawan Tuhan. Syukur, Tuhan tetap mengasihi dan setia kepada kita. Marilah, kita belajar tidak melupakan kebaikan-Nya dan belajar untuk terus menerus mengucap syukur!
8 Juni 2013
JANGAN KERASKAN HATI!
Tulah demi tulah yang dijatuhkan atas Mesir bukan semata-mata dimaksudkan agar Firaun dan rakyat Mesir menderita. Kalaupun mereka jadi menderita karena datangnya tulah-tulah tersebut, bukan penderitaan itu yang menjadi tujuan akhir.
Sebelum menjatuhkan tulah yang ketujuh, Allah terlebih dahulu memerintahkan Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun (13-21). Sesudah itu, Tuhan mengirimkan hujan es yang sangat dahsyat (18) disertai dengan guruh (23) dan kilat (24) yang menyambar-nyambar ke bumi. Tuhan menyebutkan bahwa kedahsyatan hujan es ini belum pernah terjadi sejak Mesir dijadikan (18). Sungguh tak terbayangkan!
Kedahsyatan tulah itu dimaksudkan agar Firaun secara pribadi mengenal kedahsyatan kuasa Allah (14) dan supaya seluruh dunia mengetahuinya juga (16; bdk. Rm. 9:17). Namun pertobatan Firaun begitu dangkal. Ia memang mengetahui kesalahan dan kecurangan yang dia lakukan, tetapi ia tetap tidak mau bertobat (27). Ia belum mau percaya sepenuhnya bahwa Allah itu berkuasa dan berdaulat (29). Takut akan Allah berarti tunduk dalam penyerahan kepada Dia, yang berkuasa atas alam semesta (30).
Mengetahui tentang Allah dan mengalami kuasa-Nya ternyata tidak serta merta membuat Firaun membuka mata dan hatinya untuk segera bertobat. Bahkan mengalami sendiri penyataan kuat kuasa tangan Allah tidak membuat Firaun beranjak dari kedegilannya. Ia tetap mengeraskan hati dan tidak mau berubah sikap. Jadi yang penting dari sebuah pertobatan bukanlah pengalaman atau pertemuan orang orang dengan Allah, melainkan adanya kemauan orang untuk bertobat.
Kisah Firaun yang mengeraskan hati menjadi peringatan bagi kita, jika kita tahu bahwa Allah itu benar dan berkuasa, tetapi kita tak kunjung meninggalkan dosa maka kita patut waspada. Jangan sampai Tuhan menunjukkan kuasa-Nya yang lebih besar lagi kepada kita. Karena jika demikian, bisa-bisa kita celaka. Sebelum itu terjadi, lebih baik kita mengakui segala dosa kita dan memohon pengampunan-Nya.
7 Juni 2013
MENGERASKAN HATI
Tulah sampar menyerang ternak-ternak bangsa Mesir (3). Akibatnya, Mesir tidak memiliki ternak untuk dimakan atau dipekerjakan. Namun Allah menjauhkan penyakit itu dari bangsa Israel. Allah melindungi umat-Nya dari kesulitan mendapat makanan dan bekerja. Meski demikian, Firaun tidak juga melembutkan hati. Mungkin karena tetap tersedia makanan di lumbung istananya, bagi seluruh penghuni istana. Ini berarti Firaun tidak menggubris penderitaan rakyatnya karena Ia tetap mengeraskan hati terhadap peringatan Tuhan tersebut (7).
Belum usai penderitaan rakyat Mesir, tulah barah merebak di seluruh negeri (10-11). Barah itu berasal dari debu jelaga dapur yang dihamburkan ke udara di depan Firaun, dan kemudian menjangkiti manusia dan hewan di Mesir. Bagaimana dengan para ahli Mesir? Jangankan meniru untuk membuat barah yang sama, untuk dapat tetap berdiri di hadapan Musa saja mereka tidak sanggup (11). Barah itu juga menjangkiti mereka dan mereka tidak sanggup menangkalnya. Pada saat itu baik para ahli Mesir maupun seluruh rakyat Mesir dapat melihat bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat melawan Allah Israel. Bahkan allah Mesir sekalipun tidak dapat menahan Allah Israel saat Ia menunjukkan kuasa-Nya.
Lalu bagaimana respons Firaun, sang allah Mesir, menyaksikan tulah yang semakin parah? Mulai dari tulah pertama sampai tulah keenam disebutkan bahwa Firaun berkeras hati setelah ia menyaksikan tulah-tulah tersebut. Seolah ia tidak peduli pada dampak tulah-tulah yang menimpa diri dan rakyatnya. Seolah juga ia memandang enteng tulah-tulah yang jatuh atas bangsanya, atau lebih jauh lagi ia memandang enteng pada Allah yang mendatangkan tulah-tulah tersebut. Namun setelah serangkaian tulah -mulai dari tulah kesatu sampai tulah yang keenam ini- untuk pertama kalinya disebutkan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun (12).
Ini pelajaran berharga tetapi juga pernyataan keras! Siapa mengeraskan hati terhadap teguran Allah, siap-siap menghadapi hukuman-Nya yang juga keras! Karena itu mari peka pada suara dan teguran Tuhan.
6 Juni 2013
PERLINDUNGAN ALLAH
Pada tulah pertama dan kedua, Allah menyuruh Musa untuk memberi tahu Firaun mengenai tulah yang akan dijatuhkan. Tulah ketiga terjadi setelah Harun memukulkan tongkatnya ke debu tanah (18). Berbeda dari tulah pertama dan kedua, tulah ketiga tidak bisa dibuat dengan mantera-mantera para ahli Mesir. Sebab itu mereka mengakui, “Inilah tangan Allah” (19). Namun Firaun tetap tidak mau tahu.
Namun pada tulah keempat, para ahli Mesir itu tidak muncul lagi. Dan pada tulah keempat ini, Allah mengecualikan umat-Nya agar tidak terkena tulah (22-23). Tulah keempat ini menyebabkan Firaun mulai memberi ‘izin’ kepada Israel untuk beribadah, tentu saja dengan catatan “hanya boleh dilakukan di dalam wilayah Mesir”. Bagi Musa, izin ini seolah basa basi saja karena orang Mesir tidak menyukai cara ibadah Israel sehingga bisa-bisa orang Israel dilempari batu.
Namun, Allah melindungi mereka dengan membuat Musa dapat menjawab bijaksana (26). Sekali lagi, Firaun memohon belas kasihan Musa agar terbebaskan dari tulah lalat pikat. Allah mendengar permohonan Musa untuk membebaskan Mesir dari tulah keempat tsb.
Firaun sedang bermain api dengan Tuhan. Jika ahli mantera sudah merasa kalah dari Allah sehingga terucap pujian bagi Allah, Firaun belum kapok. Dia mencoba mengulur-ngulur waktu. Pembebasan yang harusnya diberikan ditunda-tunda. Ia mengeraskan hati padahal dia sudah tahu betapa hebat dan dahsyatnya Allah Israel. Firaun mencoba mencurangi Israel, tetapi Allah melindungi umat-Nya.
Kita sering membaca di media massa betapa banyaknya umat Tuhan di Indonesia mengalami penderitaan. Pelakunya mencoba bermain api dengan Allah. Mereka tidak sadar betapa Allah sayang umat-Nya dan tak mungkin membiarkan umat mengalami pencobaan melebihi kekuatan mereka. Allah melindungi umat-Nya. Perlindungan-Nya melegakan hati. Menyadari perlindungan Allah terhadap kita, seyogianya hidup kita semakin dekat dan memautkan hati kita hanya kepada Allah. Hidup ini benar-benar anugerah, Allah menjagai anugerah yang Ia curahkan kepada kita.
5 Juni 2013
ALLAH MAHAKUASA
Firaun tidak mengenal Allah Israel maka dia punya cukup alasan untuk menolak permintaan Musa dan Harun, seperti yang difirmankan Tuhan. Ia mengeraskan hati terhadap perkataan Tuhan yang Musa sampaikan. Setelah berulang kali menghadap Firaun, Musa tetap ditolak. Maka tiba saatnya Tuhan bertindak dengan kuasa-Nya. Tuhan akan menghukum Mesir dan Firaun dengan tulah.
Tulah pertama adalah air menjadi darah. Saat Firaun sedang berada di tepi sungai Nil, Musa menunjukkan kuasa hukuman Tuhan.
Sungai Nil yang merupakan sungai suci bagi orang Mesir tiba-tiba berubah menjadi darah hanya dengan pukulan tongkat Musa. Ikan-ikan jadi mati. Orang Mesir tidak dapat meminum air sungai itu. Bau busuk ada di mana-mana. Air darah juga ada di mana-mana, bahkan di wadah kayu dan batu. Itulah kuasa Tuhan. Namun, Firaun tetap mengeraskan hati karena para ahli Mesir dapat juga membuat hal yang sama (22).
Tulah kedua, yaitu katak yang muncul di mana-mana. Jumlahnya tak terkirakan dan memenuhi seluruh ruang di Mesir. Lebih buruk lagi, ahli-ahli Mesir dengan manteranya menambah jumlah katak yang bermunculan. Lalu Firaun memanggil Musa untuk berdoa agar Tuhan menghilangkan katak-katak dari bumi Mesir. Walaupun permintaan Firaun didengar. Ternyata kembali Firaun mengeraskan hati tidak mau melepaskan Israel.
Dari dua tulah itu, Musa dan Firaun belajar tentang kuasa Allah yang tak tertandingi. Ia dapat mengubah air menjadi darah dan memerintahkan katak-katak keluar dari persembunyiannya. Meski Firaun mempunyai ahli-ahli untuk membuat hal yang sama, tetapi mereka tidak dapat membuat segala sesuatu kembali seperti semula.
