SU Indonesia
30 Juni 2013

TERSESAT, NAMUN DISELAMATKAN

Mazmur 107 adalah mazmur pembuka kitab kelima Mazmur (I: 1-41; II: 42-72; III: 73-89; IV: 90-106; V: 107-150). Tema syukur mazmur ini melanjutkan Mazmur 105 dan 106. Namun, alasan bersyukur lebih kepada pertolongan Tuhan dalam berbagai situasi kehidupan.Alasan mendasar bersyukur diberikan pada ayat 2-3, yaitu Allah telah menebus mereka.Alasan spesifik diberikan dalam ayat-ayat 4-9, 10-16, 17-22, dan 23-32. Ayat 33-43 memaparkan karya Tuhan yang mengubah ‘situasi’ manusia dari keadaan tidak berdaya menjadi diberkati, sebaliknya yang merasa hebat menjadi tak berdaya (33-43).
Situasi pertama (4-9) menggambarkan orang-orang yang tersesat dalam perjalanan menuju kota (4-5). Di padang gurun sejauh mata memandang, hanya pasir melulu. Tanpa arah yang pasti, orang bukan hanya tersesat, tetapi juga akan mati kehausan dan kelaparan. Tuhan menyatakan belas kasih-Nya.Ia menunjukkan jalan yang lurus mencapai kota. Biasanya perjalanan di padang gurun dihubungkan ke peristiwa sesudah keluaran. Namun beberapa frasa yang dipakai di ayat 4-7 dekat dengan nubuat Yesaya mengenai pemulangan umat Israel yang dibuang ke Babel. Bandingkan ayat 7 dengan Yesaya 40:3; 43:19-20. Pembuangan ke Babel adalah kenyataan pahit. Keselamatan dari Tuhan, adalah pemulangan ke tanah perjanjian, yang walaupun secara harfiah perjalanan berat dan berliku-liku, tetapi penyertaan-Nya membuat jalan serasa lurus!
Ketersesatan di padang gurun melambangkan ketersesatan karena dosa. Seseorang kehilangan arah karena mencari jalan sendiri, bukan jalan Tuhan. Akibatnya, haus dan lapar yang melumpuhkan.Hanya pertolongan Tuhan yang dapat memerdekakan dari belenggu dosa dan memberikan kelegaan serta kembali ke jalan yang benar. Berserulah kepada Tuhan, Ia akan segera menolong!
29 Juni 2013

TIDAK KOMPROMI DENGAN BERHALA

Pasti kita bukan satu-satunya penghuni rumah kita. Selain pemilik rumah, di dalam rumah biasanya ada berbagai hewan, mulai dari hewan peliharaan seperti anjing atau kucing, hingga hewan yang dianggap sebagai hama, seperti tikus, semut, dll. Terhadap yang disebut terakhir ini, jelas orang-orang yang tinggal di rumah itu tak mau kompromi. Sebisa mungkin hewan-hewan pengganggu itu dienyahkan.
Allah pun tidak mau bangsa Israel berkompromi dengan berhala. Ini terlihat dari perintah-perintah-Nya, di dalam nas hari ini. Mereka dilarang membuat patung-patung sesembahan, terutama yang terbuat dari perak dan emas (23). Ketika mendirikan mezbah bagi Allah, mereka tak boleh menggunakan batu pahat, karena batu jenis ini biasa digunakan orang Kanaan untuk mendirikan mezbah bagi dewa-dewi mereka; mereka juga dilarang menggunakan beliung, sejenis kapak, karena alasan serupa (25). Larangan untuk membangun mezbah yang tinggi kelihatannya disebabkan alasan serupa, yaitu imam-imam orang Kanaan terbiasa membiarkan aurat mereka tak tertutup saat mempersembahkan korban (26). Larangan-larangan ini disempurnakan dengan beberapa perintah positif. Pertama, Israel mesti mengingat bahwa Allah telah berfirman secara langsung kepada mereka, kehadiran-Nya di hadapan mereka nyata (22), tak abstrak seperti dewa-dewi yang hanya bisa dilihat patungnya. Kedua, tempat persembahan haruslah ditentukan oleh Allah sendiri, dan di tempat itulah Allah akan datang dan memberkati mereka (24).
Allah tetap menghendaki kita untuk terus berperang dan tidak berkompromi dengan berhala. Namun berhala-berhala yang kita perangi kini tak hanya berupa dewa-dewi ataupun roh-roh. Berhala masa kini juga bisa berupa ambisi, harta, teknologi, sensasi inderawi, ketenaran, dan lainnya. Intinya, berhala adalah apa pun yang kita tempatkan sebagai hal dan terpenting bagi diri hidup kita, yang menggantikan posisi Allah. Jangan kompromi dengan hal-hal itu. Gumuli semuanya di dalam terang firman Allah, dan kita akan melihat bagaimana Allah berperang bagi kita dan memberkati kita.
28 Juni 2013

JANGANLAH TAKUT ATAU TAKUTLAH ?

Kata takut punya beberapa arti. Takut bisa berarti perasaan gentar yang melumpuhkan, yang membuat seseorang hanya bisa melarikan diri sejauh mungkin dari hal atau orang yang ditakuti. Bahkan, mungkin, saking ketakutannya, orang tersebut tak bisa berbuat apa-apa selain berdiri mematung sambil gemetaran. Namun, takut juga bisa memiliki arti yang lebih positif. Takut berarti perasaan segan, respek, ataupun hormat kepada sesuatu atau seseorang.
Jika kita membaca nas ini sepintas kita bisa berkesimpulan bahwa ayat 20 memuat kalimat yang kontradiktif: Israel diminta “Janganlah takut …”, tetapi juga diminta supaya “takut akan Dia ada padamu.” Namun kita tak perlu berkesimpulan demikian. Israel diminta untuk “jangan takut” dalam arti supaya mereka tidak larut dalam kengerian yang melumpuhkan karena takut mati (19). Musa menegaskan, bahwa kedatangan Allah justru untuk “mencoba” mereka, yaitu untuk memberikan kesempatan, bahkan menantang mereka, untuk mengambil pilihan yang tepat. Apa pilihan yang tepat itu? Dengan mempertahankan “takut” akan Allah sehingga mereka tidak berbuat dosa. Takut di sini punya makna yang berbeda dengan takut sebelumnya. Takut di sini berarti respek dan hormat, sehingga mereka mau mematuhi perintah Allah, khususnya kesepuluh perintah yang telah diberikan. Inilah ajakan Allah melalui Musa kepada bangsa Israel.
Kristus telah menaklukkan ketakutan yang membabi-buta terhadap Allah, sehingga kita kini boleh bersekutu dengan Dia, bukan tanpa rasa takut (Luk. 1:74 menunjuk pada ketakutan disiksa karena melayani Allah), tetapi dengan takut yang tepat, yaitu takut akan Dia yang telah menyelamatkan kita, yang diekspresikan melalui ketaatan kepada-Nya dan pada perintah-perintah-Nya. Jika kita takut akan Allah, pertanyaan pertama kita setiap hari bukanlah janji dan berkat apa yang bisa kita tuntut dari-Nya hari ini, tetapi bagaimana kita bisa menyenangkan Dia hari ini? Itulah sikap orang yang telah benar-benar mengecap karya keselamatan-Nya. Mengapa? Karena keseluruhan hidup kita adalah persembahan syukur kita kepada Allah Tritunggal.
27 Juni 2013

ARTI BERELASI DENGAN ALLAH

Kehidupan berbangsa di republik tercinta ini beberapa kali dikotori perbuatan tercela atas nama Tuhan. Segelintir orang secara demonstratif menonjolkan identitas-identitas “ketuhanan”, tetapi melakukan perbuatan yang bertabrakan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mau tidak mau, suka tidak suka, pesan yang kita dapat dari tindakan seperti itu adalah, orang boleh menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan, asal dilandaskan atas nilai-nilai “ketuhanan” versi mereka.
Nas hari ini bertentangan dengan interpretasi seperti di atas. Di dalam nas yang bisa dikatakan menjadi puncak keseluruhan Perjanjian Lama ini, Allah pertama-tama menegaskan bahwa diri-Nyalah “Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar … dari tempat perbudakan” (1). Jadi relasi mereka didasari oleh inisiatif penyelamatan Allah atas Israel. Atas dasar karya-Nya yang ajaib itu, Allah memberikan tuntutan dan perintah yang mesti ditaati. Berbeda dengan tuntutan dewa-dewi bangsa lain yang melulu berkisar pada pemberian kurban materiil, kesepuluh perintah Allah justru bersifat teologis dan etis. Kesepuluh perintah itu bisa digolongkan ke dalam dua bagian besar: perintah-perintah yang berkaitan dengan Allah (2-11) dan dengan manusia (12-17). Artinya, jika bangsa Israel hanya menaati perintah yang berkenaan dengan Allah, tetapi tak mengindahkan perintah tentang perilaku kepada sesama manusia, itu berarti tidak taat.
Maka kita layak bertanya: bagaimana saya bisa menaati perintah ini dan bagaimana ketaatan saya mempengaruhi relasi saya dengan Allah Tritunggal yang menyelamatkan saya. Di sini kita tidak mencari perasaan suci yang legalistis, seakan kita hebat kalau mampu melaksanakannya. Sebagaimana Allah melepaskan Israel terlebih dahulu dari perbudakan sebelum memberikan perintah-Nya, demikian juga Allah mengutus Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Roh Kudus sebagai pendamping, yang memampukan dan menuntun kita dalam menaati semuanya. Saat kita taat, di situ kita justru melihat karya dan kehebatan Allah di dalam ketaatan kita. Itulah arti berelasi dengan-Nya.
26 Juni 2013

TUHAN AKAN DATANG

Bayangkan jika Anda tiba-tiba menerima pemberitahuan resmi bahwa presiden republik yang tercinta ini akan datang bertamu ke rumah Anda. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Boleh jadi Anda akan merapikan penampilan diri dan rumah Anda. Namun bisa juga Anda berkonsentrasi memberitahu sebanyak mungkin orang tentang kabar membanggakan ini. Bukankah ini yang terpenting, Anda bisa membanggakan sesuatu yang tak dialami orang lain?
Di sini Allah menegaskan kepada Musa, bahwa Ia “akan datang kepadamu dalam awan tebal,” supaya ketika Allah berfirman kepada Musa, bangsa Israel bisa turut mendengar (9). Ayat ini mengilustrasikan satu hal yang diminta Allah dari Israel: memahami perintah Allah dan menaatinya. Karena itulah sebelumnya Allah, melalui Musa, meminta Israel untuk “sungguh-sungguh mendengar firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku” (5), dan kemudian menyuruh mereka menguduskan diri (10), bersiap (11), tidak menyentuh gunung itu (12-13, 21, 24), dan supaya para imam menguduskan diri (22). Karena itu, kedatangan Tuhan menuntut ketaatan Israel dengan cara mengerti kehendak-Nya dan melakukannya. Buah ketaatan ini didefinisikan melalui tiga janji Allah. Pertama, Israel akan menjadi “harta kesayangan” Allah di antara bangsa-bangsa lain (5). Kedua, Israel akan menjadi “kerajaan imam”, dalam arti berperan sebagai imam yang melayani dan memuliakan Allah (6). Ketiga, mereka akan menjadi “bangsa yang kudus”, terpisah dari dunia, dan menjadi contoh tentang bagaimana relasi perjanjian dengan Allah mengubah suatu bangsa.
Sebagai orang Kristen, kebanggaan kita tak terletak pada kebanggaan sosial yang kita dapat saat melayani Tuhan. Kebanggaan kita justru terletak pada ketaatan kita, walaupun sikap taat itu membuat orang lain mencemooh kita. Janji-janji Allah jauh lebih indah dari semua cercaan itu. Apa lagi semua janji kepada Israel sudah mulai kita rasakan melalui karya penebusan Kristus dan tuntunan Roh Kudus. Mestinya kita tak sibuk memikirkan apa yang bisa kita banggakan. Kita justru harus bertanya: bagaimana saya bisa taat kepada Allah hari ini?
25 Juni 2013

PENDELEGASIAN PELAYANAN

Kadangkala persepsi orang tentang sosok seorang pelayan dicemari konsep dunia tentang pemimpin. Seorang pemimpin tak jarang dianggap pahlawan super sekaligus artis mahaterkenal. Ia diberi berbagai penghargaan, karena dirinya, entah sukarela atau karena terpaksa, mau menanggung semua beban. Akibatnya, pelayanan yang dilakukan nyaris menjadi aksi solo, sedangkan orang lain menjadi figuran atau penonton. Hal ini berdampak negatif, baik pada diri orang tersebut, dan juga pada orang-orang yang dilayani dan yang bekerja sama dengannya.
Yitro mulai mengamati potensi munculnya dampak negatif pada diri Musa, juga pada bangsa Israel (18). Apa yang dilakukan Musa saat itu terlalu berat untuk dilakukan seorang diri saja, jika ia harus melayani mereka satu per satu seharian. Orang-orang yang datang mengadu pun akan kepayahan jika harus antri seharian. Karena itu, Yitro memberikan nasihat penting. Pertama, Musa mesti terus menjadi jembatan komunikasi dua arah antara Allah dengan bangsa Israel. Ia harus tetap mewakili Israel di hadapan Allah dan menyampaikan “perkara-perkara” mereka kepada Allah (19), juga mengajarkan kepada Israel “ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan” Allah, dan juga “jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan” (20). Kedua, Musa mesti melakukan pendelegasian dengan mencari orang-orang yang “cakap dan takut akan Allah, … dapat dipercaya … dan benci … suap” (21). Merekalah yang akan menangani kasus-kasus yang lebih ringan. Yitro menegaskan bahwa Allah pun “memerintahkan hal itu kepadamu” (23).
Pendelegasian seperti ini patut diteladani di dalam pelayanan, khususnya di dalam konteks gereja. Ketika tuntutan pelayanan makin bertambah, sewajarnyalah tugas-tugas tertentu didelegasikan kepada orang-orang yang terpilih, dilatih, dan selalu mengutamakan kehendak Allah (20). Dengan demikian, pelayanan di gereja takkan menjadi ajang aksi solo seorang hamba Tuhan tertentu, tetapi persekutuan yang saling melengkapi di dalam Allah Tritunggal.
24 Juni 2013

BERSAKSI TENTANG PERBUATAN TUHAN

Orang Indonesia terkenal gemar bertukar cerita. Apa lagi jika seseorang baru melakukan perjalanan panjang, bahkan mencapai tempat-tempat yang jauh dan tak pernah dikunjungi kerabat dan kenalannya. Tentu saja, orang itu akan memilih cerita yang paling menarik perhatian. Makin seru dan aneh, makin bagus, walaupun belum tentu dirinya sendiri yang mengalaminya. Kepuasan tersendiri didapatkan ketika kerabat dan kenalan itu terpukau mendengar ceritanya.
Konteks Musa sedikit terbalik. Ia dan bangsa Israel sedang menempuh perjalanan jauh, tetapi Yitro, mertuanya, mendatangi dia beserta istri Musa dan kedua putranya (2-5). Saat bertemu, Musa menceritakan segala perbuatan Allah bagi Israel, mulai dari “segala sesuatu yang dilakukan Tuhan kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel,” dan juga segala kesusahan yang Israel alami dan “bagaimana Tuhan menyelamatkan mereka” (8). Setelah mendengar cerita itu, Yitro bersukacita (9) dan memuji Tuhan (10-11), lalu mempersembahkan korban bakaran dan sembelihan kepada Allah (12). Respons Yitro kontras dengan perbuatan Israel yang telah kita baca di dalam kisah sebelumnya. Yitro belum pernah melihat langsung perbuatan-perbuatan itu, hanya mendengar cerita Musa, tetapi ia memuji Allah karenanya. Bangsa Israel sudah berkali-kali melihat dan merasakan perbuatan ajaib Allah, tetapi masih saja menggerutu dan menunjukkan ketidakpercayaan.
Di dalam nas ini kita melihat teladan Musa, yang sigap menyampaikan kesaksian tentang perbuatan ajaib Allah. Sikap ini mesti kita contoh. Ada baiknya tiap perjumpaan dengan kerabat dan kenalan, kita isi dengan cerita-cerita yang menunjukkan anugerah penyertaan Allah di dalam hidup kita, dan bukan adu hebat cerita siapa yang paling menarik. Juga ada teladan dari Yitro. Meski tidak melihat langsung peristiwa yang disaksikan Musa, Yitro mengucap syukur kepada Allah. Kesiapan untuk bersyukur melihat anugerah penyertaan Allah pada orang lain merupakan bagian dari persekutuan kita dengan Allah dan sesama.
23 Juni 2013