Jelas bahwa Allah Israel -yang juga adalah Allah kita- lebih besar kuasa-Nya daripada segala ahli sihir, ahli nujum, dan orang-orang sakti lainnya, baik yang ada di Mesir maupun yang ada di seluruh penjuru dunia ini. Karena itu, jangan pernah berpaling dari Allah kepada orang-orang yang mengaku atau diakui sakti. Mungkin saja mereka memiliki kuasa, tetapi Allah kita jelas Mahakuasa.
4 Juni 2013
TUHAN YANG BERDAULAT
Seperti yang telah kita lihat dalam Keluaran 6:5-7, Allah akan menyatakan diri sebagai Tuhan/Yahweh melalui peristiwa Keluaran. Maka Ia berkata bahwa “Aku akan mengeraskan hati Firaun”. Untuk itu Ia akan memperbanyak tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan di tanah Mesir, supaya Ia mengeluarkan umat-Nya dari Mesir dengan menjatuhkan hukuman yang berat terhadap Mesir (3-4).
Pernyataan “Aku akan mengeraskan hati Firaun” tentu menimbulkan pertanyaan, “Apakah berarti Firaun sebenarnya berhati lembut, tetapi Tuhan mengeraskan hatinya?” Tentu tidak. Pernyataan itu berarti Tuhan membiarkan Firaun terus mengeraskan hati sehingga akhirnya sepuluh tulah dijatuhkan atas Mesir. Ini dapat kita lihat dari bagian lain yang menyatakan bahwa “hati Firaun berkeras” (7:13) atau “Ia tetap berkeras hati” (Kel. 8:15). Namun mengapa menyatakan bahwa Tuhan akan mengeraskan hati Firaun? Pertama, pernyataan ini mau menekankan kedaulatan Tuhan, bahwa sesuatu hanya dapat terjadi karena Allah yang memutuskan hal itu.
Kedua, pernyataan mengeraskan hati Firaun harus dimengerti sebagai tindakan Allah menghukum Firaun yang telah lebih dahulu mengeraskan hatinya. Dan kerasnya hati Firaun terus berlanjut, seperti yang dipaparkan pada waktu tulah demi tulah terjadi satu per satu. Perhatikanlah keterangan tentang kerasnya hati Firaun di setiap akhir tulah. Prinsip yang sama dijelaskan oleh Paulus dalam Roma 1:24-32, Allah menyerahkan orang berdosa pada keberdosaan mereka sebagai hukuman-Nya kepada mereka.
Firaun berkeras hati dan Allah hanya membiarkan Firaun mengeraskan hatinya supaya maksud Allah dapat tercapai, yaitu menghukum orang Mesir dan allah-allah mereka karena kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Israel.
Allah berdaulat memakai dosa manusia sebagai penghukuman atas orang yang berdosa itu. Oleh karena itu, jangan keraskan hati saat kita ditegur karena dosa kita. Cepat bertobat agar kita segera menerima pengampunan-Nya.
3 Juni 2013
PENTINGNYA KELUARGA BAGI TUHAN
Dalam pelayanan kepada Tuhan, bukan hanya diri kita yang penting, tetapi keluarga kita pun penting bagi Tuhan. Ini dapat dilihat dalam nas hari ini, keluarga orang yang melayani Tuhan dicatat dengan mendetail.
Dalam nas hari ini, kita melihat ketidakimbangan antara silsilah suku Lewi dengan yang lain karena dipaparkan dengan lebih mendetail. Perhatikanlah, hanya orang-orang yang terdapat dalam daftar Lewi saja yang disebutkan umurnya (15, 17, 19). Selain itu keturunan Lewi diberi catatan sampai lima generasi. Bandingkan dengan Ruben dan Simon yang diberi catatan hanya satu generasi.
Di antara suku Lewi, keturunan Harun lebih ditekankan. Misalnya, nama Harun didahulukan dari Musa (19); isteri Musa tidak disebut, tetapi isteri Harun disebut (22); hanya nama mertua Harun dan anaknya Eleazar yang disebut (22-24); hanya nama saudara ipar Harun yang dicatat (22); juga hanya nama keturunan Harun yang dicatat dan sampai generasi yang ketiga (22-24), sedangkan keturunan Musa sama sekali tidak dicatat. Dengan kata lain, dibandingkan suku lain, suku Lewi lebih ditekankan; di antara suku Lewi, Harun yang diutamakan; di antara keturunan Harun, Eleazar diutamakan; di antara keturunan Eleazar, Pinehas diutamakan. Jelas bahwa silsilah ini mengantisipasi keistimewaan suku Lewi yang akan dipakai melayani Tuhan; dari suku Lewi, keturunan Harun akan melayani sebagai imam; dari keturunan Harun, keturunan Eleazar menggantikan Harun menjadi imam besar (Bil. 20:28) dan dari keturunan Eleazar, Pinehas akan menggantikan Eleazar (Hak. 20:28).
Perhatikan bagaimana Alkitab memperhatikan keluarga sebagai suatu keutuhan. Alkitab juga memperhatikan anggota orang-orang yang ada di dalam keluarga itu sebagai suatu pribadi yang utuh. Keluarga memang merupakan bagian penting dalam pelayanan kita karena keluarga punya peranan dalam hidup kita. Tak heran bila Tuhan juga mementingkan keluarga hamba-hamba-Nya. Karena itu kita harus menyadari pentingnya keluarga dan berusaha membina keluarga agar menjadi keluarga yang memuliakan Tuhan.
2 Juni 2013
BERSYUKUR UNTUK JANJI YANG DIGENAPI
Kisah Keluaran di kitab Keluaran merupakan kisah dramatis penyelamatan umat Israel oleh Allah melalui Musa dan Harun.Melalui serangkaian tulah yang dijatuhkan kepada Firaun Mesir, Israel terbebas dari perbudakan Mesir. Kisah ini merupakan dasar sejarah bagi Perjanjian Sinai antara Allah dengan umat-Nya. Allah berhak memimpin Israel dan Israel patut setia pada-Nya.
Karya Allah itulah yang dipaparkan kembali oleh pemazmur di ayat 23-45. Tujuan pemaparan itu jelas agar umat Tuhan di masa mendatang, tidak melupakan karya agung itu dan senantiasa mengucap syukur akan kebaikan Tuhan. Tuhan terus menuntun umat-Nya melalui padang belantara yang gersang. Di tempat itu, penyertaan Tuhan lebih terasa, yaitu berupa air minum dari batu-batu karang, maupun oase-oase yang memelihara hidup mereka (41). Perlindungan-Nya juga nyata ketika bangsa musuh yang mencoba menghalangi mereka diporakporandakan Tuhan. Israel pun dibimbing masuk ke tanah pusaka (44). Tanah itu dahulu sudah diolah oleh bangsa-bangsa sebelumnya, sehingga Israel tinggal menikmatinya, dan meneruskan pengelolaannya.Janji-Nya kepada Abraham, tergenapi sudah (10-11; 42).
Dari karya-Nya Israel belajar bahwa Dia adalah Allah satu-satunya, melampaui segala ilah yang disembah baik oleh Mesir, maupun bangsa-bangsa lain. Dia Allah yang memelihara umat-Nya. Padang gurun menjadi saksi bahwa Allah adalah sumber hidup yang segar dan berkecukupan bagi umat-Nya.
Apakah Anda saat ini sedang ada di padang gurun kehidupan yang gersang dan sejauh mata memandang tak ada tanda-tanda kehidupan? Ingat kembali karya-Nya melepaskan Anda dari perbudakan dosa. Ingat kembali janji penyertaan-Nya di mana pun Anda berada. Hayati dan rasakan penyertaan-Nya di perjalanan padang gurun Anda. Ingat, satu kali kelak Anda akan masuk ke negeri perjanjian yang permai. Maka bersyukurlah!
1 Juni 2013
SEMAKIN AKRAB DENGAN TUHAN
Alkitab sering memakai nama Allah yang berbeda untuk menekankan karakteristik Allah yang berbeda, yang dinyatakan melalui nama-nama yang berbeda. Dalam kitab Keluaran nama yang hendak dinyatakan adalah nama Yahweh (diterjemahkan dengan TUHAN atau ALLAH dalam LAI). Nama ini kita jumpai dalam pasal 3 ketika Musa bertanya siapa nama Allah, dan Allah menjawab bahwa namanya adalah Yahweh (TUHAN, Kel. 3:15), dan nama itu artinya “AKU ADALAH AKU” (Kel. 3:14). Perhatikan, Allah mengatakan bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai Allah yang Mahakuasa (terjemahan dari nama El-Shaddai), tetapi dengan nama TUHAN Ia belum menyatakan diri (2). Apakah Abraham, Ishak, dan Yakub belum tahu tentang nama TUHAN? Ternyata mereka sudah tahu, bahkan Abraham telah memanggil Allah dengan nama TUHAN (Kej. 12:8). Lalu apa arti pernyataan Allah ini?
Karena Abraham sudah tahu tentang nama TUHAN, berarti yang Allah maksud bukan bahwa nama tersebut tidak diketahui Abraham, tetapi bahwa Ia belum menyatakan arti nama itu. Arti nama TUHAN/Yahweh akan Ia nyatakan melalui tindakan-Nya dalam peristiwa Keluaran. Allah akan menunjukkan nama TUHAN dengan membebaskan orang Israel dari kerja paksa orang Mesir dan membawa mereka keluar dari Mesir ke tanah perjanjian (5-7).
Melalui semua itu, para ahli melihat bahwa jika nama Allah (terjemahan dari nama Elohim) menekankan Allah yang Mahakuasa, yang mencipta langit dan bumi, yang berkuasa atas bangsa-bangsa, maka nama Yahweh (TUHAN/ALLAH) menekankan bahwa Ia adalah Allah dari umat perjanjian-Nya, yang menyelamatkan dan memberikan Taurat kepada umat, seperti yang Allah lakukan dalam peristiwa Keluaran.
Dengan demikian tujuan dari peristiwa Keluaran adalah supaya umat mengenal Tuhan dengan akrab yang adalah Allah mereka, yang membebaskan mereka dari belenggu Mesir dan membawa mereka ke tanah perjanjian. Kiranya tujuan peristiwa Keluaran terjadi juga dalam hidup kita, yaitu semakin akrab dengan Tuhan, yang membebaskan kita dari dosa.
31 Mei 2013
PEPERANGAN ROHANI
Dalam dunia kuno, ketika dua bangsa bertempur maka yang terutama bertempur adalah allah-allah sesembahan bangsa itu. Maka kita perlu melihat bahwa pertempuran yang terjadi dalam kitab Keluaran adalah pertempuran antara Allah Israel dengan para allah Mesir.
Firaun merupakan salah satu allah Mesir dan karenanya tidak mengherankan bila Firaun menyombongkan diri dengan tidak mau mengenal dan mengakui Yahweh. Ia berkata “Siapakah TUHAN (terjemahan dari kata Yahweh) itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi” (2). Bahkan dengan murka Firaun kemudian memberi perintah agar pekerjaan orang Israel diperberat. Orang Israel disuruh membuat batu bata dalam kuota yang sama, tetapi pekerjaan mereka ditambah dengan harus mengumpulkan jerami sendiri (7-8). Orang Israel tentu saja tidak dapat memenuhi tuntutan Firaun. Akibatnya, mandur-mandur Israel kemudian dipukul oleh pengerah-pengerah Firaun (14).
Para mandur yang dipukul kemudian marah kepada Musa dan Harun setelah mengetahui bahwa semua ini terjadi sebagai akibat pertemuan Musa dan Harun dengan Firaun. Musa kemudian juga kesal kepada Tuhan dan mengeluh bahwa Tuhan tidak melepaskan umat-Nya dari penderitaan tersebut. Namun sesungguhnya semua itu ada dalam rencana Tuhan, karena memang Tuhan akan memaksa Firaun untuk membiarkan umat-Nya pergi dengan tangan yang kuat (24).
Dalam kehidupan iman kita pun selalu ada peperangan rohani. Namun Allah tidak akan menyelamatkan kita dengan bernegosiasi dengan Iblis dan pengikutnya. Kita tidak perlu berkeluh kesah atau bersungut-sungut karena Allah akan menyelamatkan kita dengan tangan-Nya yang kuat, yaitu dengan mengalahkan Iblis dan pengikutnya. Dengan demikian kita harus melihat bahwa kesulitan yang kita alami dalam hidup -terutama ketika kita mau taat kepada Tuhan- merupakan hal yang wajar dan pasti terjadi karena memang akan ada peperangan rohani ketika kita mau taat kepada Allah.
30 Mei 2013
DITUNTUT UNTUK TAAT
Tugas utama seorang hamba Tuhan adalah menaati perintah Tuhan. Tak heran jika di tengah kisah persiapan Musa untuk pergi ke Mesir, perjumpaan Musa dan Harun, serta pertemuan mereka dengan tua-tua di Mesir, kita diberikan suatu kisah yang menarik tentang murka Allah terhadap Musa karena ketidaktaatannya (24-26).
Dalam ayat 24-26, sesungguhnya naskah aslinya tidak memakai kata Musa, kecuali dalam ayat 25. Jadi ayat 24 menyatakan bahwa Tuhan bertemu dengan “dia” (tidak disebutkan “Musa” seperti terjemahan dalam LAI) dan berikhtiar membunuhnya. Begitu pula, ayat 26 seharusnya adalah “Lalu Tuhan membiarkan ‘dia’” [bukan ‘Musa’]. Jadi kurang jelas sebenarnya apakah Tuhan bermaksud membunuh Musa atau anak Musa yang belum disunat. Entahkah “dia” merujuk kepada Musa atau anaknya, kisah itu jelas menunjukkan bahwa murka Allah reda setelah Zipora menyunat anak itu.
Kita tidak tahu mengapa Musa tidak menyunat anak itu. Ini seharusnya merupakan anak kedua Musa (di ayat 20 dikatakan bahwa Musa membawa “anak-anaknya lelaki,” berarti lebih dari satu anak lelaki), yang mungkin belum lama dilahirkan sehingga belum disunat. Allah memang sudah memerintahkan Abraham untuk menyunat setiap anak laki-laki keturunan Abraham pada hari ke delapan (Kej. 17:12) dan sunat merupakan “tanda perjanjian” antara Allah dengan Abraham dan keturunannya. Karena Musa akan menjadi pemimpin umat Tuhan, maka dia harus menaati perintah Tuhan. Maka Allah menunjukkan murka yang begitu hebat karena pelanggaran sunat itu.
Pemimpin umat memang dituntut untuk taat kepada Allah. Jika pemimpin tidak taat, bagaimana mungkin dia mengarahkan umat untuk taat? Jika kita menjadi pemimpin rohani, dalam keluarga atau dalam pelayanan, milikilah hati yang taat jika kita mau dipakai untuk melayani Tuhan dengan efektif. Jika kita berada di bawah pimpinan, doakanlah orang yang memimpin kita -baik orang tua maupun pendeta atau majelis di gereja- agar mereka terlebih dahulu taat kepada Allah.
29 Mei 2013
TIDAK BOLEH DITOLAK
Tampaknya banyak paradoks dalam kehidupan Kristen yaitu hal-hal yang terlihat bertentangan, tetapi sesungguhnya tidak. Di satu pihak, kita harus sadar bahwa kita tidak layak dipakai Allah. Di pihak lain, kita harus menerima panggilan Allah dalam kesadaran bahwa kita tak layak.
Karena pengalaman pahitnya di masa lampau, saat saudara-saudaranya menolak kepemimpinannya (Kel. 2:14), Musa mati-matian menolak panggilan Tuhan untuk membawa umat-Nya keluar dari Mesir. Allah kemudian memberikan dua tanda, yaitu tongkat yang mejadi ular dan tangan yang menjadi putih oleh kusta. Tanda ini dapat dilakukan Musa saat orang Israel meragukan panggilan Allah terhadap Musa. Bahkan Allah juga menjanjikan bahwa jika orang Israel masih tidak percaya, maka dia dapat mengubah air dari sungai Nil menjadi darah untuk meyakinkan mereka. Namun Musa tetap tidak mau percaya, dan malah berdalih bahwa ia tidak pandai bicara. Namun Tuhan masih dengan sabar mengatakan bahwa Dialah yang membuat lidah, maka Dia pula yang akan menyertai lidah Musa dan mengajari Musa tentang apa yang harus dia katakan. Namun Musa masih tetap tidak mau. Ia malah meminta Tuhan untuk mencari orang lain. Tentu saja ini membuat Tuhan murka dan berkata bahwa Ia telah mengutus Harun -kakak Musa- untuk menjadi juru bicara Musa. Nah, apa lagi alasan yang dicari-cari Musa? Maka pada akhirnya, Musa tidak dapat menghindari lagi panggilan Allah tersebut. Sayang sekali jika orang menerima pelayanan karena terpaksa atau dipaksa.
Dari penolakan Musa, kita belajar memahami bahwa kita memang tidak layak dipakai Allah. Namun jika kita yang tidak layak ini diperkenan Allah untuk melayani Dia maka kita seharusnya tidak menolak panggilan itu. Kita justru harus melihat panggilan Allah tersebut sebagai suatu hak istimewa dan anugerah yang perlu disyukuri. Jika Allah melayakkan dan memampukan kita untuk melayani Dia, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolak. Maka marilah melayani Tuhan sesuai dengan panggilan yang dipercayakan pada kita.
28 Mei 2013
KESEMPATAN MELAYANI
Kesempatan untuk melayani Allah tidak selalu dianggap sebagai kesempatan emas. Banyak orang yang berusaha untuk menolak kesempatan itu, dengan berbagai macam alasan.
Musa, pada masa empat puluh tahun sebelumnya, menyadari benar bahwa ia adalah seorang Ibrani sekaligus pangeran Mesir, yang merupakan alat pilihan Allah untuk membebaskan Israel. Namun setelah masa empat puluh tahun menggembalakan kambing domba di padang gurun di wilayah Midian, Musa tidak lagi memiliki rasa percaya diri yang sama seperti sebelumnya. Karena itu, ketika Allah mengutus Musa, dia justru mempertanyakan dirinya, “Siapakah aku....?” (11).
Bagaimana jawaban Allah? Kalau kita perhatikan, jawaban Tuhan seolah tidak ‘nyambung’ dengan pertanyaan Musa karena Tuhan menjawab, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (12). Dengan jawaban ini, Tuhan bermaksud mengalihkan perhatian Musa dari dirinya sendiri kepada Tuhan. Karena dalam hal ini identitas Tuhanlah yang jauh lebih penting (14). Dan memang, ketika kita tahu bahwa Tuhan beserta kita maka kita dapat maju melaksanakan kehendak Tuhan, bukan dengan keyakinan pada diri kita sendiri melainkan pada Tuhan yang kuat dan berkuasa.