KETIDAKTAATAN DAN KASIH SETIA

Apa yang pantas kita terima dari Tuhan, kalau kita sering tidak taat kepada-Nya? Masihkah kita merasa layak diampuni, dipulihkan, dan diberkati dengan limpah?
Di padang gurun, ketidaksetiaan umat ternyata tidak membatalkan kasih setia Tuhan. Ia tetap memimpin mereka memasuki tanah Kanaan. Namun, di tanah pusaka ini kembali mereka memberontak terhadap Tuhan. Mereka menolak taat kepada perintah Tuhan, yaitu membinasakan penduduk Kanaan (34-35). Akibatnya mereka pun dipengaruhi oleh penduduk Kanaan, terutama dalam beribadah. Mereka melakukan perzinaan rohani, dengan menyembah ilah-ilah bangsa-bangsa di Kanaan (36-39). Ibadah Kanaan merupakan ibadah yang menjijikkan dan mengerikan (37-38). Lebih mengerikan lagi umat Israel ikut-ikutan dalam ibadah tersebut!
Namun demikian, kasih setia Tuhan tetap menopang mereka, walau dengan cara yang keras, yaitu dengan menyerahkan mereka kepada bangsa-bangsa musuh yang menjajah dan menyengsarakan. Ya, kejahatan mereka dibalas dengan pendisiplinan dari Tuhan.Berulang kali mereka jatuh ke dalam dosa, berulang kali pula Tuhan menghajar mereka.Semua itu Tuhan lakukan karena Perjanjian-Nya dengan mereka.Ia tetap Allah mereka, dan mereka tetap umat-Nya. Hal itu dilakukan-Nya agar mereka sadar bahwa ketidaktaatan mereka menyedihkan hati-Nya.Ia ingin mereka bertobat.
Kalau Tuhan berlaku keras terhadap kita yang gampangan dalam menjaga kekudusan kita, itu tandanya Ia mengasihi kita. Kita sudah ditebus dengan harga yang mahal, yaitu darah Kristus. Masak kita bermain-main dengan dosa, sepertinya pengurbanan-Nya tidak berarti bagi kita? Sebelum hajaran-Nya menimpa kita dengan keras, bertobatlah! Taat firman-Nya, hidup kudus dan jauhi godaan untuk melampiaskan hawa nafsu.
22 Juni 2013

SIAPA TUHAN BAGI KITA ?

Kadang orang salah sangka terhadap Allah, mengira bahwa Allah mesti berkarya sesuai dengan cara yang mereka maui. Jika tidak, artinya Allah tidak ada. Mereka berasumsi, karena Allah Maha Kuasa, mestinya semua kehendak mereka bisa dilaksanakan. Teologi seperti ini memposisikan Allah sebagai Jongos Maha Kuasa, yang mesti siap meladeni segala kehendak mereka. Padahal Allah berdaulat dan berkehendak di dalam hikmat dan kekudusan-Nya.
Ketika bangsa Israel tiba di Rafidim dan tak menemukan air (1), sebenarnya mereka cukup meminta kepada Allah melalui Musa. Namun kekecewaan atas tidak terpenuhinya ekspektasi mereka ini membuat mereka menuduh Musa, dan dengan demikian, menuduh Allah membawa mereka keluar hanya untuk membiarkan mereka mati kehausan (3). Tampak bahwa ekspektasi mereka atas Allah didasari teologi yang dangkal. Karena itu, Allah lebih lanjut menyatakan diri melalui dua peristiwa ajaib: air yang keluar dari gunung batu di Horeb (6) dan kemenangan Israel atas Amalek (8-16). Di keduanya, Allah tidak begitu saja mengaruniakan air dan kemenangan, sementara bangsa Israel tinggal bersantai menunggu hasilnya. Allah menunjukkan bahwa diri-Nya memang benar-benar maha kuasa dan lebih dari sanggup untuk memelihara mereka. Namun, Ia menggunakan hamba-hamba-Nya untuk melaksanakan kehendak dan mukjizat-Nya. Allah memakai ketaatan Musa, Harun, dan Yosua, juga bangsa Israel sendiri, untuk melaksanakan mukjizat penyertaan-Nya.
Siapa Allah di dalam pandangan kita? Jika kita masih menganggap Allah sebagai Jongos Maha Kuasa, di mana sebagai orang Kristen kita cukup santai menikmati segala berkat dan hak yang dijanjikan-Nya, maka kita mesti bertobat. Allah menghendaki yang terbaik untuk kita, anak-anak-Nya, tetapi sesuai dengan hakikat diri-Nya dan berdasarkan kehendak-Nya. Kita adalah alat yang Dia pakai untuk menyatakan kehendak dan karya-Nya, tidak hanya bagi diri kita pribadi, tetapi juga bagi orang lain, bahkan seluruh kosmos ini. Marilah kita terus belajar mengenal-Nya, dan terus taat pada perintah-perintah-Nya.
21 Juni 2013

PILIH ALLAH ATAU PERBUDAKAN ?

Logisnya, tak ada orang yang sudi diperbudak. Meskipun begitu, banyak orang yang dengan sukarela membiarkan dirinya diperbudak sesuatu yang negatif. Sebagai contoh, ada orang yang membiarkan dirinya menjadi budak narkoba, padahal ia sadar bahwa narkoba berdampak buruk bagi dirinya. Sayangnya, walaupun orang-orang terdekatnya melakukan intervensi untuk menyadarkan dirinya, yang bersangkutan akhirnya kembali jatuh ke dalam kubangan yang sama.
Israel mirip orang tadi. Di dalam nas ini, kita membaca permulaan kecintaan mereka pada masa perbudakan yang kelam itu. Mereka tidak hanya dipaksa kerja rodi (Kel. 1:8-14). Saking hitamnya kondisi mereka di Mesir, bayi-bayi lelaki Israel yang baru lahir pun dibantai orang Mesir tanpa kenal ampun (Kel. 1:15-22). Namun rupanya mereka sudah melupakan semua itu. Yang mereka ingat, di Mesir mereka bisa “duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” (3). Karena itulah Allah berfirman bahwa Dialah Tuhan, Allah, satu-satunya yang layak diandalkan sebagai sumber pangan, dan bukan Mesir; dan juga bertindak dengan mengaruniakan kawanan burung puyuh sebagai sumber protein hewani mereka dan manna, sebagai “roti” mereka (12). Sebagai gantinya, Allah hanya meminta umat Israel untuk taat pada perintah-Nya. Di dalam konteks ketaatan inilah, Allah melaksanakan janji-janji-Nya, dan bukan menghukum Israel. Menikmati penggenapan janji-janji ini jelas lebih nikmat daripada perbudakan, bukan?
Yesus berkata, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24; bdk. Luk. 16:13). Kita tak boleh menjadi seperti Israel, yang justru merindukan kembali masa lalu yang kita anggap lebih enak, walaupun sebenarnya nista dan kejam. Nikmat berbuat dosa, apa pun itu, takkan bisa menandingi penggenapan berbagai janji-janji Allah di dalam kehidupan kita. Kita takkan bisa melakukan keduanya, kembali mencicipi dosa sambil berusaha terus memelihara persekutuan dengan Dia. Salah satu harus ditinggalkan. Alangkah ruginya, jika kita memilih untuk meninggalkan Allah.
20 Juni 2013

BERSUNGUT-SUNGUT vs BELAJAR TAAT

Mengeluh itu sebenarnya manusiawi. Keluhan biasanya ditujukan kepada pihak yang dianggap lebih berkuasa. Keluhan bisa saja wajar dan punya dasar, tetapi bisa juga sebaliknya. Misalnya, ketika kita butuh sesuatu, tetapi pihak yang menurut kita mestinya menyediakan kebutuhan itu, gagal melakukannya.
Bangsa Israel merasa Allah gagal menyediakan air minum yang layak di dalam perjalanan mereka (22-23). Karenanya, mereka “bersungut-sungut”. Keluhan mereka kepada Musa dijawab dengan sebuah tindakan luar biasa dari Allah (25) yang menggarisbawahi satu hal penting: Allah terus menyertai mereka, termasuk mencukupkan kebutuhan air minum mereka. Ketika kekurangan air, mereka menemui mata air berlimpah (27). Ketika air yang mereka temui pahit, Allah membuatnya menjadi manis. Atas dasar karya anugerah Allah ini, Allah “mencoba” mereka (25b): Allah tidak dengan sewenang-wenang meneropong ke masa depan melalui kemahatahuan-Nya untuk mencari tahu apakah mereka akan taat atau tidak; Ia justru memberi kesempatan kepada bangsa Israel untuk menunjukkan secara konkret siapa sebenarnya diri mereka, apakah mereka “sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan” ketika berhadapan dengan kesulitan, atau malah sebaliknya. Jika mereka memilih taat, mereka akan menerima jaminan penyertaan dari Dia “yang menyembuhkan” (26).
Sebagai orang yang telah mengecap karya keselamatan Kristus, nas ini tak mengajar kita untuk bersikap seperti bangsa Israel yang menagih-nagih manifestasi penyertaan Allah. Sebaliknya, kita dipanggil untuk taat, yang didefinisikan melalui kepekaan pendengaran, memahami perintah, serta kesiapan untuk melakukannya (27). Inilah yang dikehendaki Allah dalam hidup kita, sebagai respons atas karya keselamatan-Nya. Apa yang Anda lakukan, yaitu membaca dan merenungkan firman-Nya, merupakan bagian ketaatan. Namun tidak berhenti pada saat teduh. Ketaatan mesti mewujud pada kehidupan; firman yang kita renungkan mesti menjelma ke dalam perbuatan dan perkataan kita. Inilah arti ketaatan yang sesungguhnya.
19 Juni 2013

BUKAN PENGUCAPAN SYUKUR BIASA

Di jemaat tempat saya bergereja, orang biasanya mengadakan Kebaktian Pengucapan Syukur untuk merayakan kelahiran anak, ulang tahun, kelulusan, rumah baru, pekerjaan baru, dan banyak lagi. Biasanya, di tengah perayaan itu pelayan firman mengingatkan semua yang hadir untuk mengucap syukur kepada Allah atas hal baik yang telah terjadi. Lalu sang kepala keluarga menjelaskan apa sebenarnya yang dirayakan itu, beserta ucapan terima kasih untuk semua yang mendukung, juga atas kesediaan menghadiri perayaan itu.
Nas ini memberikan cara pandang yang lebih spesifik atas sebuah perayaan keberhasilan. Bangsa Israel berhasil lolos dari kejaran bala tentara Firaun, karena faktanya kaki mereka sendiri yang melangkah dan membawa mereka menjauh. Namun seperti yang kita lihat kemarin, langkah kaki itu tak mungkin terjadi tanpa karya dahsyat Allah. Mereka takkan mungkin lolos tanpa “tangan kanan Tuhan” yang menghancurkan musuh. Bahkan, nyanyian Musa ini justru tak mengagungkan lolosnya Israel atas campur tangan Allah: itu hal sekunder. Yang diagungkan adalah sosok Allah sendiri, karena sejak awal Musa berkata, “Baiklah aku menyanyi bagi Tuhan” (1). Isi kidung pujian ini pun melulu tentang apa yang dilakukan Allah, baik terhadap musuh-musuh-Nya (1, 4-10; 12-16) maupun kepada Israel, umat-Nya (16-18), bukan sekadar nyanyian tentang kehancuran musuh-musuh Allah dan keselamatan Israel berkat campur tangan-Nya. Kelihatannya kedua hal ini sama, padahal tidak. Di yang pertama, Allah diakui sebagai subjek, sementara di yang terakhir Ia sekadar ditempatkan sebagai keterangan pelengkap.
Tidak semua kita diberi talenta untuk menggubah lagu, tetapi kita diberi kemampuan untuk menceritakan, entah dengan kata-kata, karya seni, pekerjaan, bahkan senyum di muka kita, seperti apa hidup kita ini kita maknai, dan siapa subjek utama di dalamnya. Sebagai orang Kristen, sewajarnyalah, kita memaknai hidup kita sebagai ranah di mana Allah memerintah selama-lamanya (18), sebagai kekuatan, mazmur, dan keselamatan kita (2).
18 Juni 2013

ALLAH MENUNJUKAN KUASA-NYA

Tentu Musa tidak bermaksud munafik ketika sebelumnya ia terlihat sangat beriman kepada Allah di depan orang-orang sebangsanya, tetapi di hadapan Allah ia tampaknya menyuarakan keputusasaan. Ini bisa kita lihat dari respons Tuhan di ayat 15.
Lalu Musa diperintahkan untuk melakukan serangkaian tindakan untuk membelah Laut Teberau supaya orang Israel dapat berjalan di tengah-tengahnya (16). Allah bertujuan agar orang Mesir, termasuk Firaun tentunya, tahu bahwa Allah Israel adalah Tuhan (18).
Benar saja, Allah bekerja secara ajaib melawan Mesir. Ia membuat tentara Mesir mengalami masalah (24-25) sampai bangsa Israel berhasil menyeberangi Laut Teberau. Waktu tentara Mesir memaksakan diri untuk mengejar orang Israel, Tuhan membuat air Laut Teberau melanda mereka hingga binasa (26-28, 30).
Peristiwa Laut Teberau menjadi titik balik dalam sejarah Israel. Bila sebelumnya mereka berada di bawah kuasa Mesir, saat itu mereka menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan menyingkirkan orang Mesir dari kehidupan mereka. Matinya tentara Mesir merupakan konfirmasi bahwa kelepasan mereka dari Mesir sungguh nyata. Mereka tidak perlu lagi merasa tertekan karena bangsa lain menindas mereka. Identitas mereka sebagai bangsa, terutama sebagai bangsa pilihan Allah, telah dipulihkan oleh Allah yang memilih mereka.
Mukjizat terbelahnya Laut Teberau tampak merupakan jawaban atas pertanyaan Firaun di Keluaran 5:2 “Siapakah Tuhan itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku Tuhan itu...”. Tuhan telah menunjukkan kuasa-Nya sehingga baik orang Israel, (31) maupun orang Mesir, atau siapapun akan mengetahui kedahsyatan Allah Israel.
Allah memang tidak tinggal diam ketika umat-Nya bergumul dengan masalah. Dilepaskannya kita dari krisis atau pencobaan akan merupakan kesaksian tentang kuasa Allah yang membuat kita semakin percaya kepada Dia. Maka berserulah kepada Allah bila Anda sedang bergumul dengan masalah. Minta Dia menolong Anda.
17 Juni 2013

TUHAN PASTI MENYELAMATKAN

Kuldesak adalah sebuah kata serapan yang bermakna jalan buntu atau tertutup. Di dalam nas hari ini, Israel seolah berada di kuldesak. Firaun, yang sebelumnya mengizinkan mereka pergi, kemudian berubah pikiran. Padahal sebelumnya ia menyuruh Musa untuk membawa rakyat Israel sekaligus hewan ternak mereka untuk keluar dari Mesir (Kel. 12:31-32) setelah Mesir mengalami serangkaian tragedi memilukan. Mungkin Firaun telah melupakan ratap tangis yang bergema di seluruh negeri akibat setiap rumah tangga kehilangan anak sulung mereka.
Akan tetapi setelah bangsa Israel pergi, Firaun menyesali keputusannya lalu mengejar mereka dengan membawa pasukan perang (6-8). Tentu saja kecepatan kereta perang tak sebanding dengan kecepatan orang berjalan. Maka dalam waktu yang tidak lama, pasukan Mesir berhasil menyusul orang Israel (9-10). Tidak ada jalan keluar bagi Israel, kecuali melalui jalan dari mana mereka datang sebelumnya. Namun tentu saja tentara Mesir telah menguasai jalan itu.
Bagai dikejar anjing galak, Israel mulai ketakutan dan berseru kepada Tuhan. Mereka juga protes kepada Musa yang dianggap telah mengganggu ketenangan hidup serta membahayakan nyawa mereka (11-12). Ketakutan orang Israel dapat dimaklumi, tetapi perkataan mereka menunjukkan kurangnya iman kepada Tuhan.
Bila Anda di tempat Musa, bagaimana perasaan Anda? Tentu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin Musa sendiri tidak mengerti kenapa Tuhan menempatkan mereka dalam situasi demikian. Namun ia tahu bahwa Tuhan pasti menyelamatkan umat-Nya dan mengalahkan musuh-Nya (13-14).
Ada masalah atau situasi dalam hidup yang dapat membuat kita panik karena merasa tidak ada jalan keluar. Kita ketakutan karena terdesak. Namun ingatlah bahwa kepanikan serta ketakutan dapat melemahkan harapan dan iman kita sehingga bisa mendorong kita melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Seperti Musa, marilah kita belajar untuk menaruh iman dan harap penuh hanya kepada Allah yang tidak akan pernah meninggalkan kita.
16 Juni 2013