Selain itu perkataan Tuhan, “Dan bilamana mereka mendengarkan perkataanmu ...” (18), bagai janji yang menenangkan hati Musa. Karena pada masa empat puluh tahun sebelum itu, saat ia meyakini panggilannya, orang Israel justru menolak dia. Lalu bagaimana mungkin mereka memercayai dia saat ia tidak lagi memiliki apa-apa. Mengenai raja dan bangsa Mesir, Allah berjanji akan menangani mereka (19-22). Lihatlah bagaimana Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya. Musa hanya tinggal menjalankannya saja. Namun bukan berarti segala sesuatu akan berlangsung tanpa masalah (19), tetapi Tuhan tidak akan tinggal diam.
Kiranya ini membangkitkan semangat kita ketika ada kesempatan untuk melayani Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan sendiri yang akan menolong kita sehingga kita dimampukan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
27 Mei 2013
ALLAH MEMPERHATIKAN PENDERITAAN UMAT
Ketika menderita, kadang kita menganggap bahwa Allah tidak peduli pada penderitaan kita. Tentu salah jika kita berpikir demikian. Allah kita adalah Allah yang sangat peduli terhadap penderitaan manusia, terutama penderitaan umat-Nya. Ini dapat kita lihat dalam nas hari ini.
Setelah ratusan tahun di Mesir, umat Israel -yang merasa menderita- berseru kepada Allah (23-24). Allah pun mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia kemudian menjalankan rencana-Nya untuk menyelamatkan mereka dari perbudakan Mesir. Dalam bahasa Ibrani kata “mengingat” bukan berarti hanya secara pemikiran/kognitif, yaitu bahwa tadinya lupa dan sekarang ingat, tetapi mencakup tindakan juga. Jadi ini berarti, telah tiba waktunya bagi Allah untuk bertindak seturut dengan perjanjian-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.
Allah kemudian memanggil Musa dan menyatakan bahwa “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka” (7). Allah kita memang adalah Allah yang sangat peduli dengan kesengsaraan umat-Nya, terutama mereka yang ditindas. Sebab itu Allah berkata bahwa jika kita menindas janda dan anak yatim lalu mereka berseru kepada Allah, maka Allah akan mendengar seruan mereka dan akan menyatakan murka-Nya kepada mereka yang menindas janda dan anak yatim tersebut (Kel. 22:22-24).
Kita harus mengerti bahwa Allah sangat peduli dengan penderitaan kita, karena itu jangan berhenti berseru kepada Allah untuk memberikan pertolongan kepada kita. Jika pertolongan tidak datang seturut yang kita inginkan, maka kita harus percaya bahwa itu bukan karena Allah tidak peduli, tetapi pasti ada rencana Allah dibalik penderitaan tersebut. Sebaliknya, kita juga harus berhati-hati jangan sampai kita menindas mereka yang lebih lemah karena ketika mereka berseru kepada Allah, maka Allah pasti akan mendengar seruan mereka dan akan menunjukkan murka kepada kita, yang menindas mareka yang lemah.
26 Mei 2013
BERSYUKUR UNTUK PEMELIHARAAN TUHAN
Tidak selalu mudah untuk kita memahami cara Tuhan memelihara hidup kita. Itu juga yang dirasakan tokoh-tokoh di Alkitab. Misalnya para patriakh, dan Yusuf! Pemazmur melihat di balik kehidupan mereka pemeliharaan Tuhan bukan hanya untuk pribadi tertentu, tetapi untuk umat-Nya dan masa depan mereka.
Abraham tinggal sebagai keluarga asing di tanah Kanaan, terkadang karena situasi harus lari ke tempat lain (Kej. 12:10-20; 20:1-18; juga Ishak di 26:1-34). Memang seringkali kejadian itu juga karena ulah mereka yang kurang beriman.Namun, Tuhan menyertai dan melindungi mereka dari orang-orang yang mencoba mengambil kesempatan di tengah kesempitan.Tuhan menghargai mereka sebagai orang yang diurapi, bahkan nabi (15). Oleh karena itu Tuhan membela mereka dari usikan musuh.
Siapa dapat menduga bahwa turunnya Yusuf ke Mesir sebagai budak, yang disebabkan ulah kakak-kakaknya, serta difitnahnya Yusuf oleh istri Potifar sehingga ia dipenjara, merupakan cara Allah mempersiapkan pertolongan atas keluarga besar Yakub dari bencana kelaparan dahsyat. Lebih daripada itu, Allah menggunakan peristiwa tersebut untuk mempersiapkan umat-Nya kelak, keluar dari Mesir dan menjadi bangsa yang dipakai Allah menyatakan keselamatan-Nya bagi dunia ini. (lih. 23-dst.).
Tuhan memelihara umat-Nya dengan cara-Nya melampaui pengertian kita yang terbatas.Allah berdaulat menggunakan cara-Nya sendiri. Di dalam hikmat-Nya, Allah tidak pernah keliru bertindak. Cara Allah selalu membuahkan berkat dan anugerah baik bagi mereka yang dipakai-Nya, maupun orang lain yang ada dalam lingkup anugerah-Nya. Mari bersyukur walau belum mengerti ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak terduga, dengan percaya bahwa Allah memelihara kita dan bahkan melalui kita Ia menyatakan rencana baik-Nya untuk orang di sekeliling kita.
25 Mei 2013
ALLAH MENDIDIK HAMBA YANG INGIN DIPAKAI
Ketika Allah akan memakai seseorang, maka Ia akan mendidik dan membentuk orang itu agar siap dipakai Allah. Allah mendidik Musa sekitar empat puluh tahun lamanya dalam sekolah yang luar biasa, yaitu istana Mesir. Namun rupanya pendidikan tersebut masih belum cukup. Dalam nas hari ini kita melihat bahwa Allah kemudian mengirim Musa ke Midian selama empat puluh tahun untuk mendidik dia lebih lanjut.
Setelah Musa dewasa, suatu hari ia mendapati seorang Mesir memukul seorang Ibrani. Ia menganggap orang Ibrani sebagai saudaranya. Itu berarti Musa tahu bahwa dia adalah seorang Ibrani, walaupun ia hidup sebagai pangeran Mesir. Maka ia bermaksud membunuh orang Mesir tersebut. Namun ia tahu bahwa risikonya besar jika ketahuan membunuh seorang Mesir. Sebab itu ia membunuh orang Mesir itu ketika tidak ada orang (maksudnya tidak ada orang Mesir) yang melihat perbuatannya. Lalu mengapa Musa tetap membunuh orang Mesir itu walau tahu bahwa perbuatannya berisiko? Stefanus memberikan pemahaman bahwa Musa beranggapan bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan saudara-saudaranya, walaupun mereka tidak mengerti (Kis. 7:25). Perhatikanlah, betapa tinggi hatinya Musa. Pemahaman bahwa ia akan dipakai Tuhan membuat dia menganggap diri layak untuk mencabut nyawa orang lain.
Ia memang telah mendapat pendidikan tinggi di istana Mesir. Namun pendidikan itu rupanya tidak membentuk karakternya. Sebab itu, ia masih perlu dididik dalam hal karakter supaya siap dipakai oleh Tuhan. Kita akan melihat bagaimana nantinya Musa menjadi orang yang berbeda setelah Allah membentuk dia selama masa empat puluh tahun di Midian.
Allah memang akan mendidik dan membentuk orang yang Dia pilih untuk menjadi hamba-Nya. Bukan hanya dalam soal pengetahuan, terlebih dalam soal karakter sebagai hamba yang rendah hati dan lemah lembut. Maka janganlah mengeluh jika Allah mendidik kita dengan cara-cara dan dalam waktu yang kita tidak sukai, karena itu berarti bahwa Allah akan memakai kita dengan lebih efektif lagi.
24 Mei 2013
PERANAN ORANG TUA DALAM RENCAN ALLAH
Orang tua adalah figur penting dalam keluarga, juga dalam rencana Allah bagi umat. Ini kita lihat dalam hidup Musa.
Ketika rencananya gagal, Firaun memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki Israel dengan membuang mereka ke sungai Nil. Pada waktu itulah Musa lahir. Ibu Musa melihat anak itu baik dan sehat. Namun, Stefanus memberikan gambaran bahwa Musa itu elok di mata Allah (Kis. 7:20). Jelas ibu Musa tidak dapat menyerahkan anaknya kepada tentara Mesir. Lalu ia menyembunyikan Musa selama tiga bulan (2). Tampaknya masa itu dipakai si ibu untuk memikirkan cara menyelamatkan bayinya. Karena sesudah masa tiga bulan ia meletakkan bayinya dalam peti dan menghanyutkannya di sungai Nil. Tentu bukan kebetulan jika si bayi hanyut dengan melewati tempat puteri Firaun mandi. Bukan kebetulan pula jika sang putri memutuskan untuk memelihara bayi itu, meski ia memperkirakan bayi itu adalah bayi orang Israel. Tidak tersirat kekhawatiran mengenai perintah sang raja menyangkut bayi orang Israel.
Kakak Musa yang mengikuti “perjalanan” bayi Musa di sungai, langsung mendatangi putri Firaun dan menawarkan diri untuk mencarikan inang penyusu. Menurut Anda sebijak itukah kakak si bayi? Tentu ibu mereka pegang peranan dalam hal ini. Si ibu tidak mau kehilangan anak laki-lakinya sehingga ia mempersiapkan kakak si bayi untuk memantau si adik dan kemudian berbicara seperti itu kepada sang putri. Suatu strategi yang cemerlang!
Dari rangkaian peristiwa ini, kita melihat Allah yang memakai si ibu untuk menyelamatkan bayinya, bukan hanya demi hidup si bayi melainkan bagi kepentingan besar di masa mendatang. Dan Allah memberikan kehormatan kepada orang tua Musa untuk mempersiapkan anaknya dalam menggenapi rencana Allah. Sejalan dengan itu, tentu ada tanggung jawab besar dalam mendidik anak untuk memahami rencana Tuhan bagi diri mereka. Maka orang tua harus melihat pentingnya peran yang diberikan Tuhan kepada mereka. Peran itu harus dijalankan dengan serius, peka terhadap tuntunan Tuhan, serta dengan mengandalkan kekuatan yang dari Tuhan.
23 Mei 2013
MELIHAT ALLAH DI TENGAH KESULITAN
Ketika dalam kesulitan, kadang kita tidak dapat melihat rencana Allah dalam hidup kita. Nas hari ini menunjukkan bahwa di tengah penderitaan umat, sesungguhnya rencana Allah sedang digenapi.
Karena merasa terancam oleh keberadaan Israel di tengah mereka, Firaun berikhtiar untuk menghabisi orang Israel. Maka Firaun membebankan kerja yang lebih berat kepada orang Israel. Tujuannya, agar banyak yang mati. Namun bukannya berkurang, orang Israel bahkan bertambah semakin banyak.
Rencana kedua, Firaun meminta para bidan untuk membunuh bayi laki-laki Israel ketika dilahirkan. Mengapa hanya bayi laki-laki? Pada waktu kejatuhan manusia, dalam hukuman-Nya terhadap ular yang mewakili Iblis, Tuhan menyatakan akan mengadakan permusuhan antara keturuan ular (yaitu keturunan Iblis secara rohani/orang tidak percaya) dengan keturunan perempuan (yaitu keturunan orang percaya) dalam Kej. 3:15. Dari perempuan tersebut akan lahir laki-laki yang menghancurkan kepala si Iblis. Maka tak heran bila Iblis memakai Firaun untuk membunuh hanya bayi laki-laki Israel supaya apa yang telah Allah nyatakan tidak terjadi.
Namun rencana Firaun tidak berhasil karena kedua bidan yang menangani persalinan perempuan-perempuan Israel (mungkin mereka adalah kepala bidan-nama kedua bidan itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang Israel), tidak mematuhi perintah Firaun. Mereka tidak mau membunuh bayi laki-laki Israel karena mereka takut akan Allah (17). Akibatnya, orang Israel malah semakin bertambah. Bahkan Allah juga memberkati para bidan tersebut hingga mereka kemudian berumah tangga (21).
Di balik semua masalah yang dihadapi Israel, sesungguhnya Allah sedang menggenapi rencana-Nya untuk memberkati mereka. Setidaknya, kedua bidan yang mematuhi perintah Allah, telah mencicipi berkat tak terduga.Sebab itu, mari kita belajar untuk melihat rencana Allah di tengah berbagai kesulitan hidup yang kita hadapi, karena Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm. 8:28).
22 Mei 2013
PRINSIP MELAYANI DALAM KRISTUS
Paulus menutup suratnya dengan pemberitahuan akan kedatangan Timotius sebagai pembawa surat ini dan beberapa nasihat praktis. Nasihat Paulus ialah agar mereka memegang teguh prinsip-prinsip pelayanan yang didasari kasih Kristus.
Prinsip pertama ialah tidak membuat orang-orang di sekitar kita takut melayani sebaliknya mendorong mereka giat (10). Paulus meminta agar jemaat Korintus menerima Timotius dengan baik, sehingga ia dapat melayani di sana tanpa takut karena yang dikerjakan Timotius adalah pekerjaan Tuhan.
Prinsip kedua ialah tidak merendahkan orang lain (11). Paulus meminta jemaat tidak merendahkan Timotius. Mungkin ini berkaitan dengan kemudaan Timotius. Paulus tidak ingin jemaat meremehkan Timotius.
Prinsip ketiga ialah menjaga iman agar terus bertumbuh dalam Kristus (13). Ia menasihati agar mereka berjaga-jaga, yaitu harus waspada terhadap godaan mengikuti hawa nafsu maupun bujukan dunia.Mereka semua harus berdiri teguh dalam iman. Dasar yang kuat agar iman terjaga bahkan bertumbuh adalah kasih. Motivasi kasih menolong mereka tidak berpusat pada diri sendiri melainkan pada Kristus.
Prinsip keempat ialah menjaga relasi dengan orang-orang di sekitar (15-18). Menghargai rekan sepelayanan merupakan hal yang penting. Hal ini demi menjaga sinergi kasih di dalam pelayanan. Sehingga terciptalah suasana kasih Kristus di antara pelayan Tuhan. Sebelum Paulus menutup suratnya, ia menyampaikan salam dari jemaat di Asia Kecil kepada mereka (19-20). Ini juga merupakan bukti betapa relasi itu penting dan harus dibangun.
Akhirnya, Paulus menutup suratnya dengan menyampaikan suatu tanda persekutuan yang indah, yaitu dengan “cium kudus”. Cium kudus ini bukanlah ciuman yang mengumbar nafsu, namun hal ini dilakukan sebagai perwujudan saling mengasihi dalam Tuhan (20).
Sebagai orang percaya maupun pelayan Tuhan hendaknya kita memegang teguh prinsip pelayanan ini. Sehingga kita benar-benar menjadi berkat bagi banyak orang hingga “Maranata” (Tuhan, datanglah).
21 Mei 2013
PENATALAYANAN KEUANGAN
Salah satu pelayanan penting yang dilakukan Paulus selama perjalanannya ialah pengumpulan “uang persembahan” bagi orang-orang kudus dan orang-orang miskin di jemaat Yerusalem (1; Rm.15:25-26). Motivasi dasar Paulus ialah mempersatukan orang-orang percaya Yahudi dan bukan Yahudi. Harapannya ialah pernyataan kasih dari orang-orang bukan Yahudi ini dapat membantu membangun jembatan di antara dua kelompok tersebut (2 Kor.8-9).
Paulus memberikan saran praktis kepada jemaat untuk penatalayanan uang persembahan itu. Persembahan tersebut diberikan pada hari pertama dari tiap-tiap minggu (2). Setiap jemaat harus datang pada pertemuan ibadah dan memberikan persembahannya. Mereka telah menerima berkat Tuhan, maka mereka pun bisa menjadi berkat bagi orang lain. Pemberian itu harus “sesuai dengan apa yang kamu peroleh” – Orang menerima banyak diharapkan memberi banyak. Orang yang memiliki sedikit, tidak menjadikannya alasan untuk tidak memberi. Memberi sesuai dengan kemampuan adalah penting, supaya tidak ada yang memberi dengan terpaksa (2). Paulus juga menuntut keteraturan, dalam jemaat “menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.” Ia berharap agar mereka sudah mempersiapkan persembahan (2).
Integritas Paulus terlihat dari cara ia menangani uang jemaat. Ia tidak terlibat langsung tetapi mengirim utusan yang kelayakannya ditentukan oleh jemaat setempat (3). Jadi tidak ada celah bagi siapa pun untuk menuduh Paulus memanipulasi uang tersebut.
Paulus menyatakan kerinduan untuk mengunjungi jemaat (5). Ia tidak ingin sekedar berjumpa, melainkan tinggal agak lama di sana (6-7). Sehingga ia dapat melayani dan menolong orang-orang bagi Kristus. Salah satu bentuknya adalah mendorong mereka terlibat dalam pelayanan persembahan itu. Teladani Paulus yang berintegritas dalam hal keuangan. Milik kita adalah anugerah Allah. Maka berbagi dengan yang membutuhkan adalah berbagi anugerah Allah.
20 Mei 2013
KEMULIAAN TUBUH KEBANGKITAN
Paulus mengajak orang Korintus untuk berpikir bijaksana dalam mempelajari kebenaran. Ada orang-orang yang kesulitan untuk mengerti bagaimana seseorang bisa dibangkitkan, dan dengan tubuh seperti apa mereka akan dibangkitkan.
“Hai orang bodoh!” (36) merupakan teguran yang keras, bukan untuk menghina melainkan mengajak mereka membuka wawasan berpikir yang sangat sempit tentang kemahakuasaan Tuhan dalam dunia ciptaan. Analogi yang Paulus berikan diharap dapat membuka pengertian mereka yang sempit (35-38).
Kemuliaan tubuh sorgawi lebih dari tubuh duniawi (40). Tubuh alamiah kita seiring berjalannya waktu akan semakin lemah, manusia lahiriah kita akan semakin merosot. Sedangkan manusia batiniah, yang menjadi persiapan tubuh yang tidak kelihatan itu, bersifat mulia (42-44). Sebagaimana kita mengambil rupa Adam –ditaburkan dalam tubuh alamiah – kita juga akan memakai rupa dari yang sorgawi, yaitu Kristus sendiri. Jadi meskipun tubuh fisik kita semakin rusak, kehidupan rohani kita boleh terus diperbarui (45-49). Yang menjadi pengharapan kita pada akhir zaman adalah bahwa kita kelak pada kebangkitan akan memakai rupa dari yang sorgawi (49). Paulus juga mengatakan, bahwa sesungguhnya kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semua akan diubah dalam sekejap mata pada waktu bunyi nafiri yang terakhir (51-52).