MUDAH BERSUNGUT-SUNGUT

Padang gurun memang bukan tempat yang nyaman. Siang hari, kering dan terik, dan haus. Di malam hari, dinginnya menusuk tulang. Namun, Israel mampu menjalani hidup di padang gurun 40 tahun, sampai alih generasi, tanpa berkekurangan suatu apa pun (Ul. 29:5). Di padang gurun, penyertaan Tuhan sangat nyata. Tiang awan dan tiang api menyertai mereka (Kel. 13:21-22). Mata air yang memuaskan dahaga, serta manna sebagai makanan pokok mereka, jelas berasal dari Tuhan. Burung puyuh yang ditiupkan Tuhan secara berkala ke perkemahan Israel adalah bukti pemeliharaan Tuhan. Di perjalanan yang gersang dan sulit itu, hadirat Tuhan jauh lebih nyata dibandingkan saat mereka menetap di tanah perjanjian.
Toh, kehadiran Tuhan yang begitu nyata tidak membuat mereka berpuas hati. Bilangan 14:22 menuliskan bahwa Allah mencatat mereka memberontak 10 kali. Cukuplah Allah bersabar terhadap sikap tak tahu bersyukur Israel. Ia harus menghukum mereka keras (15)!
Di antara pemberontakan itu, ada yang sangat serius, seperti memberontak kepada pemimpin mereka, Musa dan Harun (16), menyembah lembu emas (19-20), menolak masuk ke negeri perjanjian (24-25), menyembah baal peor (28-29). Ada pula yang sepertinya sepele, bersungut-sungut karena makanan (14). Namun sebenarnya sama seriusnya karena ketidakpercayaan mereka kepada Tuhan. Penghukuman Tuhan pantas dan adil. Namun, penghukuman itu bukan untuk menghancurkan mereka melainkan agar bertobat dan tidak bersungut-sungut lagi.
Berapa kali dalam hidupmu Anda bersungut-sungut kepada Tuhan? Tidak puas dengan cara Tuhan mengelola hidup Anda? Anda bahkan sering memilih jalan sendiri yang jelas-jelas melawan kehendak-Nya? Jangan sampai Dia harus menghajar Anda, baru kapok dan bertobat. Belajar dari Israel. Belajarlah mengucap syukur karena Dia mengasihi Anda.
15 Juni 2013

TUNTUTAN DAN PENYERTAAN

Setelah berada dalam bayang-bayang Mesir ratusan tahun lamanya, Israel akan menjadi bangsa yang merdeka. Bukan karena perjuangan mereka sendiri, melainkan karena kuat kuasa Allah yang beranugerah.
Kepada bangsa yang baru merdeka itu, Allah memberikan aturan mengenai anak sulung (1-2, 11-16), roti tidak beragi (3-7), dan perintah untuk memperingati karya Allah (8-10).
Anak sulung, baik anak sulung manusia maupun hewan, harus dikuduskan bagi Allah karena anak sulung adalah milik Allah (bdk. Kel. 4:22). Anak sulung dianggap sebagai yang terbaik dan yang terbaik layak dipersembahkan kepada Allah. Dan ini akan dilakukan Israel setelah mereka memasuki Tanah Perjanjian (5, 11-12), sebagai peringatan akan karya Allah dalam membebaskan Israel dari perbudakan Mesir sebagaimana peringatan Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi (bdk. Kel. 12:14-15). Maka peringatan akan karya Allah tersebut harus dilakukan dengan makan roti yang tidak beragi selama tujuh hari (7). Dalam peringatan ini, orang tua Israel harus memberitahu anak laki-laki mereka tentang makna peringatan itu (8, 14-16). Tentu ini bertujuan agar generasi yang lahir kemudian tetap mengenal Allah dan karya-Nya yang besar.
Bila untuk masa yang akan datang Allah telah menyatakan pengarahan-Nya maka untuk masa yang sedang berlangsung pun Allah menunjukkan penyertaan-Nya. Allah memahami benar kondisi psikologis bangsa Israel saat itu serta bahaya yang akan menghadang mereka. Karena itu Allah menuntun Israel melalui jalan lain meskipun mereka berjalan dalam kondisi siap berperang (17-18). Hal yang sama juga terjadi dalam perjalanan kita bersama Allah. Jalan yang kita rasa benar mungkin justru merupakan jalan yang penuh bahaya yang tidak terpikirkan oleh kita. Namun Allah tidak akan membiarkan kita. Ia niscaya melindungi kita. Seperti adanya tiang awan dan tiang api (21-22) yang menggambarkan jaminan penyertaan penuh atas umat, kita pun akan menikmati penyertaan yang juga penuh asal kita mau tunduk pada Allah.
14 Juni 2013

MEMPERINGATI HARI TUHAN

Perjamuan Paskah hanya berlaku bagi umat Israel karena sebagai keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub, merekalah yang berhak menerima janji-janji Allah.
Nas hari ini berisi ketentuan tambahan mengenai perayaan Paskah yang harus dilakukan di rumah masing-masing dan tidak boleh ada makanan yang dibawa ke luar rumah (46). Lalu bagaimana jika ada orang asing di tengah-tengah mereka? Tuhan memberi ketentuan bahwa para pendatang dan orang upahan tidak diperbolehkan ikut makan Paskah (45). Namun budak belian serta orang asing yang telah lama menetap dan ingin merayakan Paskah bersama orang Israel diperbolehkan ikut merayakan Paskah dengan syarat disunat terlebih dahulu (48). Karena setiap orang yang ingin ambil bagian dalam perayaan Paskah harus terlebih dahulu menjadikan dirinya sebagai bagian dari bangsa Israel.
Sunat memang menjadi semacam identitas bagi orang Israel. Setiap laki-laki Israel berkewajiban untuk disunat karena sunat merupakan tanda iman terhadap perjanjian Allah, seperti yang telah dinyatakan kepada Abraham, nenek moyang bangsa Israel. Maka setiap orang yang menyatakan diri sebagai bagian dari umat Israel harus merayakan Paskah dan setiap orang yang ingin merayakan Paskah harus memastikan diri sudah disunat. Peraturan mengenai sunat, dalam kaitannya dengan peringatan Paskah tersebut, dinyatakan karena yang keluar dari Mesir ternyata bukan orang Israel saja. Ada banyak orang dari berbagai-bagai bangsa di dalam rombongan itu (Kel. 12:38).
Di dalam kekristenan pun, ada perayaan atau peringatan atas karya Tuhan di masa lampau, yang menjadi bagian dari sejarah kekristenan. Walau sudah menjadi bagian dari masa lalu, peristiwa-peristiwa tersebut tetap harus diperingati atau dirayakan sebagai bahan pengetahuan dan ingatan bagi setiap generasi, agar mereka tidak melupakan dan meninggalkan Allah. Melalui peringatan atas karya Tuhan, setiap generasi dapat tetap mengenal serta menyembah Allah yang hidup dan berkuasa.
13 Juni 2013


KUAT KUASA ALLAH

Bayangkan jika kita memiliki anak sulung yang tiba-tiba meninggal dunia tanpa sebab, tentu kita akan sangat terkejut dan bukan tidak mungkin menjadi histeris. Inilah yang terjadi ketika Tuhan menjatuhkan tulah yang terakhir bagi orang Mesir. Semua anak sulung, yang menjadi harapan dan kebanggaan keluarga, tiba-tiba meninggal dunia. Jelas peristiwa ini mengejutkan semua orang Mesir dan membuat mereka mengusir orang Israel agar tidak ada lagi sesuatu yang buruk menimpa mereka lagi (33). Itu sebabnya bangsa Israel bergegas meninggalkan Mesir dengan membawa persediaan makanan serta berbagai barang berharga pemberian orang Mesir (34-36).
Akhirnya Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian yang telah ditetapkan Tuhan bagi mereka. Ada sekitar enam ratus ribu laki-laki dewasa (belum termasuk anak-anak dan perempuan), orang asing, serta ternak (37-38). Rentetan kejadian ini digambarkan berlangsung cepat dan semua dilakukan berdasarkan perintah Tuhan yang disampaikan melalui Musa dan Harun.
Tuhan menggerakkan hati orang Mesir menjadi sangat bermurah hati untuk memberikan harta benda mereka kepada Israel sesuai permintaan (35-36). Sampai kemudian disebutkan bahwa Tuhan sendiri berjaga-jaga pada malam keluarnya bangsa Israel dari Mesir (42). Sungguh nyata kuasa Allah karena janji-Nya untuk membebaskan Israel digenapi, setelah mereka terkungkung di bawah kekuasaan pemerintahan Mesir selama empat ratus tiga puluh tahun (40-41). Sungguh sebuah momen yang luar biasa dan patut untuk diingat sepanjang masa. Kalau bukan karena Tuhan, bagaimana mungkin Israel sanggup melepaskan diri dari belenggu yang telah mengikat mereka selama kurun waktu yang sangat panjang.
Betapa Allah tidak tinggal diam menyaksikan kehidupan umat yang Dia kasihi, Ia campur tangan dan menunjukkan kuat kuasa-Nya. Maka bila Anda merasakan sebuah tekanan berat melanda hidup atau ada “belenggu” yang begitu kuat mengikat Anda, mintalah pertolongan-Nya, mintalah Ia menunjukkan kuat kuasa-Nya.
12 Juni 2013

INGATLAH KASIH TUHAN

Biasanya orang merayakan hari ulang tahun dengan makan bersama keluarga, sahabat, kekasih, atau yang lainnya. Perayaan itu dilakukan untuk mengingat peristiwa luar biasa yang pernah dialami dalam kehidupannya.
Nas hari ini berkisah tentang perayaan Paskah yang dilakukan oleh Israel atas perintah Tuhan. Sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan atas Mesir, Tuhan memerintahkan Israel untuk menyembelih anak domba dan memakannya bersama dengan roti yang tidak beragi. Perayaan Paskah ini dilakukan sebagai ucapan syukur atas perbuatan Tuhan bagi Israel, yang akan membebaskan mereka dari Mesir. Kekuasaan Tuhan yang luar biasa ini telah disaksikan oleh Israel, mulai dari tulah yang pertama sampai tulah kesembilan. Peringatan ini merupakan peringatan baru dalam kehidupan orang Israel. Namun demikian, peringatan ini harus dilakukan terus-menerus agar nantinya keturunan Israel senantiasa mengingat kuasa Tuhan yang telah mengeluarkan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Jadi Perayaan Paskah merupakan peringatan tentang kuasa Tuhan dalam kehidupan orang Israel.
Di dalam kekristenan pun, ada perayaan-perayaan hari keagamaan yang dilakukan untuk memperingati suatu peristiwa tertentu dalam sejarah kekristenan. Namun sebaiknya peringatan akan kebaikan Tuhan bukan hanya terjadi pada hari-hari raya Kristen saja, melainkan harus menjadi aktivitas sehari-hari dalam kehidupan umat Tuhan. Kita diminta untuk terus mengingat kebaikan Tuhan agar kita dapat terus mengucap syukur oleh karena berkat dan pemeliharaan Tuhan nyata dalam hidup kita. Berkat dan pemeliharaan Tuhanlah yang membuat kita dapat hidup sampai sekarang. Pemazmur mengungkapkan ucapan syukurnya dalam puji-pujian kepada Tuhan, “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm. 118:1).
Dengan demikian tak ada alasan untuk tidak mengingat kasih Tuhan dan mengucap syukur atasnya. Maka pertanyaannya, sudahkah kita mengingat kasih Tuhan dan mengucap syukur atasnya?
11 Juni 2013

JANGAN MELAWAN ALLAH

Babak akhir dari penderitaan Mesir dan Israel akan segera usai. Mesir akan menghadapi tulah terakhir -karena sesudah itu tidak akan ada tulah lagi- dan Israel akan segera keluar dari Mesir. Namun tulah terakhir itu akan mengakibatkan Mesir mengalami penderitaan yang sangat hebat, melebihi penderitaan saat menghadapi tulah-tulah sebelumnya.
Puncak dari karya ajaib Tuhan di Mesir adalah kematian semua anak sulung orang Mesir. Tidak ada pengecualian. Anak sulung Firaun bahkan anak sulung hewan mereka akan mati (5). Pada saat itu, ratap tangis akan terdengar di seluruh tanah Mesir karena meninggalnya semua anak sulung secara tiba-tiba. Meski Firaun masih belum bisa diyakinkan, para pegawai Firaun yang khawatir bila situasi akan semakin runyam, mendesak Musa untuk membawa seluruh orang Israel keluar dari Mesir. Dalam situasi demikian, orang Mesir akan dengan senang hati memberikan harta mereka yang diminta oleh orang Israel (2-3), yang mungkin akan digunakan sebagai bekal perjalanan, asal saja orang Israel segera angkat kaki dari negeri mereka.
Melalui tulah ini, Firaun serta orang Mesir dapat melihat bahwa Allah berkuasa atas Mesir dan allahnya. Termasuk Firaun dan putra mahkotanya, yang dianggap sebagai allah. Perlawanan kepada Allah Israel, apa lagi yang dilakukan terus menerus, akan membuat keadaan semakin parah dan mendatangkan penghukuman yang mengerikan. Dengan kematian sang putra mahkota nantinya akan jelas bagi Firaun dan rakyat Mesir bahwa kemenangan dan kekuasaan mutlak ada pada Allah Israel.
Bila kita ingin mengalami kuasa Allah, tentu yang kita harapkan adalah kuasa Allah atas penyakit atau penderitaan yang kita alami. Kita tentu tidak ingin mengalami kuasa Allah yang justru memunculkan masalah sebagai hukuman akibat murka-Nya oleh karena pembangkangan kita. Maka bila masalah atau penderitaan datang silih berganti, cobalah peka, siapa tahu Tuhan sedang ingin menegur kita karena terus menerus melawan Dia. Jika memang demikian yang terjadi, memohon ampun dan bertobat merupakan jalan terbaik.
10 Juni 2013

JANGAN SPERTI FIRAUN

Sebagaimana di belahan dunia lain, di Mesir belalang pun merupakan sebuah ancaman. Atas kehendak Tuhan, angin timur melintasi Mesir dan mendatangkan belalang dalam jumlah tak terbilang banyaknya hingga menutupi tanah. Alkitab mencatat bahwa belalang sebanyak itu belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan ada lagi sesudahnya (14). Belalang itu memenuhi rumah semua orang Mesir (6), tetapi belalang itu tidak menghampiri tanah Gosyen. Belalang-belalang itu memakan habis sisa-sisa pohon dan tanaman yang hancur karena hujan es (5, 15). Allah kembali membuktikan kedahsyatan kuasa-Nya yang melampaui kuasa dewa Mesir.
Para pegawai Firaun semakin menyadari kemahakuasaan Allah Israel. Desakan mereka kepada Firaun jelas menggambarkan rasa takut mereka bila kuasa Allah Israel melanda mereka lebih hebat lagi (7). Namun Firaun masih belum berlapang dada untuk membiarkan orang Israel pergi. Ia masih ingin tawar menawar dengan Allah dan Musa. Ia mau saja membiarkan laki-laki bangsa Israel pergi ke padang belantara untuk beribadah, tetapi anak-anak dan kaum perempuan harus tinggal di Mesir (11). Tentu saja Musa menolak tawaran ini. Firaun kemudian mengakui dosanya dan memohon pengampunan (16-17). Namun ketika belalang telah dihalau dari tanah Mesir, Firaun kembali mengeraskan hatinya (20) dan tidak mau mengikuti kehendak Allah sepenuhnya (24). Konsekuensinya, tulah kesembilan dijatuhkan atas mereka, dan kegelapan pun meliputi tanah Mesir (22).
Bagaimana perasaan kita setelah membaca kisah Firaun? Gemas, geram, atau kesal? Namun tahukah kita, bahwa sebenarnya kita pun tak jauh beda. Tak mau berserah penuh dan tawar menawar dengan Allah bukan “penyakit” Firaun saja. Kita pun kadang-kadang demikian, ingin setengah berserah atau melakukan separuh kewajiban saja. Namun di sisi lain, kita berdoa tak henti agar Tuhan menjawab doa dan memenuhi segala permintaan kita. Bukankah ini sama dengan Firaun? Kiranya firman Tuhan membuat kita bercermin, mengakui dosa, lalu bertobat.
9 Juni 2013