Maut dikalahkan sebagai musuh terakhir. Maut telah ditelan oleh kemenangan (54). “Sengat maut adalah dosa”, maut adalah di mana Tuhan tidak hadir dalam hidup seseorang, dan ketika seseorang berdosa, ia sedang mencicipi maut. Ia tidak dalam bahaya hilang dari hadirat Tuhan (55-56).
Pengharapan ini semestinya mendorong kita untuk lebih giat dalam melayani Tuhan. Alkitab menegaskan bahwa kita harus berjaga-jaga (menjaga kualitas hidup kristen yang beriman), mengembangkan talenta (sebagai tuntutan untuk memberikan yang terbaik) untuk menyambut kedatangan kembali Sang Tuan. Tuhan Yesus akan datang, maka kita harus semakin bergiat dalam pekerjaan Tuhan (58).
19 Mei 2013
KEDATANGAN ROH KUDUS
Kedatangan Roh Kudus adalah kedatangan yang ditunggu para murid Kristus setelah peristiwa kenaikan Tuhan Yesus. Oleh karena Ia tidak meninggalkan para murid sendirian tetapi Ia menjanjikan Roh Kudus bersama mereka (Yoh. 14: 16-17, Yoh. 16: 7). Roh yang penuh kuasa akan menyertai dan memberikan tuntunan dalam kehidupan para murid dalam menjalankan kelangsungan tugas yang diberikan oleh Tuhan Yesus (Yoh. 14: 26). Mengapa perlu Roh Kudus turun?
Pertama, Roh Kudus adalah Roh Penolong yang diberikan Bapa dan Tuhan Yesus kepada para murid untuk menyertai mereka selamanya. Mereka akan bersaksi tentang Kristus kepada dunia (15:26). Karena itu mereka memerlukan kuasa ilahi bersama dengan mereka (Luk. 24:49, Kis. 1:8). Tidak hanya itu, tetapi dalam menjalankan misi tersebut nyawa mereka adalah taruhannya (1-2) karena dunia akan menolak mereka. Artinya diri mereka dan misi yang dijalankan adalah penting. Kedua, karena hal tersebut berkenaan dengan misi kedatangan Roh Kudus itu sendiri yaitu menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (16:8-11). Di mana terjadi penolakan dunia atas semuanya. Artinya dunia akan melawan dengan keras kehadiran murid Kristus dan memberi tantangan hebat terhadap ajaran Kristus. Ketiga, Roh Kudus menyatakan kebenaran. Dia adalah Roh Kebenaran (16:13). Hal ini berkaitan langsung dengan Tuhan Yesus sendiri (Yoh. 1: 17, Yoh. 14:6). Roh Kudus akan memimpin orang percaya kepada Kristus itu sendiri. Kristus dan firman-Nya adalah satu-satunya yang dapat memerdekakan orang dari dosa yang membelenggunya (Yoh. 8: 31-31, 34). Jadi, keputusan penting yang harus diambil yaitu mengikuti Kristus atau tidak.
Sebagai orang percaya kita perlu menyadari kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita supaya kita menyatakan diri sebagai murid Tuhan.
18 Mei 2013
PENTINGNYA KEBANGKITAN KRISTUS
Dalam kekristenan, kebangkitan adalah sangat penting. Fakta bahwa Yesus bangkit pada hari yang ke-3, mempunyai arti yang sangat penting. Karena kebangkitan-Nya membuktikan keilahian-Nya.
Persoalan yang terjadi dalam Jemaat Korintus adalah mereka percaya bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, tetapi sulit untuk memercayai adanya kebangkitan orang mati (12, 13, 16). Bagi Paulus, hal ketidakpercayaan akan kebangkitan orang mati ini tidak sepele, karena akan mendistorsi berita kebangkitan Kristus. Dengan kalimat yang tegas ia mengatakan “Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”(32). Dengan kata lain tidak ada perbedaan antara kehidupan orang Kristen dan orang tidak percaya, karena sama-sama akan mengalami kebinasaan.
Yang membuat perbedaan adalah pentingnya kebangkitan Kristus yang menjadi dasar iman Kristen. Paulus memberikan penegasan kepada mereka bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah pemberitaan para rasul dan iman kita (14). Jika Kristus tidak dibangkitkan maka kita tetap tinggal dalam dosa (17). “kamu masih hidup dalam dosamu”. Dosa yang membuat manusia terpisah dari Allah, yang membuat manusia mati dan binasa (21, 22).
Fakta kebangkitan Kristuslah yang membuat setiap orang percaya dibebaskan dari belenggu dosa dan kebinasaan. Inilah perbedaan antara orang yang percaya Kristus dengan yang menolak-Nya, yaitu pengharapan di dalam Kristus. Kebangkitan-Nya membuat kita tidak hidup dalam kesia-siaan tetapi dalam pengharapan, yaitu bahwa kita semua yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan seperti Dia, yang sulung, dibangkitkan (20).
Oleh karena itu kita orang-orang percaya yang telah memiliki kepastian akan kebangkitan Kristus, dituntut untuk hidup dalam kebenaran. Kebenaran inilah yang menuntun kita hidup dalam keteguhan iman, yang diproyeksikan menghasilkan kekudusan dan ketaatan total kepada Allah, sehingga hidup kita ini menyenangkan Dia.
17 Mei 2013
KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS
Dalam pasal 15 ini rasul Paulus menjelaskan pokok masalah tentang kematian dan kebangkitan. Karena kala itu jemaat Korintus “diganggu” oleh orang-orang yang tidak percaya akan kebangkitan sehingga penting bagi Paulus untuk membahasnya (3).
Pertama, kematian Yesus merupakan dasar dari keselamatan manusia. Pernyataan “Kristus mati karena dosa-dosa kita” memberi penjelasan jika Kristus tidak mati, maka manusia tidak memiliki keselamatan. Yesus mati sebagai kurban pengganti karena dosa kita. Ia mati untuk menebus kita sehingga melalui kematian-Nya kita dapat bersekutu dengan Allah.
Kedua, Yesus yang mati itu dikuburkan (4). Bagaimana mungkin Ia dikuburkan jika Ia tidak melalui fase kematian?
Ketiga, Yesus dibangkitkan pada hari yang ketiga (4). Keraguan orang-orang Korintus akan kebangkitan Kristus dijawab oleh Paulus dengan memberikan bukti meyakinkan bahwa ada banyak orang yang melihat Yesus setelah kebangkitan. Antara lain, kepada Kefas (Petrus), kedua belas rasul (5), lebih dari lima ratus saudara sekaligus (6), Yakobus, kemudian semua rasul (7), dan Paulus sendiri (8). Mereka semua adalah saksi dari kebangkitan Kristus. Jangan lupa hidup Paulus yang sudah diubahkan juga adalah kesaksian otentik akan kuasa kebangkitan Kristus (9-10).
Paulus mengatakan bahwa apa yang ia sampaikan ini “sesuai dengan Kitab Suci” (3,4). Paulus tidak menyampaikan argumennya sendiri tanpa dasar tertulis. Semua yang ia kemukakan di dasarkan pada apa yang tercatat dalam Kitab Suci, yaitu berita kematian dan kebangkitan Kristus telah dinyatakan dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama.
Hingga saat ini selalu ada orang-orang yang menyangsikan kematian dan kebangkitan Kristus. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kekristenan dan orang percaya. Oleh karenanya yang menjadi tanggung jawab setiap orang percaya ialah mempelajari Kitab Suci dengan baik, sehingga iman kita menjadi kuat dan setiap kita pula dapat melakukan pembelaan iman berdasarkan Alkitab.
16 Mei 2013
KETERATURAN DALAM IBADAH
Rasul Paulus menekankan kepada jemaat Korintus untuk memperhatikan ketertiban di dalam beribadah. Karena kala itu jemaat Korintus sedang menghadapi masalah-masalah khusus mengenai kekacauan dalam pertemuan jemaat (17-23). Kali ini ia lebih tegas mengatur ibadah berkaitan dengan penggunaan karunia roh yang kerap keliru di antara anggota jemaat. Mereka memakai karunia-karunia roh untuk menyenangkan diri dan kesombongan pribadi.
Semua karunia roh dan aktivitas dalam pertemuan jemaat harus dipergunakan untuk membangun (26). Orang yang dipenuhi Roh Kudus bisa mengontrol dirinya – bukan asyik sendiri. Ia lebih mementingkan orang lain, karena itulah hakikat kasih, sehingga pertemuan ibadah tidak kacau (40).
Paulus mengatur teknis dari pemanfaatan karunia dalam ibadah. Untuk penggunaan bahasa lidah, ia mengaturnya sehingga ada ketertiban dalam ibadah. Penggunaan bahasa lidah diperbolehkan dalam ibadah secara terbatas (dua atau tiga orang), dan harus ada orang yang mendapatkan karunia menafsirkannya. (27-28). Juga ia mengatur penggunaan karunia bernubuat. Demi ketertiban ibadah, nubuat harus disampaikan bergantian, sehingga yang lain bisa belajar dan bertumbuh dalam iman (30-31).
Paulus sama sekali tidak melarang seseorang memiliki dan menggunakan karunia roh yang ada padanya (39). Yang ia lakukan adalah mengaturnya agar tepat digunakan bagi kepentingan membangun jemaat Sebab tujuan karunia Roh ialah untuk membangun jemaat. Karena itu pemakaian karunia-karunia dalam pertemuan ibadah harus berlangsung secara teratur. Pertemuan jemaat harus dilangsungkan dengan sopan dan teratur dan dengan motivasi yang baik serta untuk kepuasan rohani bersama.
Kita dapat belajar dari apa yang rasul Paulus kemukakan, yaitu kita harus beribadah dengan sopan dan teratur di dalam gereja. Baik itu dengan liturgi yang tertulis atau pun tidak. Yang pasti ibadah kita haruslah sopan dan teratur sebagai wujud penghormatan kita pada Tuhan.
COME AND JOIN US.....!!
15 - 17 JUNE 2013
Buat kamu remaja dan pemuda usia 15-19 tahun, ayo ikuti Retret yang akan diadakan oleh Scripture Union Indonesia (PPA) pada tanggal 15-17 Juni 2013. Jangan sampai ketinggalan. Isi liburanmu dengan menambah teman baru dan semakin bertumbuh dalam iman.
Info lebih lanjut hub. Daniel (0813-83252387) atau Ima (0852-18236121) email : suindonesia_kemitraan@yahoo.com.au
Kamis, 4 April 2013
INJIL SEBAGAI DASAR KASIH
Perintah untuk mengasihi cenderung membuat kita merasa kurang nyaman karena menempatkan kita di pihak yang memberi, berkorban, merendah, dan mengalah. Namun kekristenan bukan semata-mata soal perintah mengasihi melainkan berinti pada berita Injil. Perintah tanpa inti berita Injil membuat kita menjadi legalis dan apa yang dilakukan menjadi kewajiban semata.
Dalam Roma 1-11 Paulus memaparkan berita Injil tentang apa yang telah Kristus lakukan bagi orang percaya.Lalu alam pasal 12-15 Paulus memaparkan respons orang percaya yang seharusnya. Perikop hari ini memaparkan hal-hal praktis dalam kehidupan orang percaya sebagai buah dari kuasa Injil yang mengubahkan. Sepintas terlihat bahwa perintah-perintah ini tidak mempunyai kaitan satu sama lain, tetapi sesungguhnya semua terikat dalam satu perintah utama, yaitu perintah kasih (9-10). Merupakan hal yang normal jika umat tebusan Kristus mengasihi karena Kristus sendiri telah menetapkan norma itu: "sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu salng mengasihi" (Yoh.13:34b-35). Berita Injil memang harus menjadi dasar dari perintah mengasihi.
Kasih itu tidak boleh pura-pura (9; arti harfiah: memakai topeng). Kasih yang tulus tampak dalam relasi orang percaya dengan sesamanya (10, 13-21). Kasih itu aktif dan penuh inisiatif, seperti mendahului memberi hormat, membantu orang yang kekurangan, memberkati, bersukacita an berdukacita bersama orang lain, berdamai, dan berbuat baik.
Kasih juga mempunyai dimensi vertikal. Kasih mendorong orang untuk rajin dan berkobar dalam melayani Tuhan (11), bersukacita dan bersabar dalam kesesakan karena ada pengharapan kepada Allah (12). Kasih mendorong kita untuk menghormati hak dan kedaulatan Allah (19).
Mari wujudkan kasih Kristus dalam relasi kita dengan Allah dan sesama karena kita telah menerima anugerah Injil yang begitu berharga.
Rabu, 3 April 2013
DIPERBARUI LALU MELAYANI
Gaya hidup seseorang harus berpadanan dengan statusnya. Demikian juga orang percaya, harus hidup berpadanan dengan status sebagai tebusan Kristus. Roma 12:1-15;13 berisi perintah-pernitah rasul Paulus tentang bagaimana orang percaya seharusnya hidup.
Bagian ini dimulai dengan kata Karena itu" (1), yang berarti semua yang dikupas Paulus dalam pasal-pasal sebelumnya menjadi alasan bagi orang percaya untuk melakukan perintah-perintah itu. Oleh karena orang percaya telah dibenarkan oleh Kristus dan diperdamaikan dengan Allah, serta dipersatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, maka orang percaya harus hidup dengan cara hidup yang baru.
Hidup yang baru itu diungkapkan dengan gambaran mempersembahkan diri di mezbah (1). Jika kurban dalam Perjanjian Lama adalah binatang yang mati, maka orang percaya dalam Perjanjian Baru mempersembahkan kurban yang hidup yaitu seantero kehidupan kita, yang dikhususkan (dikuduskan) untuk menyenangkan Allah. Caranya? Hidup seturut firman-Nya. Mata tidak lagi untuk melihat hal-hal yang tidak patut, lidah hanya untuk perkataan yang membangun, tingkah lakupun harus mencerminkan nilai-nilai Kerajaan allah.
Pembaruan hidup itu bukan hanya di permukaan, melainkan sampai kedalaman hati. Bukan hanya gaya hidup yang berbeda dengan orang dunia, melainkan secara hakiki orang yang telah diperbarui memang tidak sama lagi dengan dunia (2). Anugerah Kristus mendorong orang yang telah mengalami pembaruan untuk mencari dan melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Di dalam hidup yang baru itu, orang percaya menjadi rendah hati (3) dan berfungsi efektif dalam tubuh Kristus untuk melayani (4-8). Untuk itu Allah memberikan karunia-karunia untuk melayani dan membangun tubuh Kristus.
Selasa, 4 Desember 2012
INILAH MURKA TUHAN
Banyak orang mengatakan bahwa Tuhan Maha Pengampun hanya untuk membenarkan diri saat terus menerus melakukan dosa. Ini jelas suatu tindakan yang meremehkan Tuhan. Orang seperti ini mungkin baru akan sadar saat melihat Tuhan menyatakan hukuman-Nya.
Melalui Amos, Tuhan menyatakan murka-Nya. Israel yang selalu membanggakan ritual ibadah akan menerima hukuman justru dari pusat ibadah mereka yang seharusnya. Mereka yang melakukan dosa tetap saja datang beribadah di mezbah. Mezbah yang seharusnya berfungsi sebagai tempat menyembah dan mencari hadirat Tuhan, dinajiskan oleh motivasi jahat mereka. Maka Tuhan menyatakan penghukuman-Nya juga dari mezbah-Nya. Penghukuman Tuhan sesuai dengan karakter-Nya yang kudus dan adil.
Oleh kemahakuasaan dan kemahatahuan Tuhan, tidak seorang pun yang dapat meluputkan diri dari hukuman-Nya. Mereka yang lari tak dapat luput dari pedang Tuhan, kemana pun mereka pergi. Meski mereka menembus dunia orang mati, Tuhan akan mengejarnya. Jika ada yang bersembunyi hingga gunung Karmel, Tuhan pun akan mengambil mereka dari sana. Tuhan juga memakai ular untuk memagut mereka yang bersembunyi di dasar laut. Yang berjalan tertawan oleh musuh akan dihadang oleh pedang. Mata Tuhan terus mencari untuk menghukum. Dengan jarinya Ia akan menggoyangkan bumi sehingga gempa terjadi, maka manusia berkabung.
Dari hukuman Tuhan ini kita belajar bahwa sesungguhnya Tuhan Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha Hadir. Manusia tidak dapat mengetahui bagaimana Tuhan bekerja atau menyatakan murka-Nya. Namun, tak seorang pun dapat menghindari murka-Nya itu. Yang baik dan yang jahat mungkin akan mengalami perkabungan sebagai akibat murka Tuhan. Oleh karena itu, sebelum hukuman Tuhan dijatuhkan dan dilaksanakan, bertobatlah segera! Atau, kalau kita tahu teman-teman kita yang masih bermain-main dengan dosa, tugas kitalah menyampaikan suara kenabian Amos ini agar mereka bertobat dan menerima kasih karunia.
Senin, 3 Desember 2012
MELANGGAR FIRMAN VS HAUS FIRMAN
Siapa saja yang Tuhan peringatkan dalam penglihatan yang Amos terima? Dan apa saja dampak perbuatan mereka terhadap kehidupan bangsa Israel? Yang Tuhan peringatkan adalah mereka yang tidak berpihak kepada orang miskin (4) dan yang curang dalam perdagangan (5). Kehidupan yang mereka jalani telah menjerat orang miskin menjadi lebih miskin. Perbuatan jahat yang mereka lakukan adalah menggunakan neraca palsu, menjadikan orang miskin sebagai budak hanya gara-gara sandal, dll. Jelas sekali pikiran mereka sangat materialistik dan dualistik. Pada hari Sabat mereka seakan hidup kudus, tetapi setelah itu mereka hidup dalam rupa-rupa dosa. Tuhan bahkan bersumpah tidak akan melupakan perbuatan mereka.
Hari penghakiman Tuhan bagi mereka adalah hari Tuhan (bdk. Am. 5:18-22). Karena perbuatan dosa mereka, Tuhan menyatakan penghakiman. Perbuatan mereka tidak lagi mendapat ampun dan berdampak buruk dalam kehidupan berbangsa. Semua akan menderita. Tak satu pun dapat menghindarinya. Masih dalam suasana penghakiman, Tuhan akan membangkitkan kelaparan dan kehausan rohani. Begitu hebat kehausan itu sehingga dikatakan kaum muda akan terkapar tidak berdaya. Di satu sisi ini adalah penghukuman, yaitu perasaan kosong yang melanda manusia berdosa. Di sisi lain adalah anugerah, yaitu kesempatan mencari Tuhan seperti yang telah dikumandangkan Amos dalam pemberitaan terdahulu.
Bolehkah kita yang mengaku pengikut Kristus memiliki dualisme seperti ini? Tentu tidak. Karena hidup seperti itu munafik dan tidak berkenan kepada Tuhan. Kita akan menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekeliling kita. Oleh karena itu, bila kita sudah menyadari kehampaan seperti yang akan dialami oleh bangsa Israel, jangan abaikan peringatan-Nya melalui hamba-Nya -Amos- dan jangan keraskan hati. Segera bertobat dan percaya Yesus, agar di hati kita hanya ada keinginan menyenangkan Dia. Sehingga setiap hari Minggu kita beribadah dengan kerinduan agar hari Senin sampai Sabtu kita menghadirkan Kristus dalam setiap aktivitas kita.