TERLALU BEBAL UNTUK MENGUCAP SYUKUR

Mazmur 106 mulai dengan ajakan untuk mengucap syukur kepada Tuhan karena Dia baik, dan penuh kasih setia (1).Namun, isi mazmur ini justru ‘pengakuan dosa’ (6-46). Bahwa dalam perjalanan sejarah umat Tuhan, saat mengalami kasih setia Tuhan, mereka melupakan kebaikan Tuhan, sehingga memberontak, bersungut-sungut dan menolak-Nya (7, 13-14, 24-25, 28-29, 34-39, 43).
Rasa syukur umat sangat tipis. Betapa mereka tidak cepat menyadari dan mengakui kebesaran-Nya (2). Permohonan pemazmur ialah agar mereka diberi kepekaan untuk melihat dan menyadari kebaikan-Nya di tengah-tengah mereka (4-5) sehingga mereka pun hidup sesuai dengan hukum Tuhan (3).
Catatan pemberontakan ini bertujuan agar umat menyadari kasih setia Tuhan yang melampaui kebebalan mereka. Paparan sejarah bisa dibagi tiga bagian. Permulaan mereka ditebus dari perbudakan Mesir (6-12); perjalanan di padang gurun (13-33); penaklukan dan pendudukan tanah Kanaan (34-46). Mazmur ini ditutup dengan permohonan agar mereka dapat belajar bersyukur (47) dan ajakan kepada seluruh umat untuk memuji Tuhan (48).
Kebebalan umat Tuhan, terlihat mencolok. Baru saja mengalami kebaikan dan keperkasaan-Nya yang membebaskan mereka dari Mesir. Namun, di tepi laut Teberau, saat dikejar pasukan Firaun, Israel ketakutan dan memberontak terhadap Tuhan (7; Kel. 14:10-12). Tuhan tetap setia. Laut Teberau terbelah.Umat Israel menyeberang selamat, sementara pasukan Firaun tenggelam di dalamnya (11). Pujian kepada Tuhan pun membahana (12; Kel. 15:1-21).
Inilah penyakit yang sering diderita anak-anak Tuhan, lupa anugerah Tuhan. Saat masalah datang, kita bersungut-sungut dan melawan Tuhan. Syukur, Tuhan tetap mengasihi dan setia kepada kita. Marilah, kita belajar tidak melupakan kebaikan-Nya dan belajar untuk terus menerus mengucap syukur!
8 Juni 2013

JANGAN KERASKAN HATI!

Tulah demi tulah yang dijatuhkan atas Mesir bukan semata-mata dimaksudkan agar Firaun dan rakyat Mesir menderita. Kalaupun mereka jadi menderita karena datangnya tulah-tulah tersebut, bukan penderitaan itu yang menjadi tujuan akhir.
Sebelum menjatuhkan tulah yang ketujuh, Allah terlebih dahulu memerintahkan Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun (13-21). Sesudah itu, Tuhan mengirimkan hujan es yang sangat dahsyat (18) disertai dengan guruh (23) dan kilat (24) yang menyambar-nyambar ke bumi. Tuhan menyebutkan bahwa kedahsyatan hujan es ini belum pernah terjadi sejak Mesir dijadikan (18). Sungguh tak terbayangkan!
Kedahsyatan tulah itu dimaksudkan agar Firaun secara pribadi mengenal kedahsyatan kuasa Allah (14) dan supaya seluruh dunia mengetahuinya juga (16; bdk. Rm. 9:17). Namun pertobatan Firaun begitu dangkal. Ia memang mengetahui kesalahan dan kecurangan yang dia lakukan, tetapi ia tetap tidak mau bertobat (27). Ia belum mau percaya sepenuhnya bahwa Allah itu berkuasa dan berdaulat (29). Takut akan Allah berarti tunduk dalam penyerahan kepada Dia, yang berkuasa atas alam semesta (30).
Mengetahui tentang Allah dan mengalami kuasa-Nya ternyata tidak serta merta membuat Firaun membuka mata dan hatinya untuk segera bertobat. Bahkan mengalami sendiri penyataan kuat kuasa tangan Allah tidak membuat Firaun beranjak dari kedegilannya. Ia tetap mengeraskan hati dan tidak mau berubah sikap. Jadi yang penting dari sebuah pertobatan bukanlah pengalaman atau pertemuan orang orang dengan Allah, melainkan adanya kemauan orang untuk bertobat.
Kisah Firaun yang mengeraskan hati menjadi peringatan bagi kita, jika kita tahu bahwa Allah itu benar dan berkuasa, tetapi kita tak kunjung meninggalkan dosa maka kita patut waspada. Jangan sampai Tuhan menunjukkan kuasa-Nya yang lebih besar lagi kepada kita. Karena jika demikian, bisa-bisa kita celaka. Sebelum itu terjadi, lebih baik kita mengakui segala dosa kita dan memohon pengampunan-Nya.
7 Juni 2013

MENGERASKAN HATI

Tulah sampar menyerang ternak-ternak bangsa Mesir (3). Akibatnya, Mesir tidak memiliki ternak untuk dimakan atau dipekerjakan. Namun Allah menjauhkan penyakit itu dari bangsa Israel. Allah melindungi umat-Nya dari kesulitan mendapat makanan dan bekerja. Meski demikian, Firaun tidak juga melembutkan hati. Mungkin karena tetap tersedia makanan di lumbung istananya, bagi seluruh penghuni istana. Ini berarti Firaun tidak menggubris penderitaan rakyatnya karena Ia tetap mengeraskan hati terhadap peringatan Tuhan tersebut (7).
Belum usai penderitaan rakyat Mesir, tulah barah merebak di seluruh negeri (10-11). Barah itu berasal dari debu jelaga dapur yang dihamburkan ke udara di depan Firaun, dan kemudian menjangkiti manusia dan hewan di Mesir. Bagaimana dengan para ahli Mesir? Jangankan meniru untuk membuat barah yang sama, untuk dapat tetap berdiri di hadapan Musa saja mereka tidak sanggup (11). Barah itu juga menjangkiti mereka dan mereka tidak sanggup menangkalnya. Pada saat itu baik para ahli Mesir maupun seluruh rakyat Mesir dapat melihat bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat melawan Allah Israel. Bahkan allah Mesir sekalipun tidak dapat menahan Allah Israel saat Ia menunjukkan kuasa-Nya.
Lalu bagaimana respons Firaun, sang allah Mesir, menyaksikan tulah yang semakin parah? Mulai dari tulah pertama sampai tulah keenam disebutkan bahwa Firaun berkeras hati setelah ia menyaksikan tulah-tulah tersebut. Seolah ia tidak peduli pada dampak tulah-tulah yang menimpa diri dan rakyatnya. Seolah juga ia memandang enteng tulah-tulah yang jatuh atas bangsanya, atau lebih jauh lagi ia memandang enteng pada Allah yang mendatangkan tulah-tulah tersebut. Namun setelah serangkaian tulah -mulai dari tulah kesatu sampai tulah yang keenam ini- untuk pertama kalinya disebutkan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun (12).
Ini pelajaran berharga tetapi juga pernyataan keras! Siapa mengeraskan hati terhadap teguran Allah, siap-siap menghadapi hukuman-Nya yang juga keras! Karena itu mari peka pada suara dan teguran Tuhan.
6 Juni 2013

PERLINDUNGAN ALLAH

Pada tulah pertama dan kedua, Allah menyuruh Musa untuk memberi tahu Firaun mengenai tulah yang akan dijatuhkan. Tulah ketiga terjadi setelah Harun memukulkan tongkatnya ke debu tanah (18). Berbeda dari tulah pertama dan kedua, tulah ketiga tidak bisa dibuat dengan mantera-mantera para ahli Mesir. Sebab itu mereka mengakui, “Inilah tangan Allah” (19). Namun Firaun tetap tidak mau tahu.
Namun pada tulah keempat, para ahli Mesir itu tidak muncul lagi. Dan pada tulah keempat ini, Allah mengecualikan umat-Nya agar tidak terkena tulah (22-23). Tulah keempat ini menyebabkan Firaun mulai memberi ‘izin’ kepada Israel untuk beribadah, tentu saja dengan catatan “hanya boleh dilakukan di dalam wilayah Mesir”. Bagi Musa, izin ini seolah basa basi saja karena orang Mesir tidak menyukai cara ibadah Israel sehingga bisa-bisa orang Israel dilempari batu.
Namun, Allah melindungi mereka dengan membuat Musa dapat menjawab bijaksana (26). Sekali lagi, Firaun memohon belas kasihan Musa agar terbebaskan dari tulah lalat pikat. Allah mendengar permohonan Musa untuk membebaskan Mesir dari tulah keempat tsb.
Firaun sedang bermain api dengan Tuhan. Jika ahli mantera sudah merasa kalah dari Allah sehingga terucap pujian bagi Allah, Firaun belum kapok. Dia mencoba mengulur-ngulur waktu. Pembebasan yang harusnya diberikan ditunda-tunda. Ia mengeraskan hati padahal dia sudah tahu betapa hebat dan dahsyatnya Allah Israel. Firaun mencoba mencurangi Israel, tetapi Allah melindungi umat-Nya.
Kita sering membaca di media massa betapa banyaknya umat Tuhan di Indonesia mengalami penderitaan. Pelakunya mencoba bermain api dengan Allah. Mereka tidak sadar betapa Allah sayang umat-Nya dan tak mungkin membiarkan umat mengalami pencobaan melebihi kekuatan mereka. Allah melindungi umat-Nya. Perlindungan-Nya melegakan hati. Menyadari perlindungan Allah terhadap kita, seyogianya hidup kita semakin dekat dan memautkan hati kita hanya kepada Allah. Hidup ini benar-benar anugerah, Allah menjagai anugerah yang Ia curahkan kepada kita.
5 Juni 2013

ALLAH MAHAKUASA

Firaun tidak mengenal Allah Israel maka dia punya cukup alasan untuk menolak permintaan Musa dan Harun, seperti yang difirmankan Tuhan. Ia mengeraskan hati terhadap perkataan Tuhan yang Musa sampaikan. Setelah berulang kali menghadap Firaun, Musa tetap ditolak. Maka tiba saatnya Tuhan bertindak dengan kuasa-Nya. Tuhan akan menghukum Mesir dan Firaun dengan tulah.
Tulah pertama adalah air menjadi darah. Saat Firaun sedang berada di tepi sungai Nil, Musa menunjukkan kuasa hukuman Tuhan. Sungai Nil yang merupakan sungai suci bagi orang Mesir tiba-tiba berubah menjadi darah hanya dengan pukulan tongkat Musa. Ikan-ikan jadi mati. Orang Mesir tidak dapat meminum air sungai itu. Bau busuk ada di mana-mana. Air darah juga ada di mana-mana, bahkan di wadah kayu dan batu. Itulah kuasa Tuhan. Namun, Firaun tetap mengeraskan hati karena para ahli Mesir dapat juga membuat hal yang sama (22).
Tulah kedua, yaitu katak yang muncul di mana-mana. Jumlahnya tak terkirakan dan memenuhi seluruh ruang di Mesir. Lebih buruk lagi, ahli-ahli Mesir dengan manteranya menambah jumlah katak yang bermunculan. Lalu Firaun memanggil Musa untuk berdoa agar Tuhan menghilangkan katak-katak dari bumi Mesir. Walaupun permintaan Firaun didengar. Ternyata kembali Firaun mengeraskan hati tidak mau melepaskan Israel.
Dari dua tulah itu, Musa dan Firaun belajar tentang kuasa Allah yang tak tertandingi. Ia dapat mengubah air menjadi darah dan memerintahkan katak-katak keluar dari persembunyiannya. Meski Firaun mempunyai ahli-ahli untuk membuat hal yang sama, tetapi mereka tidak dapat membuat segala sesuatu kembali seperti semula.
Jelas bahwa Allah Israel -yang juga adalah Allah kita- lebih besar kuasa-Nya daripada segala ahli sihir, ahli nujum, dan orang-orang sakti lainnya, baik yang ada di Mesir maupun yang ada di seluruh penjuru dunia ini. Karena itu, jangan pernah berpaling dari Allah kepada orang-orang yang mengaku atau diakui sakti. Mungkin saja mereka memiliki kuasa, tetapi Allah kita jelas Mahakuasa.
4 Juni 2013

TUHAN YANG BERDAULAT

Seperti yang telah kita lihat dalam Keluaran 6:5-7, Allah akan menyatakan diri sebagai Tuhan/Yahweh melalui peristiwa Keluaran. Maka Ia berkata bahwa “Aku akan mengeraskan hati Firaun”. Untuk itu Ia akan memperbanyak tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan di tanah Mesir, supaya Ia mengeluarkan umat-Nya dari Mesir dengan menjatuhkan hukuman yang berat terhadap Mesir (3-4).
Pernyataan “Aku akan mengeraskan hati Firaun” tentu menimbulkan pertanyaan, “Apakah berarti Firaun sebenarnya berhati lembut, tetapi Tuhan mengeraskan hatinya?” Tentu tidak. Pernyataan itu berarti Tuhan membiarkan Firaun terus mengeraskan hati sehingga akhirnya sepuluh tulah dijatuhkan atas Mesir. Ini dapat kita lihat dari bagian lain yang menyatakan bahwa “hati Firaun berkeras” (7:13) atau “Ia tetap berkeras hati” (Kel. 8:15). Namun mengapa menyatakan bahwa Tuhan akan mengeraskan hati Firaun? Pertama, pernyataan ini mau menekankan kedaulatan Tuhan, bahwa sesuatu hanya dapat terjadi karena Allah yang memutuskan hal itu.
Kedua, pernyataan mengeraskan hati Firaun harus dimengerti sebagai tindakan Allah menghukum Firaun yang telah lebih dahulu mengeraskan hatinya. Dan kerasnya hati Firaun terus berlanjut, seperti yang dipaparkan pada waktu tulah demi tulah terjadi satu per satu. Perhatikanlah keterangan tentang kerasnya hati Firaun di setiap akhir tulah. Prinsip yang sama dijelaskan oleh Paulus dalam Roma 1:24-32, Allah menyerahkan orang berdosa pada keberdosaan mereka sebagai hukuman-Nya kepada mereka.
Firaun berkeras hati dan Allah hanya membiarkan Firaun mengeraskan hatinya supaya maksud Allah dapat tercapai, yaitu menghukum orang Mesir dan allah-allah mereka karena kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Israel.
Allah berdaulat memakai dosa manusia sebagai penghukuman atas orang yang berdosa itu. Oleh karena itu, jangan keraskan hati saat kita ditegur karena dosa kita. Cepat bertobat agar kita segera menerima pengampunan-Nya.
3 Juni 2013

PENTINGNYA KELUARGA BAGI TUHAN

Dalam pelayanan kepada Tuhan, bukan hanya diri kita yang penting, tetapi keluarga kita pun penting bagi Tuhan. Ini dapat dilihat dalam nas hari ini, keluarga orang yang melayani Tuhan dicatat dengan mendetail.
Dalam nas hari ini, kita melihat ketidakimbangan antara silsilah suku Lewi dengan yang lain karena dipaparkan dengan lebih mendetail. Perhatikanlah, hanya orang-orang yang terdapat dalam daftar Lewi saja yang disebutkan umurnya (15, 17, 19). Selain itu keturunan Lewi diberi catatan sampai lima generasi. Bandingkan dengan Ruben dan Simon yang diberi catatan hanya satu generasi.
Di antara suku Lewi, keturunan Harun lebih ditekankan. Misalnya, nama Harun didahulukan dari Musa (19); isteri Musa tidak disebut, tetapi isteri Harun disebut (22); hanya nama mertua Harun dan anaknya Eleazar yang disebut (22-24); hanya nama saudara ipar Harun yang dicatat (22); juga hanya nama keturunan Harun yang dicatat dan sampai generasi yang ketiga (22-24), sedangkan keturunan Musa sama sekali tidak dicatat. Dengan kata lain, dibandingkan suku lain, suku Lewi lebih ditekankan; di antara suku Lewi, Harun yang diutamakan; di antara keturunan Harun, Eleazar diutamakan; di antara keturunan Eleazar, Pinehas diutamakan. Jelas bahwa silsilah ini mengantisipasi keistimewaan suku Lewi yang akan dipakai melayani Tuhan; dari suku Lewi, keturunan Harun akan melayani sebagai imam; dari keturunan Harun, keturunan Eleazar menggantikan Harun menjadi imam besar (Bil. 20:28) dan dari keturunan Eleazar, Pinehas akan menggantikan Eleazar (Hak. 20:28).
Perhatikan bagaimana Alkitab memperhatikan keluarga sebagai suatu keutuhan. Alkitab juga memperhatikan anggota orang-orang yang ada di dalam keluarga itu sebagai suatu pribadi yang utuh. Keluarga memang merupakan bagian penting dalam pelayanan kita karena keluarga punya peranan dalam hidup kita. Tak heran bila Tuhan juga mementingkan keluarga hamba-hamba-Nya. Karena itu kita harus menyadari pentingnya keluarga dan berusaha membina keluarga agar menjadi keluarga yang memuliakan Tuhan.
2 Juni 2013

BERSYUKUR UNTUK JANJI YANG DIGENAPI

Kisah Keluaran di kitab Keluaran merupakan kisah dramatis penyelamatan umat Israel oleh Allah melalui Musa dan Harun.Melalui serangkaian tulah yang dijatuhkan kepada Firaun Mesir, Israel terbebas dari perbudakan Mesir. Kisah ini merupakan dasar sejarah bagi Perjanjian Sinai antara Allah dengan umat-Nya. Allah berhak memimpin Israel dan Israel patut setia pada-Nya.
Karya Allah itulah yang dipaparkan kembali oleh pemazmur di ayat 23-45. Tujuan pemaparan itu jelas agar umat Tuhan di masa mendatang, tidak melupakan karya agung itu dan senantiasa mengucap syukur akan kebaikan Tuhan. Tuhan terus menuntun umat-Nya melalui padang belantara yang gersang. Di tempat itu, penyertaan Tuhan lebih terasa, yaitu berupa air minum dari batu-batu karang, maupun oase-oase yang memelihara hidup mereka (41). Perlindungan-Nya juga nyata ketika bangsa musuh yang mencoba menghalangi mereka diporakporandakan Tuhan. Israel pun dibimbing masuk ke tanah pusaka (44). Tanah itu dahulu sudah diolah oleh bangsa-bangsa sebelumnya, sehingga Israel tinggal menikmatinya, dan meneruskan pengelolaannya.Janji-Nya kepada Abraham, tergenapi sudah (10-11; 42).
Dari karya-Nya Israel belajar bahwa Dia adalah Allah satu-satunya, melampaui segala ilah yang disembah baik oleh Mesir, maupun bangsa-bangsa lain. Dia Allah yang memelihara umat-Nya. Padang gurun menjadi saksi bahwa Allah adalah sumber hidup yang segar dan berkecukupan bagi umat-Nya.
Apakah Anda saat ini sedang ada di padang gurun kehidupan yang gersang dan sejauh mata memandang tak ada tanda-tanda kehidupan? Ingat kembali karya-Nya melepaskan Anda dari perbudakan dosa. Ingat kembali janji penyertaan-Nya di mana pun Anda berada. Hayati dan rasakan penyertaan-Nya di perjalanan padang gurun Anda. Ingat, satu kali kelak Anda akan masuk ke negeri perjanjian yang permai. Maka bersyukurlah!
1 Juni 2013

SEMAKIN AKRAB DENGAN TUHAN

Alkitab sering memakai nama Allah yang berbeda untuk menekankan karakteristik Allah yang berbeda, yang dinyatakan melalui nama-nama yang berbeda. Dalam kitab Keluaran nama yang hendak dinyatakan adalah nama Yahweh (diterjemahkan dengan TUHAN atau ALLAH dalam LAI). Nama ini kita jumpai dalam pasal 3 ketika Musa bertanya siapa nama Allah, dan Allah menjawab bahwa namanya adalah Yahweh (TUHAN, Kel. 3:15), dan nama itu artinya “AKU ADALAH AKU” (Kel. 3:14). Perhatikan, Allah mengatakan bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai Allah yang Mahakuasa (terjemahan dari nama El-Shaddai), tetapi dengan nama TUHAN Ia belum menyatakan diri (2). Apakah Abraham, Ishak, dan Yakub belum tahu tentang nama TUHAN? Ternyata mereka sudah tahu, bahkan Abraham telah memanggil Allah dengan nama TUHAN (Kej. 12:8). Lalu apa arti pernyataan Allah ini?
Karena Abraham sudah tahu tentang nama TUHAN, berarti yang Allah maksud bukan bahwa nama tersebut tidak diketahui Abraham, tetapi bahwa Ia belum menyatakan arti nama itu. Arti nama TUHAN/Yahweh akan Ia nyatakan melalui tindakan-Nya dalam peristiwa Keluaran. Allah akan menunjukkan nama TUHAN dengan membebaskan orang Israel dari kerja paksa orang Mesir dan membawa mereka keluar dari Mesir ke tanah perjanjian (5-7).
Melalui semua itu, para ahli melihat bahwa jika nama Allah (terjemahan dari nama Elohim) menekankan Allah yang Mahakuasa, yang mencipta langit dan bumi, yang berkuasa atas bangsa-bangsa, maka nama Yahweh (TUHAN/ALLAH) menekankan bahwa Ia adalah Allah dari umat perjanjian-Nya, yang menyelamatkan dan memberikan Taurat kepada umat, seperti yang Allah lakukan dalam peristiwa Keluaran.
Dengan demikian tujuan dari peristiwa Keluaran adalah supaya umat mengenal Tuhan dengan akrab yang adalah Allah mereka, yang membebaskan mereka dari belenggu Mesir dan membawa mereka ke tanah perjanjian. Kiranya tujuan peristiwa Keluaran terjadi juga dalam hidup kita, yaitu semakin akrab dengan Tuhan, yang membebaskan kita dari dosa.
31 Mei 2013

PEPERANGAN ROHANI

Dalam dunia kuno, ketika dua bangsa bertempur maka yang terutama bertempur adalah allah-allah sesembahan bangsa itu. Maka kita perlu melihat bahwa pertempuran yang terjadi dalam kitab Keluaran adalah pertempuran antara Allah Israel dengan para allah Mesir.
Firaun merupakan salah satu allah Mesir dan karenanya tidak mengherankan bila Firaun menyombongkan diri dengan tidak mau mengenal dan mengakui Yahweh. Ia berkata “Siapakah TUHAN (terjemahan dari kata Yahweh) itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi” (2). Bahkan dengan murka Firaun kemudian memberi perintah agar pekerjaan orang Israel diperberat. Orang Israel disuruh membuat batu bata dalam kuota yang sama, tetapi pekerjaan mereka ditambah dengan harus mengumpulkan jerami sendiri (7-8). Orang Israel tentu saja tidak dapat memenuhi tuntutan Firaun. Akibatnya, mandur-mandur Israel kemudian dipukul oleh pengerah-pengerah Firaun (14).
Para mandur yang dipukul kemudian marah kepada Musa dan Harun setelah mengetahui bahwa semua ini terjadi sebagai akibat pertemuan Musa dan Harun dengan Firaun. Musa kemudian juga kesal kepada Tuhan dan mengeluh bahwa Tuhan tidak melepaskan umat-Nya dari penderitaan tersebut. Namun sesungguhnya semua itu ada dalam rencana Tuhan, karena memang Tuhan akan memaksa Firaun untuk membiarkan umat-Nya pergi dengan tangan yang kuat (24).
Dalam kehidupan iman kita pun selalu ada peperangan rohani. Namun Allah tidak akan menyelamatkan kita dengan bernegosiasi dengan Iblis dan pengikutnya. Kita tidak perlu berkeluh kesah atau bersungut-sungut karena Allah akan menyelamatkan kita dengan tangan-Nya yang kuat, yaitu dengan mengalahkan Iblis dan pengikutnya. Dengan demikian kita harus melihat bahwa kesulitan yang kita alami dalam hidup -terutama ketika kita mau taat kepada Tuhan- merupakan hal yang wajar dan pasti terjadi karena memang akan ada peperangan rohani ketika kita mau taat kepada Allah.
30 Mei 2013

DITUNTUT UNTUK TAAT

Tugas utama seorang hamba Tuhan adalah menaati perintah Tuhan. Tak heran jika di tengah kisah persiapan Musa untuk pergi ke Mesir, perjumpaan Musa dan Harun, serta pertemuan mereka dengan tua-tua di Mesir, kita diberikan suatu kisah yang menarik tentang murka Allah terhadap Musa karena ketidaktaatannya (24-26).
Dalam ayat 24-26, sesungguhnya naskah aslinya tidak memakai kata Musa, kecuali dalam ayat 25. Jadi ayat 24 menyatakan bahwa Tuhan bertemu dengan “dia” (tidak disebutkan “Musa” seperti terjemahan dalam LAI) dan berikhtiar membunuhnya. Begitu pula, ayat 26 seharusnya adalah “Lalu Tuhan membiarkan ‘dia’” [bukan ‘Musa’]. Jadi kurang jelas sebenarnya apakah Tuhan bermaksud membunuh Musa atau anak Musa yang belum disunat. Entahkah “dia” merujuk kepada Musa atau anaknya, kisah itu jelas menunjukkan bahwa murka Allah reda setelah Zipora menyunat anak itu.
Kita tidak tahu mengapa Musa tidak menyunat anak itu. Ini seharusnya merupakan anak kedua Musa (di ayat 20 dikatakan bahwa Musa membawa “anak-anaknya lelaki,” berarti lebih dari satu anak lelaki), yang mungkin belum lama dilahirkan sehingga belum disunat. Allah memang sudah memerintahkan Abraham untuk menyunat setiap anak laki-laki keturunan Abraham pada hari ke delapan (Kej. 17:12) dan sunat merupakan “tanda perjanjian” antara Allah dengan Abraham dan keturunannya. Karena Musa akan menjadi pemimpin umat Tuhan, maka dia harus menaati perintah Tuhan. Maka Allah menunjukkan murka yang begitu hebat karena pelanggaran sunat itu.
Pemimpin umat memang dituntut untuk taat kepada Allah. Jika pemimpin tidak taat, bagaimana mungkin dia mengarahkan umat untuk taat? Jika kita menjadi pemimpin rohani, dalam keluarga atau dalam pelayanan, milikilah hati yang taat jika kita mau dipakai untuk melayani Tuhan dengan efektif. Jika kita berada di bawah pimpinan, doakanlah orang yang memimpin kita -baik orang tua maupun pendeta atau majelis di gereja- agar mereka terlebih dahulu taat kepada Allah.
29 Mei 2013

TIDAK BOLEH DITOLAK

Tampaknya banyak paradoks dalam kehidupan Kristen yaitu hal-hal yang terlihat bertentangan, tetapi sesungguhnya tidak. Di satu pihak, kita harus sadar bahwa kita tidak layak dipakai Allah. Di pihak lain, kita harus menerima panggilan Allah dalam kesadaran bahwa kita tak layak.
Karena pengalaman pahitnya di masa lampau, saat saudara-saudaranya menolak kepemimpinannya (Kel. 2:14), Musa mati-matian menolak panggilan Tuhan untuk membawa umat-Nya keluar dari Mesir. Allah kemudian memberikan dua tanda, yaitu tongkat yang mejadi ular dan tangan yang menjadi putih oleh kusta. Tanda ini dapat dilakukan Musa saat orang Israel meragukan panggilan Allah terhadap Musa. Bahkan Allah juga menjanjikan bahwa jika orang Israel masih tidak percaya, maka dia dapat mengubah air dari sungai Nil menjadi darah untuk meyakinkan mereka. Namun Musa tetap tidak mau percaya, dan malah berdalih bahwa ia tidak pandai bicara. Namun Tuhan masih dengan sabar mengatakan bahwa Dialah yang membuat lidah, maka Dia pula yang akan menyertai lidah Musa dan mengajari Musa tentang apa yang harus dia katakan. Namun Musa masih tetap tidak mau. Ia malah meminta Tuhan untuk mencari orang lain. Tentu saja ini membuat Tuhan murka dan berkata bahwa Ia telah mengutus Harun -kakak Musa- untuk menjadi juru bicara Musa. Nah, apa lagi alasan yang dicari-cari Musa? Maka pada akhirnya, Musa tidak dapat menghindari lagi panggilan Allah tersebut. Sayang sekali jika orang menerima pelayanan karena terpaksa atau dipaksa.
Dari penolakan Musa, kita belajar memahami bahwa kita memang tidak layak dipakai Allah. Namun jika kita yang tidak layak ini diperkenan Allah untuk melayani Dia maka kita seharusnya tidak menolak panggilan itu. Kita justru harus melihat panggilan Allah tersebut sebagai suatu hak istimewa dan anugerah yang perlu disyukuri. Jika Allah melayakkan dan memampukan kita untuk melayani Dia, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolak. Maka marilah melayani Tuhan sesuai dengan panggilan yang dipercayakan pada kita.
28 Mei 2013

KESEMPATAN MELAYANI

Kesempatan untuk melayani Allah tidak selalu dianggap sebagai kesempatan emas. Banyak orang yang berusaha untuk menolak kesempatan itu, dengan berbagai macam alasan.
Musa, pada masa empat puluh tahun sebelumnya, menyadari benar bahwa ia adalah seorang Ibrani sekaligus pangeran Mesir, yang merupakan alat pilihan Allah untuk membebaskan Israel. Namun setelah masa empat puluh tahun menggembalakan kambing domba di padang gurun di wilayah Midian, Musa tidak lagi memiliki rasa percaya diri yang sama seperti sebelumnya. Karena itu, ketika Allah mengutus Musa, dia justru mempertanyakan dirinya, “Siapakah aku....?” (11).
Bagaimana jawaban Allah? Kalau kita perhatikan, jawaban Tuhan seolah tidak ‘nyambung’ dengan pertanyaan Musa karena Tuhan menjawab, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (12). Dengan jawaban ini, Tuhan bermaksud mengalihkan perhatian Musa dari dirinya sendiri kepada Tuhan. Karena dalam hal ini identitas Tuhanlah yang jauh lebih penting (14). Dan memang, ketika kita tahu bahwa Tuhan beserta kita maka kita dapat maju melaksanakan kehendak Tuhan, bukan dengan keyakinan pada diri kita sendiri melainkan pada Tuhan yang kuat dan berkuasa.
Selain itu perkataan Tuhan, “Dan bilamana mereka mendengarkan perkataanmu ...” (18), bagai janji yang menenangkan hati Musa. Karena pada masa empat puluh tahun sebelum itu, saat ia meyakini panggilannya, orang Israel justru menolak dia. Lalu bagaimana mungkin mereka memercayai dia saat ia tidak lagi memiliki apa-apa. Mengenai raja dan bangsa Mesir, Allah berjanji akan menangani mereka (19-22). Lihatlah bagaimana Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya. Musa hanya tinggal menjalankannya saja. Namun bukan berarti segala sesuatu akan berlangsung tanpa masalah (19), tetapi Tuhan tidak akan tinggal diam.
Kiranya ini membangkitkan semangat kita ketika ada kesempatan untuk melayani Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan sendiri yang akan menolong kita sehingga kita dimampukan untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
27 Mei 2013