Minggu, 2 Desember 2012
WARGA NEGARA "SION"
Fokus pembicaraan mazmur ini adalah Sion sebagai kota kesukaan Allah. Lalu apa makna hal itu bagi umat Tuhan?
Sion menjadi lambang pemerintahan Tuhan atas umat-Nya, bahkan atas segala bangsa. Maka, kota-kota lain yang memiliki pemerintahannya masing-masing tak cukup untuk menggambarkan pemerintahan Tuhan. Sebaliknya, semua pemerintahan baik yang di tanah perjanjian (2) maupun di penjuru dunia (4) harusnya tunduk pada pemerintahan Allah di Sion. Di Sion Kerajaan Allah ditegakkan atas seluruh bangsa!
Sion menjadi kebanggaan umat Tuhan karena mereka lahir dan terdaftar di sana (5). Tentu kebanggaan ini tidak boleh disombongkan, seolah hanya Israel yang memiliki hak istimewa itu. Karena di luar sana, jauh di selatan (Rahab/Mesir) dan jauh di utara (Babilonia), maupun bangsa-bangsa di sekeliling Israel (Filistea dan Tirus), juga di Etiopia ada umat Tuhan, mereka “dilahirkan di sana” (terdaftar sebagai umat Tuhan).
Di Keluaran 19:5-6, Israel adalah bangsa pilihan dari antara bangsa-bangsa lain yang semuanya umat yang dikasihi Tuhan. Tujuannya adalah agar melalui Israel kasih Tuhan boleh dialami oleh bangsa-bangsa lain. Mazmur ini juga memiliki nuansa misi demikian. Tugas Israel adalah bermisi kepada bangsa-bangsa lain sehingga, umat pilihan Allah dari berbagai bangsa ditemukan dan bersama-sama menyembah Allah yang bersemayam di Sion. Maka, di Sionlah akan keluar pujian dari mulut semua umat-Nya: “Segala mata airku ada di dalammu.” Suatu pengakuan bahwa Allah adalah sumber kehidupan satu-satunya.
Tugas kita sebagai umat Tuhan bukan membangga-banggakan “sion” (denominasi, faham teologi, etnis) kita masing-masing. Melainkan memberitakan Satu Tuhan yang memerintah takhta-Nya (satu Sion) atas satu umat yang menyembah Dia, terlepas dari berbagai perbedaan yang ada.
Jumat, 30 November 2013
BURUK MUKA CERMIN DIBELAH
Misalkan Anda sedang menumpang bis kota, lalu naik beberapa pengamen dan bernyanyi di sebelah Anda. Mereka bernyanyi dengan sangat merdu, diiringi petikan gitar yang mengalun apik. Lagu yang mereka bawakan pun lagu favorit Anda. Apa respons Anda? Tentu Anda akan mengapresiasi mereka, bahkan memberikan tip yang lumayan. Tapi andaikan pula situasi yang sama, dengan kualitas yang sama, tetapi liriknya diganti dengan kata-kata yang merinci berbagai kesalahan Anda secara pribadi. Akankah Anda mengapresiasi mereka juga? Tentu saja tidak.
Dengan alasan yang sama, penolakan Amazia, imam di Betel, atas pemberitaan Amos itu bisa kita maklumi. Inti pemberitaan Amos (11) niscaya membuat bangsa Israel resah. Respons negatif Amazia bisa kita katakan normal, karena pemberitaan seperti yang dilakukan Amos ini tak jarang membuahkan pembalasan berupa kekerasan di konteks lain. Padahal penyimpulan yang diambil Amazia tentang Amos keliru. Pertama. Amos tidak hendak melawan raja dan bangsa Israel (10); Amos hanya menaati perintah Allah yang menyuruh dia pergi ke Israel. Kedua, Amos tidak sedang mencari makan melalui nubuat-nubuatnya (12); ia bukan nabi profesional (14), yaitu mereka yang bernubuat di istana-istana raja dan mendapat dukungan keuangan dari kerajaan. Amazia tidak mau mengerti bahwa pemberitaan hukuman ini merupakan akibat langsung dari dosa-dosa Israel terhadap Allah, yaitu menginjak-injak keadilan dan kebenaran Allah. Sebagai imam, ia tak lagi mewakili umat di hadapan Allah, tetapi sekadar menjadi pemasok kebutuhan religiositas orang Israel, religiositas yang palsu dan jelas ditolak Allah.
Jika teguran Allah datang, kita harus peka dan siap menerima, baik itu disampaikan Allah melalui orang lain, ataupun melalui pembacaan firman secara langsung. Teguran tak boleh kita anggap penghinaan melainkan kesempatan dari Allah untuk kita bertobat, bahkan biarpun penghukuman itu tetap datang pada akhirnya. Jangan sampai penolakan atas Allah itu menjadi final, sebagaimana yang kita lihat terjadi pada Israel Utara (17).
Memasuki tahun baru 2013 tentu membuat kita dipenuhi dengan berbagai resolusi. Tentu salah satunya adalah resolusi untuk mempergiat pembacaan Alkitab atau saat teduh setiap hari. Untuk melengkapi resolusi kita, Santapan Harian Januari-Februari 2013 telah hadir. Dapatkan di toko buku Kristen di kota Anda atau bagi Anda yang bermukim di Jakarta, dapatkan juga di toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Bila Anda tidak ingin kehabisan atau tidak ingin repot mencarinya, silakan berlangganan dengan menghubungi Indah di nomor telepom 021-3442462
AMOS 2:1-5
Kejahatan bisa dilakukan oleh siapa saja bahkan oleh orang-orang terdekat sekalipun. Namun Tuhan tetap tidak tinggal diam atas kejahatan yang dilakukan manusia. Tuhan akan memberikan penghukumannya ketika waktunya tiba.
APA SAJA YANG ANDA BACA?
1. Apa yang dilakukan Moab? Apa hukuman Tuhan atas Moab (1)?
2. Bangunan apa yang dibakar oleh Tuhan? Apa situasi yang timbul setelah peristiwa itu (2)?
3. Siapa yang dilenyapkan oleh Tuhan? Mengapa (3)?
4. Siapa bangsa pilihan Tuhan? Apa yang telah dilakukan bangsa itu terhadap Tuhan (4)?
5. Apa yang dilakukan Tuhan atas Yerusalem (5)?
APA PESAN YANG ALLAH SAMPAIKAN KEPADA ANDA?
1. Siapakah Moab dan Edom? Keturunan siapakah mereka?
2. Mengapa Tuhan membenci tindakan kejahatan, termasuk juga dalam hubungan saudara?
3. Mengapa tempat-tempat berhala dapat dimusnahkan Tuhan? Bahkan juga bisa terjadi pemusnahan tempat ibadah orang percaya?
4. Mengapa penghukuman Tuhan bisa berlaku kepada siapa saja?
5. Apa yang harus dipegang dan dilakukan dengan sungguh oleh orang percaya?
APA RESPONS ANDA?
1. Kadang hidup persaudaraan kita berjalan kurang baik. Hal-hal apa yang biasanya menjadi penyebab dalam kehidupan persaudaraan Anda?
2. Apakah yang akan Anda lakukan bila terjadi demikian?
3. Kadang-kadang kita memilah-milah orang dengan standar diri kita, apakah pengaruhnya dengan relasi kita terhadap sesama?
4. Sebagai umat yang ditebus Tuhan, apakah hidup Anda telah sungguh-sungguh memegang perintah-Nya?
POKOK DOA:
Agar dimampukan menyatakan kasih Tuhan kepada kaum kerabat Anda.
Pada tanggal 26 Desember 2012 - 4 Januari 2013 Scripture Union Indonesia akan menjadi tuan rumah program International Student Camp yang diselenggarakan oleh Scripture Union East and West Asia (SUEWA). Kamp ini akan dihadiri oleh ratusan pelajar dari gerakan Scripture Union di 21 negara di regional Asia Timur dan Barat.
Scripture Union adalah komunitas global di lebih dari 120 negara. Selama hamper 150 tahun, Tuhan telah memakai Scripture Union untuk membawa anak-anak, orang muda, dan orang dewasa pada suatu pengharapan yang hidup melalui Yesus Kristus. Pada masa kini harapan itu jauh lebih diperlukan. Lalu apa yang Tuhan inginkan dari Scripture Union dalam memasuki usia 150 tahun yang kedua pada tahun 2017 mendatang? Itulah yang sedang digumulkan oleh Living Hope. Di seluruh penjuru dunia, Scripture Union sedang berusaha mendengarkan suara komunitasnya, suara masing-masing Scripture Union di berbagai negara, dan suara orang-orang kunci yang ada di sekitar. Melalui proses tersebut dan saat berbagai dalam doa dan firman Tuhan, dirindukan Tuhan berbicara mengenai panggilan-Nya, arah dan penajaman pelayanan Scripture Union di masa mendatang.
Karena itu pada tanggal 5-9 November telah diselenggarakan pertemuan para pemimpin dari 130 gerakan Scripture Union di Kuala Lumpur, Malaysia. Bersama-sama mereka akan melihat karya Tuhan di masa sebelumnya dan mengidentifikasi kesempatan-kesempatan baru bagi pelayanan kepada anak dan generasi muda.
(Disarikan dari SU Living Hope News Okt-Nov 2012)