ALLAH MEMPERHATIKAN PENDERITAAN UMAT

Ketika menderita, kadang kita menganggap bahwa Allah tidak peduli pada penderitaan kita. Tentu salah jika kita berpikir demikian. Allah kita adalah Allah yang sangat peduli terhadap penderitaan manusia, terutama penderitaan umat-Nya. Ini dapat kita lihat dalam nas hari ini.
Setelah ratusan tahun di Mesir, umat Israel -yang merasa menderita- berseru kepada Allah (23-24). Allah pun mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia kemudian menjalankan rencana-Nya untuk menyelamatkan mereka dari perbudakan Mesir. Dalam bahasa Ibrani kata “mengingat” bukan berarti hanya secara pemikiran/kognitif, yaitu bahwa tadinya lupa dan sekarang ingat, tetapi mencakup tindakan juga. Jadi ini berarti, telah tiba waktunya bagi Allah untuk bertindak seturut dengan perjanjian-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.
Allah kemudian memanggil Musa dan menyatakan bahwa “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka” (7). Allah kita memang adalah Allah yang sangat peduli dengan kesengsaraan umat-Nya, terutama mereka yang ditindas. Sebab itu Allah berkata bahwa jika kita menindas janda dan anak yatim lalu mereka berseru kepada Allah, maka Allah akan mendengar seruan mereka dan akan menyatakan murka-Nya kepada mereka yang menindas janda dan anak yatim tersebut (Kel. 22:22-24).
Kita harus mengerti bahwa Allah sangat peduli dengan penderitaan kita, karena itu jangan berhenti berseru kepada Allah untuk memberikan pertolongan kepada kita. Jika pertolongan tidak datang seturut yang kita inginkan, maka kita harus percaya bahwa itu bukan karena Allah tidak peduli, tetapi pasti ada rencana Allah dibalik penderitaan tersebut. Sebaliknya, kita juga harus berhati-hati jangan sampai kita menindas mereka yang lebih lemah karena ketika mereka berseru kepada Allah, maka Allah pasti akan mendengar seruan mereka dan akan menunjukkan murka kepada kita, yang menindas mareka yang lemah.
26 Mei 2013

BERSYUKUR UNTUK PEMELIHARAAN TUHAN

Tidak selalu mudah untuk kita memahami cara Tuhan memelihara hidup kita. Itu juga yang dirasakan tokoh-tokoh di Alkitab. Misalnya para patriakh, dan Yusuf! Pemazmur melihat di balik kehidupan mereka pemeliharaan Tuhan bukan hanya untuk pribadi tertentu, tetapi untuk umat-Nya dan masa depan mereka.
Abraham tinggal sebagai keluarga asing di tanah Kanaan, terkadang karena situasi harus lari ke tempat lain (Kej. 12:10-20; 20:1-18; juga Ishak di 26:1-34). Memang seringkali kejadian itu juga karena ulah mereka yang kurang beriman.Namun, Tuhan menyertai dan melindungi mereka dari orang-orang yang mencoba mengambil kesempatan di tengah kesempitan.Tuhan menghargai mereka sebagai orang yang diurapi, bahkan nabi (15). Oleh karena itu Tuhan membela mereka dari usikan musuh.
Siapa dapat menduga bahwa turunnya Yusuf ke Mesir sebagai budak, yang disebabkan ulah kakak-kakaknya, serta difitnahnya Yusuf oleh istri Potifar sehingga ia dipenjara, merupakan cara Allah mempersiapkan pertolongan atas keluarga besar Yakub dari bencana kelaparan dahsyat. Lebih daripada itu, Allah menggunakan peristiwa tersebut untuk mempersiapkan umat-Nya kelak, keluar dari Mesir dan menjadi bangsa yang dipakai Allah menyatakan keselamatan-Nya bagi dunia ini. (lih. 23-dst.).
Tuhan memelihara umat-Nya dengan cara-Nya melampaui pengertian kita yang terbatas.Allah berdaulat menggunakan cara-Nya sendiri. Di dalam hikmat-Nya, Allah tidak pernah keliru bertindak. Cara Allah selalu membuahkan berkat dan anugerah baik bagi mereka yang dipakai-Nya, maupun orang lain yang ada dalam lingkup anugerah-Nya. Mari bersyukur walau belum mengerti ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak terduga, dengan percaya bahwa Allah memelihara kita dan bahkan melalui kita Ia menyatakan rencana baik-Nya untuk orang di sekeliling kita.
25 Mei 2013

ALLAH MENDIDIK HAMBA YANG INGIN DIPAKAI

Ketika Allah akan memakai seseorang, maka Ia akan mendidik dan membentuk orang itu agar siap dipakai Allah. Allah mendidik Musa sekitar empat puluh tahun lamanya dalam sekolah yang luar biasa, yaitu istana Mesir. Namun rupanya pendidikan tersebut masih belum cukup. Dalam nas hari ini kita melihat bahwa Allah kemudian mengirim Musa ke Midian selama empat puluh tahun untuk mendidik dia lebih lanjut.
Setelah Musa dewasa, suatu hari ia mendapati seorang Mesir memukul seorang Ibrani. Ia menganggap orang Ibrani sebagai saudaranya. Itu berarti Musa tahu bahwa dia adalah seorang Ibrani, walaupun ia hidup sebagai pangeran Mesir. Maka ia bermaksud membunuh orang Mesir tersebut. Namun ia tahu bahwa risikonya besar jika ketahuan membunuh seorang Mesir. Sebab itu ia membunuh orang Mesir itu ketika tidak ada orang (maksudnya tidak ada orang Mesir) yang melihat perbuatannya. Lalu mengapa Musa tetap membunuh orang Mesir itu walau tahu bahwa perbuatannya berisiko? Stefanus memberikan pemahaman bahwa Musa beranggapan bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan saudara-saudaranya, walaupun mereka tidak mengerti (Kis. 7:25). Perhatikanlah, betapa tinggi hatinya Musa. Pemahaman bahwa ia akan dipakai Tuhan membuat dia menganggap diri layak untuk mencabut nyawa orang lain.
Ia memang telah mendapat pendidikan tinggi di istana Mesir. Namun pendidikan itu rupanya tidak membentuk karakternya. Sebab itu, ia masih perlu dididik dalam hal karakter supaya siap dipakai oleh Tuhan. Kita akan melihat bagaimana nantinya Musa menjadi orang yang berbeda setelah Allah membentuk dia selama masa empat puluh tahun di Midian.
Allah memang akan mendidik dan membentuk orang yang Dia pilih untuk menjadi hamba-Nya. Bukan hanya dalam soal pengetahuan, terlebih dalam soal karakter sebagai hamba yang rendah hati dan lemah lembut. Maka janganlah mengeluh jika Allah mendidik kita dengan cara-cara dan dalam waktu yang kita tidak sukai, karena itu berarti bahwa Allah akan memakai kita dengan lebih efektif lagi.
24 Mei 2013

PERANAN ORANG TUA DALAM RENCAN ALLAH

Orang tua adalah figur penting dalam keluarga, juga dalam rencana Allah bagi umat. Ini kita lihat dalam hidup Musa.
Ketika rencananya gagal, Firaun memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki Israel dengan membuang mereka ke sungai Nil. Pada waktu itulah Musa lahir. Ibu Musa melihat anak itu baik dan sehat. Namun, Stefanus memberikan gambaran bahwa Musa itu elok di mata Allah (Kis. 7:20). Jelas ibu Musa tidak dapat menyerahkan anaknya kepada tentara Mesir. Lalu ia menyembunyikan Musa selama tiga bulan (2). Tampaknya masa itu dipakai si ibu untuk memikirkan cara menyelamatkan bayinya. Karena sesudah masa tiga bulan ia meletakkan bayinya dalam peti dan menghanyutkannya di sungai Nil. Tentu bukan kebetulan jika si bayi hanyut dengan melewati tempat puteri Firaun mandi. Bukan kebetulan pula jika sang putri memutuskan untuk memelihara bayi itu, meski ia memperkirakan bayi itu adalah bayi orang Israel. Tidak tersirat kekhawatiran mengenai perintah sang raja menyangkut bayi orang Israel.
Kakak Musa yang mengikuti “perjalanan” bayi Musa di sungai, langsung mendatangi putri Firaun dan menawarkan diri untuk mencarikan inang penyusu. Menurut Anda sebijak itukah kakak si bayi? Tentu ibu mereka pegang peranan dalam hal ini. Si ibu tidak mau kehilangan anak laki-lakinya sehingga ia mempersiapkan kakak si bayi untuk memantau si adik dan kemudian berbicara seperti itu kepada sang putri. Suatu strategi yang cemerlang!
Dari rangkaian peristiwa ini, kita melihat Allah yang memakai si ibu untuk menyelamatkan bayinya, bukan hanya demi hidup si bayi melainkan bagi kepentingan besar di masa mendatang. Dan Allah memberikan kehormatan kepada orang tua Musa untuk mempersiapkan anaknya dalam menggenapi rencana Allah. Sejalan dengan itu, tentu ada tanggung jawab besar dalam mendidik anak untuk memahami rencana Tuhan bagi diri mereka. Maka orang tua harus melihat pentingnya peran yang diberikan Tuhan kepada mereka. Peran itu harus dijalankan dengan serius, peka terhadap tuntunan Tuhan, serta dengan mengandalkan kekuatan yang dari Tuhan.
23 Mei 2013

MELIHAT ALLAH DI TENGAH KESULITAN

Ketika dalam kesulitan, kadang kita tidak dapat melihat rencana Allah dalam hidup kita. Nas hari ini menunjukkan bahwa di tengah penderitaan umat, sesungguhnya rencana Allah sedang digenapi.
Karena merasa terancam oleh keberadaan Israel di tengah mereka, Firaun berikhtiar untuk menghabisi orang Israel. Maka Firaun membebankan kerja yang lebih berat kepada orang Israel. Tujuannya, agar banyak yang mati. Namun bukannya berkurang, orang Israel bahkan bertambah semakin banyak.
Rencana kedua, Firaun meminta para bidan untuk membunuh bayi laki-laki Israel ketika dilahirkan. Mengapa hanya bayi laki-laki? Pada waktu kejatuhan manusia, dalam hukuman-Nya terhadap ular yang mewakili Iblis, Tuhan menyatakan akan mengadakan permusuhan antara keturuan ular (yaitu keturunan Iblis secara rohani/orang tidak percaya) dengan keturunan perempuan (yaitu keturunan orang percaya) dalam Kej. 3:15. Dari perempuan tersebut akan lahir laki-laki yang menghancurkan kepala si Iblis. Maka tak heran bila Iblis memakai Firaun untuk membunuh hanya bayi laki-laki Israel supaya apa yang telah Allah nyatakan tidak terjadi.
Namun rencana Firaun tidak berhasil karena kedua bidan yang menangani persalinan perempuan-perempuan Israel (mungkin mereka adalah kepala bidan-nama kedua bidan itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang Israel), tidak mematuhi perintah Firaun. Mereka tidak mau membunuh bayi laki-laki Israel karena mereka takut akan Allah (17). Akibatnya, orang Israel malah semakin bertambah. Bahkan Allah juga memberkati para bidan tersebut hingga mereka kemudian berumah tangga (21).
Di balik semua masalah yang dihadapi Israel, sesungguhnya Allah sedang menggenapi rencana-Nya untuk memberkati mereka. Setidaknya, kedua bidan yang mematuhi perintah Allah, telah mencicipi berkat tak terduga.Sebab itu, mari kita belajar untuk melihat rencana Allah di tengah berbagai kesulitan hidup yang kita hadapi, karena Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm. 8:28).
22 Mei 2013

PRINSIP MELAYANI DALAM KRISTUS

Paulus menutup suratnya dengan pemberitahuan akan kedatangan Timotius sebagai pembawa surat ini dan beberapa nasihat praktis. Nasihat Paulus ialah agar mereka memegang teguh prinsip-prinsip pelayanan yang didasari kasih Kristus.
Prinsip pertama ialah tidak membuat orang-orang di sekitar kita takut melayani sebaliknya mendorong mereka giat (10). Paulus meminta agar jemaat Korintus menerima Timotius dengan baik, sehingga ia dapat melayani di sana tanpa takut karena yang dikerjakan Timotius adalah pekerjaan Tuhan.
Prinsip kedua ialah tidak merendahkan orang lain (11). Paulus meminta jemaat tidak merendahkan Timotius. Mungkin ini berkaitan dengan kemudaan Timotius. Paulus tidak ingin jemaat meremehkan Timotius.
Prinsip ketiga ialah menjaga iman agar terus bertumbuh dalam Kristus (13). Ia menasihati agar mereka berjaga-jaga, yaitu harus waspada terhadap godaan mengikuti hawa nafsu maupun bujukan dunia.Mereka semua harus berdiri teguh dalam iman. Dasar yang kuat agar iman terjaga bahkan bertumbuh adalah kasih. Motivasi kasih menolong mereka tidak berpusat pada diri sendiri melainkan pada Kristus.
Prinsip keempat ialah menjaga relasi dengan orang-orang di sekitar (15-18). Menghargai rekan sepelayanan merupakan hal yang penting. Hal ini demi menjaga sinergi kasih di dalam pelayanan. Sehingga terciptalah suasana kasih Kristus di antara pelayan Tuhan. Sebelum Paulus menutup suratnya, ia menyampaikan salam dari jemaat di Asia Kecil kepada mereka (19-20). Ini juga merupakan bukti betapa relasi itu penting dan harus dibangun.
Akhirnya, Paulus menutup suratnya dengan menyampaikan suatu tanda persekutuan yang indah, yaitu dengan “cium kudus”. Cium kudus ini bukanlah ciuman yang mengumbar nafsu, namun hal ini dilakukan sebagai perwujudan saling mengasihi dalam Tuhan (20).
Sebagai orang percaya maupun pelayan Tuhan hendaknya kita memegang teguh prinsip pelayanan ini. Sehingga kita benar-benar menjadi berkat bagi banyak orang hingga “Maranata” (Tuhan, datanglah).
21 Mei 2013

PENATALAYANAN KEUANGAN

Salah satu pelayanan penting yang dilakukan Paulus selama perjalanannya ialah pengumpulan “uang persembahan” bagi orang-orang kudus dan orang-orang miskin di jemaat Yerusalem (1; Rm.15:25-26). Motivasi dasar Paulus ialah mempersatukan orang-orang percaya Yahudi dan bukan Yahudi. Harapannya ialah pernyataan kasih dari orang-orang bukan Yahudi ini dapat membantu membangun jembatan di antara dua kelompok tersebut (2 Kor.8-9).
Paulus memberikan saran praktis kepada jemaat untuk penatalayanan uang persembahan itu. Persembahan tersebut diberikan pada hari pertama dari tiap-tiap minggu (2). Setiap jemaat harus datang pada pertemuan ibadah dan memberikan persembahannya. Mereka telah menerima berkat Tuhan, maka mereka pun bisa menjadi berkat bagi orang lain. Pemberian itu harus “sesuai dengan apa yang kamu peroleh” – Orang menerima banyak diharapkan memberi banyak. Orang yang memiliki sedikit, tidak menjadikannya alasan untuk tidak memberi. Memberi sesuai dengan kemampuan adalah penting, supaya tidak ada yang memberi dengan terpaksa (2). Paulus juga menuntut keteraturan, dalam jemaat “menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.” Ia berharap agar mereka sudah mempersiapkan persembahan (2).
Integritas Paulus terlihat dari cara ia menangani uang jemaat. Ia tidak terlibat langsung tetapi mengirim utusan yang kelayakannya ditentukan oleh jemaat setempat (3). Jadi tidak ada celah bagi siapa pun untuk menuduh Paulus memanipulasi uang tersebut.
Paulus menyatakan kerinduan untuk mengunjungi jemaat (5). Ia tidak ingin sekedar berjumpa, melainkan tinggal agak lama di sana (6-7). Sehingga ia dapat melayani dan menolong orang-orang bagi Kristus. Salah satu bentuknya adalah mendorong mereka terlibat dalam pelayanan persembahan itu. Teladani Paulus yang berintegritas dalam hal keuangan. Milik kita adalah anugerah Allah. Maka berbagi dengan yang membutuhkan adalah berbagi anugerah Allah.
20 Mei 2013

KEMULIAAN TUBUH KEBANGKITAN

Paulus mengajak orang Korintus untuk berpikir bijaksana dalam mempelajari kebenaran. Ada orang-orang yang kesulitan untuk mengerti bagaimana seseorang bisa dibangkitkan, dan dengan tubuh seperti apa mereka akan dibangkitkan.
“Hai orang bodoh!” (36) merupakan teguran yang keras, bukan untuk menghina melainkan mengajak mereka membuka wawasan berpikir yang sangat sempit tentang kemahakuasaan Tuhan dalam dunia ciptaan. Analogi yang Paulus berikan diharap dapat membuka pengertian mereka yang sempit (35-38).
Kemuliaan tubuh sorgawi lebih dari tubuh duniawi (40). Tubuh alamiah kita seiring berjalannya waktu akan semakin lemah, manusia lahiriah kita akan semakin merosot. Sedangkan manusia batiniah, yang menjadi persiapan tubuh yang tidak kelihatan itu, bersifat mulia (42-44). Sebagaimana kita mengambil rupa Adam –ditaburkan dalam tubuh alamiah – kita juga akan memakai rupa dari yang sorgawi, yaitu Kristus sendiri. Jadi meskipun tubuh fisik kita semakin rusak, kehidupan rohani kita boleh terus diperbarui (45-49). Yang menjadi pengharapan kita pada akhir zaman adalah bahwa kita kelak pada kebangkitan akan memakai rupa dari yang sorgawi (49). Paulus juga mengatakan, bahwa sesungguhnya kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semua akan diubah dalam sekejap mata pada waktu bunyi nafiri yang terakhir (51-52).
Maut dikalahkan sebagai musuh terakhir. Maut telah ditelan oleh kemenangan (54). “Sengat maut adalah dosa”, maut adalah di mana Tuhan tidak hadir dalam hidup seseorang, dan ketika seseorang berdosa, ia sedang mencicipi maut. Ia tidak dalam bahaya hilang dari hadirat Tuhan (55-56).
Pengharapan ini semestinya mendorong kita untuk lebih giat dalam melayani Tuhan. Alkitab menegaskan bahwa kita harus berjaga-jaga (menjaga kualitas hidup kristen yang beriman), mengembangkan talenta (sebagai tuntutan untuk memberikan yang terbaik) untuk menyambut kedatangan kembali Sang Tuan. Tuhan Yesus akan datang, maka kita harus semakin bergiat dalam pekerjaan Tuhan (58).
19 Mei 2013

KEDATANGAN ROH KUDUS

Kedatangan Roh Kudus adalah kedatangan yang ditunggu para murid Kristus setelah peristiwa kenaikan Tuhan Yesus. Oleh karena Ia tidak meninggalkan para murid sendirian tetapi Ia menjanjikan Roh Kudus bersama mereka (Yoh. 14: 16-17, Yoh. 16: 7). Roh yang penuh kuasa akan menyertai dan memberikan tuntunan dalam kehidupan para murid dalam menjalankan kelangsungan tugas yang diberikan oleh Tuhan Yesus (Yoh. 14: 26). Mengapa perlu Roh Kudus turun?
Pertama, Roh Kudus adalah Roh Penolong yang diberikan Bapa dan Tuhan Yesus kepada para murid untuk menyertai mereka selamanya. Mereka akan bersaksi tentang Kristus kepada dunia (15:26). Karena itu mereka memerlukan kuasa ilahi bersama dengan mereka (Luk. 24:49, Kis. 1:8). Tidak hanya itu, tetapi dalam menjalankan misi tersebut nyawa mereka adalah taruhannya (1-2) karena dunia akan menolak mereka. Artinya diri mereka dan misi yang dijalankan adalah penting. Kedua, karena hal tersebut berkenaan dengan misi kedatangan Roh Kudus itu sendiri yaitu menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (16:8-11). Di mana terjadi penolakan dunia atas semuanya. Artinya dunia akan melawan dengan keras kehadiran murid Kristus dan memberi tantangan hebat terhadap ajaran Kristus. Ketiga, Roh Kudus menyatakan kebenaran. Dia adalah Roh Kebenaran (16:13). Hal ini berkaitan langsung dengan Tuhan Yesus sendiri (Yoh. 1: 17, Yoh. 14:6). Roh Kudus akan memimpin orang percaya kepada Kristus itu sendiri. Kristus dan firman-Nya adalah satu-satunya yang dapat memerdekakan orang dari dosa yang membelenggunya (Yoh. 8: 31-31, 34). Jadi, keputusan penting yang harus diambil yaitu mengikuti Kristus atau tidak.
Sebagai orang percaya kita perlu menyadari kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita supaya kita menyatakan diri sebagai murid Tuhan.
18 Mei 2013

PENTINGNYA KEBANGKITAN KRISTUS

Dalam kekristenan, kebangkitan adalah sangat penting. Fakta bahwa Yesus bangkit pada hari yang ke-3, mempunyai arti yang sangat penting. Karena kebangkitan-Nya membuktikan keilahian-Nya.
Persoalan yang terjadi dalam Jemaat Korintus adalah mereka percaya bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, tetapi sulit untuk memercayai adanya kebangkitan orang mati (12, 13, 16). Bagi Paulus, hal ketidakpercayaan akan kebangkitan orang mati ini tidak sepele, karena akan mendistorsi berita kebangkitan Kristus. Dengan kalimat yang tegas ia mengatakan “Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”(32). Dengan kata lain tidak ada perbedaan antara kehidupan orang Kristen dan orang tidak percaya, karena sama-sama akan mengalami kebinasaan.
Yang membuat perbedaan adalah pentingnya kebangkitan Kristus yang menjadi dasar iman Kristen. Paulus memberikan penegasan kepada mereka bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah pemberitaan para rasul dan iman kita (14). Jika Kristus tidak dibangkitkan maka kita tetap tinggal dalam dosa (17). “kamu masih hidup dalam dosamu”. Dosa yang membuat manusia terpisah dari Allah, yang membuat manusia mati dan binasa (21, 22).
Fakta kebangkitan Kristuslah yang membuat setiap orang percaya dibebaskan dari belenggu dosa dan kebinasaan. Inilah perbedaan antara orang yang percaya Kristus dengan yang menolak-Nya, yaitu pengharapan di dalam Kristus. Kebangkitan-Nya membuat kita tidak hidup dalam kesia-siaan tetapi dalam pengharapan, yaitu bahwa kita semua yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan seperti Dia, yang sulung, dibangkitkan (20).
Oleh karena itu kita orang-orang percaya yang telah memiliki kepastian akan kebangkitan Kristus, dituntut untuk hidup dalam kebenaran. Kebenaran inilah yang menuntun kita hidup dalam keteguhan iman, yang diproyeksikan menghasilkan kekudusan dan ketaatan total kepada Allah, sehingga hidup kita ini menyenangkan Dia.
17 Mei 2013

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS

Dalam pasal 15 ini rasul Paulus menjelaskan pokok masalah tentang kematian dan kebangkitan. Karena kala itu jemaat Korintus “diganggu” oleh orang-orang yang tidak percaya akan kebangkitan sehingga penting bagi Paulus untuk membahasnya (3).
Pertama, kematian Yesus merupakan dasar dari keselamatan manusia. Pernyataan “Kristus mati karena dosa-dosa kita” memberi penjelasan jika Kristus tidak mati, maka manusia tidak memiliki keselamatan. Yesus mati sebagai kurban pengganti karena dosa kita. Ia mati untuk menebus kita sehingga melalui kematian-Nya kita dapat bersekutu dengan Allah.
Kedua, Yesus yang mati itu dikuburkan (4). Bagaimana mungkin Ia dikuburkan jika Ia tidak melalui fase kematian?
Ketiga, Yesus dibangkitkan pada hari yang ketiga (4). Keraguan orang-orang Korintus akan kebangkitan Kristus dijawab oleh Paulus dengan memberikan bukti meyakinkan bahwa ada banyak orang yang melihat Yesus setelah kebangkitan. Antara lain, kepada Kefas (Petrus), kedua belas rasul (5), lebih dari lima ratus saudara sekaligus (6), Yakobus, kemudian semua rasul (7), dan Paulus sendiri (8). Mereka semua adalah saksi dari kebangkitan Kristus. Jangan lupa hidup Paulus yang sudah diubahkan juga adalah kesaksian otentik akan kuasa kebangkitan Kristus (9-10).
Paulus mengatakan bahwa apa yang ia sampaikan ini “sesuai dengan Kitab Suci” (3,4). Paulus tidak menyampaikan argumennya sendiri tanpa dasar tertulis. Semua yang ia kemukakan di dasarkan pada apa yang tercatat dalam Kitab Suci, yaitu berita kematian dan kebangkitan Kristus telah dinyatakan dalam nubuat-nubuat Perjanjian Lama.
Hingga saat ini selalu ada orang-orang yang menyangsikan kematian dan kebangkitan Kristus. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kekristenan dan orang percaya. Oleh karenanya yang menjadi tanggung jawab setiap orang percaya ialah mempelajari Kitab Suci dengan baik, sehingga iman kita menjadi kuat dan setiap kita pula dapat melakukan pembelaan iman berdasarkan Alkitab.
16 Mei 2013

KETERATURAN DALAM IBADAH

Rasul Paulus menekankan kepada jemaat Korintus untuk memperhatikan ketertiban di dalam beribadah. Karena kala itu jemaat Korintus sedang menghadapi masalah-masalah khusus mengenai kekacauan dalam pertemuan jemaat (17-23). Kali ini ia lebih tegas mengatur ibadah berkaitan dengan penggunaan karunia roh yang kerap keliru di antara anggota jemaat. Mereka memakai karunia-karunia roh untuk menyenangkan diri dan kesombongan pribadi.
Semua karunia roh dan aktivitas dalam pertemuan jemaat harus dipergunakan untuk membangun (26). Orang yang dipenuhi Roh Kudus bisa mengontrol dirinya – bukan asyik sendiri. Ia lebih mementingkan orang lain, karena itulah hakikat kasih, sehingga pertemuan ibadah tidak kacau (40).
Paulus mengatur teknis dari pemanfaatan karunia dalam ibadah. Untuk penggunaan bahasa lidah, ia mengaturnya sehingga ada ketertiban dalam ibadah. Penggunaan bahasa lidah diperbolehkan dalam ibadah secara terbatas (dua atau tiga orang), dan harus ada orang yang mendapatkan karunia menafsirkannya. (27-28). Juga ia mengatur penggunaan karunia bernubuat. Demi ketertiban ibadah, nubuat harus disampaikan bergantian, sehingga yang lain bisa belajar dan bertumbuh dalam iman (30-31).
Paulus sama sekali tidak melarang seseorang memiliki dan menggunakan karunia roh yang ada padanya (39). Yang ia lakukan adalah mengaturnya agar tepat digunakan bagi kepentingan membangun jemaat Sebab tujuan karunia Roh ialah untuk membangun jemaat. Karena itu pemakaian karunia-karunia dalam pertemuan ibadah harus berlangsung secara teratur. Pertemuan jemaat harus dilangsungkan dengan sopan dan teratur dan dengan motivasi yang baik serta untuk kepuasan rohani bersama.
Kita dapat belajar dari apa yang rasul Paulus kemukakan, yaitu kita harus beribadah dengan sopan dan teratur di dalam gereja. Baik itu dengan liturgi yang tertulis atau pun tidak. Yang pasti ibadah kita haruslah sopan dan teratur sebagai wujud penghormatan kita pada Tuhan.
15 Mei 2013

KEJARLAH KASIH, USAHAKANLAH KARUNIA!

Yang terpenting dari semuanya ialah isi hati Allah dapat ditangkap oleh manusia. Kemudian manusia dapat terbangun olehnya. Nas ini merupakan penegasan bahwa yang dikehendaki Allah ialah rupa-rupa karunia roh berfungsi untuk menumbuhkan kasih di dunia ini. Bahasa roh tidak ada gunanya kalau hanya bunyi tanpa dimengerti orang lain. Padahal, tujuan dari karunia roh dihadirkan Allah bagi manusia ialah supaya berguna bagi orang lain. Sementara itu, nubuat memang selalu disampaikan kepada orang lain. Nubuat berguna untuk membangun, menasihati, dan menghibur.
Manusia cenderung mengejar sesuatu yang berguna hanya untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan orang lain. Orang yang sudah mengenal Kristus pun seringkali menghadapi godaan itu. Mengejar kasih dan mengusahakan memperoleh karunia-karunia roh dan mempergunakannya dalam roh dan akal budi untuk membangun kehidupan bersama dan kemudian mengenal Allah, itulah yang utama (1). Karunia roh merupakan kendaraannya, dan kasih sebagai mesin penggeraknya. Semua yang kita miliki hendaknya kita gunakan untuk kepentingan dan kebaikan bersama, baik karunia rohani maupun berbagai macam ketrampilan dan pengetahuan hingga ilmu pengetahuan modern. Dengan demikian, Allah sumber kasih akan dikenal oleh banyak orang.
Kejarlah kasih! Berhentilah hanya memikirkan diri sendiri atau melihat orang lain sebagai saingan karena karunia yang diterimanya dari Allah, atau bahkan membuat orang lain merasa asing dengan kehadiran karunia roh yang kita terima dari Allah. Karunia roh akan membangun jemaat apabila kasih menjadi landasannya. Kebiasaan seperti di jemaat Korintus juga banyak terjadi di kalangan Kristen masa kini. Masih banyak orang Kristen memberlakukan karunia roh menjadi kemegahan diri atau kelompoknya. Sekali lagi, karunia roh diberikan oleh Allah harus berguna untuk membangun jemaat, membangun kehidupan bersama orang yang percaya kepada Kristus maupun yang belum percaya kepada Kristus.
14 Mei 2013

KASIH MENJADIKAN KARUNIA BERFUNGSI

Kasih ibarat lem perekat, pipa penyambung, tali pengikat, garam pengawet dan penghilang rasa tawar. Apabila tidak ada kasih, rupa-rupa karunia akan berdiri sendiri-sendiri. Padahal, Allah memberikan karunia untuk membangun kehidupan bersama di bumi ini, bukan di sorga. Karunia bernubuat, iman, pengetahuan, hanya diperlukan di bumi untuk membangun kehidupan. Sayangnya, ada saja orang Kristen yang menjadikan rupa-rupa karunia untuk diri sendiri atau kelompok komunitasnya saja. Seolah-olah mereka hidup di sorganya sendiri. Kasih harus menggarami dan merekatkan karunia yang satu dengan yang lain demi kebaikan hidup bersama di bumi.
Tanpa kasih, tidak ada gunanya karunia karena hanya akan jatuh pada kemegahan diri sendiri. Tanpa kasih, memberi akan tak bermakna. Pemberi dan penerima akan merasa hampa. Kasih menjadikan karunia yang ada pada kita berfungsi. Karunia ada untuk fungsi tertentu. Tanpa kasih, karunia tidak berguna (1-3).
Kasih itu tidak merugikan orang lain dalam bentuk apa pun. Ia tidak mengambil atau mengurangi hak-hak orang lain. Ia memberi ganti rugi apabila sudah merugikan sesamanya. Kasih itu tidak berlaku semena-mena atau menganggap rendah orang lain. Kasih itu memberi keuntungan bagi semua pihak. Ia memenuhi hak-hak setiap orang sebagai manusia seutuhnya yang dikasihi Allah.
Seharusnyalah rupa-rupa karunia yang kita miliki untuk memberi keuntungan bagi kehidupan. Sekali kita menggunakan karunia yang ada pada kita untuk kemegahan dan kesombongan kita, kita telah mengurangi sukacita orang lain, mereduksi iman dan pengharapan sesama kepada Allah. Apalah hak kita menyombongkan pemberian yang kita terima? Karunia itu pemberian Allah bukan milik ciptaan kita sendiri. Mari kita kembalikan karunia yang kita terima dari Allah sesuai dengan hakikat fungsinya yaitu untuk membangun kehidupan bersama. Hendaklah rupa-rupa karunia yang kita masing-masing miliki berdiri di atas satu pondasi yaitu kasih. Janganlah orang lain menjadi tersisih karena karunia yang kita megahkan.
13 Mei 2013

KESEDERAJATAN ANGGOTA TUBUH KRISTUS

Hampir dapat dipastikan, tak satu pun orang menganggap salah satu bagian tubuhnya boleh dibuang karena dianggap tidak penting. Setiap orang mengasihi tubuhnya sendiri. Seringkali, orang lainlah yang menyebabkan seseorang membenci tubuhnya. Misalnya, seseorang tidak menerima diri karena kulitnya hitam, karena orang banyak mengatakan kulit hitam itu jelek. Atau, banyak perempuan gemuk dan pendek tidak menerima tubuhnya karena orang banyak membuat standar kecantikan perempuan ialah langsing dan tinggi semampai.
Kristus mengasihi seluruh anggota tubuh-Nya, tanpa kecuali. Semua orang dengan suku dan status sosial sama derajatnya di hadapan Tuhan. Manusialah yang membeda-bedakan orang berdasarkan suku dan status sosialnya. Akibatnya, ada orang yang merasa diri hebat dan lebih berkuasa daripada orang lain. Orang lain merasa dirinya tidak berguna dan lebih rendah dibandingkan dengan orang lain. Terjadilah pelecehan, bahkan perkosaan atas sesamanya.
Sebagai anggota tubuh Kristus, kita semua sederajat. Bermacam-macam anggota tubuh mempunyai tempat dan fungsi khusus. Perbedaan tempat, ukuran, dan fungsi tidak memengaruhi tinggi rendahnya derajat mereka. Jari kaki tidak lebih hina karena ia di bawah. Demikian pula, anak kecil, orang miskin, atau orang yang tak mampu secara fisik (disable), tidak lebih rendah daripada orang dewasa, orang kaya, atau orang mampu secara fisik (able). Semua orang percaya memiliki tempat khusus di hati Yesus. Bagaimana mungkin kita dapat menghina orang yang disayang oleh Yesus? Mendiskriminasi mereka artinya, mendiskriminasi tubuh Kristus. Siapa kita sehingga mendiskriminasi tubuh Kristus?
Jangan kita memperlakukan lebih tinggi atau lebih utama seseorang karena jabatan, kedudukan, atau kekayaannya dalam sebuah jemaat. Hargai dan hormatilah setiap orang sebagai bagian penting dalam tubuh Kristus! Janganlah pula kita merasa diri lebih tinggi atau lebih rendah daripada orang lain. Semua jenis tugas dan fungsi dalam gereja adalah sama, yaitu untuk membangun tubuh Kristus.
12 Mei 2013

BERSYUKUR UNTUK PERJANJIAN KEKAL

Seberapa jauh kita mengingat sejarah kehidupan kita, dan mampu bersyukur untuk kasih setia Tuhan? Di masa kecil, ada kasih sayang orang tua, ada kecukupan dalam hidup, dst. Pernah kita mensyukurinya? Saat beranjak dewasa, kita bertemu secara pribadi dengan Tuhan Yesus. Pengalaman itu menjadikan rasa syukur yang tiada terhingga. Bahkan memampukan kita, saat menghadapi situasi tidak enak, masalah bertubi-tubi saat ini, tetap bersyukur kepada Tuhan.
Mazmur 105 adalah mazmur syukur karena kasih setia Allah dalam sejarah umat-Nya. Ayat 1-6 mengajak umat Israel bersyukur karena Allah telah berkarya bagi mereka dengan perbuatan-Nya yang ajaib. Ayat-ayat selanjutnya adalah catatan sejarah Israel yang merupakan bukti kasih setia-Nya kepada mereka.
Inti bagian pertama Mazmur ini (1-11) adalah kasih setia Allah yang dinyatakan lewat ikatan perjanjian-Nya. Siapakah Israel yang boleh mengalami kebaikan Tuhan. Inilah perjanjian anugerah! Isi perjanjian itu adalah mereka menjadi umat Tuhan dengan tanah Kanaan sebagai milik pusaka mereka (11). Inilah Perjanjian kekal (8, 11) karena Allah tidak pernah ingkar janji! Di kemudian hari bangsa Israel secara harafiah kehilangan tanah pusaka karena dosa-dosa mereka. Namun, Allah tetap mengasihi dan memelihara mereka. Pemazmur meyakini kasih setia Tuhan tidak pernah berubah.
Di dalam Kristus, Allah mengikatkan perjanjian-Nya dengan kita. Perjanjian itu bersifat anugerah. Perjanjian itu bersifat kekal! Allah Tritunggal penjamin keselamatan kita (Yoh. 10:28-30; Ef. 1:13-14). Di dunia ini, Tuhan bisa mendisiplin kita oleh karena ketidaksetiaan kita kepada-Nya, seperti Allah mendisiplin Israel sehingga kehilangan tanah pusaka.Akan tetapi, kasih setia Allah tak pernah berubah. Mari kita bersyukur untuk kasih setia-Nya dengan bertekad menjalani hidup berkenan kepada-Nya.
11 Mei 2013

KARUNIA ROH UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA

Mengutamakan kepentingan bersama versus mengutamakan kepentingan diri sering bergulat dalam diri kita. Kadang kita terpancing untuk bersaing kemampuan dan kekuasaan dengan orang lain. Ada juga yang sampai menjatuhkan orang lain demi diri sendiri.
Pada dasarnya, Allah memberikan berbagai macam karunia untuk kepentingan bersama. Namun, manusia membuatnya menjadi berhala bisu dengan memosisikan diri sendiri menjadi pusat kemuliaan. Ketidakpercayaan kepada Allah menarik hati manusia pada kepentingan diri serta menjauhkannya dari hakikat karunia Roh itu sendiri. Krisis kepentingan bersama juga menggerogoti orang Kristen. Inilah yang hendak dibongkar Paulus dari komunitas Kristen.
Karunia Roh yang diberikan Allah kepada manusia berfungsi untuk kepentingan kesejahteraan bersama. Ada rupa-rupa karunia, tetapi tidak berdiri sendiri-sendiri. Semuanya saling melengkapi bagi kebaikan bersama. Bagaikan jaring laba-laba, saling terkait satu dengan yang lain dan tidak terpisahkan, saling memberi keuntungan, dan saling melengkapi.
Setiap orang yang telah menyadari karunia tertentu yang diterimanya dari Allah hendaknya mengembangkannya terus-menerus. Kita juga perlu menolong sesama yang belum menyadari karunia yang dianugerahkan oleh Allah, supaya mereka pun dapat mempersembahkannya bagi kepentingan bersama. Rupa-rupa karunia bukan untuk disombongkan atau merendahkan orang lain. Sikap sombong dan merendahkan karunia lain yang dimiliki sesama, sama dengan merendahkan Allah Sang Pemberi karunia itu.
Daftar karunia yang ditulis Paulus ini (7-11) memang belum lengkap. Bisa ditambahkan lagi dari ayat 28-30 dan Roma 12: 6-8. Semua karunia itu terurai lagi dalam berbagai macam karunia lainnya yang tidak terkira macamnya. Yang penting, hendaknya kita memahami maksud pemberian karunia itu, yaitu demi menyejahterakan kehidupan bersama di dunia ini sehingga Allah dipermuliakan.
10 Mei 2013

PERJAMUAN TUHAN BAGI SESAMA

Berbagi hidup merupakan salah satu bentuk solidaritas menghadapi berbagai macam tantangan. Suatu komunitas masyarakat menjadi sejahtera karena dibangun dari kemauan berbagi hidup. Mereka berbagi informasi, pengetahuan, keterampilan, keuntungan, bahkan berbagi kerugian. Kemiskinan dan ancaman kebinasaan di dunia ini pun dijawab oleh Yesus Kristus dengan membagi hidup-Nya bahkan menyerahkan tubuh-Nya. Yesus membagi kemuliaan-Nya supaya manusia menjadi mulia. Namun, kita kadang melupakan perbuatan Yesus, sehingga kita menjadi egois dan hanya memuaskan diri sendiri.
Sejak semula, perjamuan dalam jemaat Kristen ditandai dengan berbagi makanan dan minuman. Namun di jemaat Korintus sudah bergeser. Kebiasaan perjamuan makan bersama sebelum perjamuan kudus berubah menjadi menikmati makanannya sendiri (17-22). Yang miskin pun semakin tersingkir. Padahal, perjamuan kudus merupakan jalan untuk mengingat dan memberitakan solidaritas Kristus melalui kematian-Nya bagi keselamatan dunia (23-26). Yesus menjadi miskin supaya kita menjadi kaya. Yesus mati supaya kita hidup. Pengakuan akan tubuh dan darah Kristus ditandai dengan sikap menghormati perjamuan kudus. Makan pada Perjamuan kudus tanpa mengakui tubuh dan darah Kristus sama dengan mengundang hukuman bagi diri sendiri (27-34).
Sesungguhnya, tidak ada perjamuan tanpa kebersamaan. Makan sendiri dalam sebuah acara perjamuan bersama hanya mendatangkan keburukan bahkan perpecahan dalam komunitas. Orang yang sedang lapar dan tidak punya makanan akan merasa minder dan tersisih apabila orang yang berpunya tidak berbagi makanan. Tuhan Yesus Kristus membagi kasih dan kemuliaan-Nya kepada dunia ini, dan Ia tidak pernah kekurangan kasih dan kemuliaan-Nya. Ketika kita berbagi dengan sesama, hal itu tidak akan membuat kita berkekurangan. Sebab itu, buanglah keegoisan, kepentingan diri, dan kepuasan diri dalam perjamuan kudus atau perjamuan kasih. Wujudkanlah kasih Kristus!
9 Mei 2013

KENAIKAN TUHAN YESUS

Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus didahului dengan penampakan-Nya yang berulang-ulang kepada para murid setelah kebangkitan-Nya. Dan ini terjadi selama empat puluh hari. Alkitab mencatat bahwa Yesus terus menyatakan Injil Kerajaan Allah kepada murid-murid-Nya supaya mereka mengingat semua pengajaran yang telah Ia berikan (Kis. 1: 3).
Mengapa Tuhan Yesus naik ke surga? Yohanes 16:28 menyatakan bahwa Yesus datang dari Bapa dan kembali kepada Bapa. Jadi memang Yesus harus kembali kepada Bapa karena Ia sudah menggenapi semua tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya. Lalu bagaimana kelanjutan tugas tersebut di dunia ini? Murid-murid Yesus harus melanjutkannya sampai Dia datang kembali. Maka Ia pun mempersiapkan para murid-Nya untuk bersama Dia sampai pada peristiwa kenaikan-Nya.
Walau peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus adalah peristiwa perpisahan, tetapi ini bukanlah peristiwa yang menyedihkan. Ekspresi para murid menyatakan sikap penyembahan kepada Allah, suatu sikap tunduk dan memuliakan Tuhan Yesus. Bahkan mereka pulang dengan bersukacita (52). Mengapa? Pertama, peristiwa ini menjadi dasar tentang bagaimana para murid akan menjalankan kehidupan misi Tuhan Yesus selanjutnya. Mungkin saja mereka belum mengetahui dengan pasti bagaimana keadaan mereka setelah ditinggal oleh Tuhan Yesus. Kedua, berkat Tuhan Yesus yang telah mereka terima justru memberi keteguhan dalam hati bahwa Allah menyertai dan memelihara kehidupan mereka, apa pun kondisi yang mereka alami.
Sesungguhnya kehidupan orang percaya bukan meratap sedih berkepanjangan karena berbagai perpisahan yang pernah dialami, melainkan harus memiliki sikap hati yang penuh pengharapan kepada Allah. Inilah dua kondisi yang harus ada pada kita. Allah sanggup menyertai kita dengan berkat-Nya sekaligus Allah mengutus kita untuk menjalankan misi-Nya melalui kehidupan kita secara pribadi, keluarga, dan juga gereja. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjadi saksi-saksi-Nya.
8 Mei 2013

PERHATIKANLAH KONTEKS!

Perempuan dengan rambut digerai dan acak-acakan serta laki-laki dengan kepala botak biasa terdapat dalam ibadah ekstatik terhadap dewa-dewa Timur. Ini kontras dengan perempuan Yahudi yang menutup kepala dengan tudung.
Kehidupan baru dalam Roh membawa kemerdekaan dan kesederajatan bagi laki-laki dan perempuan untuk sama-sama berpartisipasi aktif dalam komunitas Kristen mula-mula. Namun, dalam rangka pemberitaan Injil, Paulus menganjurkan perempuan supaya tidak sama dengan perempuan dalam ibadah ekstatik yang memberi kesan kegilaan dan kemabukan. Tujuan Paulus ialah ketertiban dan sifat misioner komunitas Kristen.
Paulus menyoroti soal rambut di kepala perempuan bukan karena persoalan gender atau karena peraturan Kristen, tetapi untuk kepentingan pekabaran Injil oleh gereja mula-mula. Ibadah Kristen harus berlangsung dengan tertib dan teratur supaya tidak menjadi sumber penolakan bagi orang Yahudi terhadap Injil Kristus. Untuk mempertegas tentang rambut perempuan supaya sungguh-sungguh mendapat perhatian, Paulus memakai contoh hubungan Allah-Kristus, dan laki-laki-perempuan. Allah dan Kristus berada dalam hubungan setara, demikian pula laki-laki dan perempuan. Keduanya saling memberi kemuliaan oleh yang satu kepada yang lain (2-10, 13-16). Laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan menurut gambar Allah dan keduanya berasal dari Allah (11-12).
Nas ini bukan ditujukan hanya kepada para perempuan, tetapi kepada semua orang Kristen. Konteks zaman itu berbeda dengan konteks sekarang. Waktu itu rambut perempuan dapat menjadi masalah dan batu sandungan. Perhatikanlah konteks sekarang! Apa sajakah hal-hal di sekitar kita yang dapat mengganggu ketertiban dalam ibadah serta dapat menjadi sumber penolakan orang kepada Kristus? Kesaksian kita merupakan bagian penting dari ibadah. Kesaksian iman kita dapat menjadi sandungan bila jatuh menjadi kesombongan iman. Maka berhati-hatilah, jangan sampai menghalangi orang datang kepada Kristus!
7 Mei 2013

JANGAN MENDUA HATI

Bagaimana perasaan kita ketika orang yang sangat kita cintai tiba-tiba berselingkuh? Pasti perasaan sakit hati, cemburu, marah, kecewa, dsb., bercampur aduk dalam hidup kita. Lalu, bagaimana perasaan Tuhan ketika kita menduakan diri-Nya? Dalam teks ini, Paulus menegaskan bahwa Tuhan marah dan cemburu (22). Karena sejak awal Dia tidak ingin ada allah lain dalam hidup kita (bdk. Kel. 20:3).
Di satu sisi, jemaat Korintus percaya kepada Kristus. Di sisi lain lingkungan yang penuh penyembahan berhala menyebabkan situasi yang sulit. Dengan tegas Paulus menasihati jemaat Korintus untuk menjauhi penyembahan berhala (14). Jemaat Korintus sudah disatukan kepada Kristus melalui perjamuan kudus sebagai lambang penebusan Kristus (16-17). Mereka tidak perlu lagi mengikuti perjamuan para penyembah berhala. Mereka dapat belajar dari nenek moyang Israel yang mendua hati dengan menyembah Allah sekaligus berhala, yang mengakibatkan Allah murka dan menghukum mereka (18-22).
Jika demikian, apakah orang yang percaya kepada Kristus boleh menikmati makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala? Jawaban Paulus bersifat dialektis. Jikalau makanan tersebut benar-benar sebagai alat untuk penyembahan berhala, maka Paulus melarang keras untuk menikmatinya karena sama saja dengan mengakui keberadaan roh jahat di balik berhala (19-20; 28-29a)). Akan tetapi, jikalau makanan tersebut tidak berkaitan dengan penyembahan berhala maka dapat dimakan untuk kebutuhan jasmani (25-27). Prinsip ini yang Paulus gunakan dalam menghadapi ‘dilema’ seperti itu: pertama, selalu menguji hati nurani agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain (29, 32); kedua, mengucap syukur kepada Tuhan (30); ketiga, semuanya dipergunakan hanya untuk kemuliaan Tuhan (31). Paulus kemudian mengajak mereka melihat dirinya sebagai teladan sebagaimana ia sendiri meneladani Kristus (10:33-11:1). Prinsip Paulus tetap sama dengan pasal 8, yaitu ujung dari semua perbuatan kita haruslah demi kemuliaan Tuhan dan demi kebaikan orang lain.
6 Mei 2013

TETAP TEGUH DITENGAH PENCOBAAN

Apa hubungan pasal 10 ini dengan dua pasal terdahulu? Pasal 10 berfokus pada bahaya penyembahan berhala yang kontras dengan iman Kristen (1-13, 14-22), lalu kembali ke masalah makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala (23-33).
Demi mengejar kuasa, jabatan, dan harta, tidak jarang ada orang percaya yang rela menyangkal Kristus. Begitu juga saat ada tekanan, kekhawatiran, kecemasan, kepahitan dan persoalan hidup, ada saja orang Kristen yang mencari jalan keluar dengan mengandalkan kekuatan diri. Lalu bagaimana sikap yang benar dalam menghadapi cobaan hidup?
Paulus mengingatkan orang percaya di Korintus untuk tetap teguh di tengah begitu banyak badai pencobaan yang menghadang perjalanan hidup mereka. Orang percaya sedang terjepit karena berada di tengah-tengah orang yang menyembah berhala. Mereka menjadi bimbang dan ragu untuk mengikut Kristus. Paulus menguatkan mereka dengan mengingatkan kembali bagaimana Tuhan dahulu memelihara dan menuntun perjalanan nenek moyang mereka keluar dari Mesir (1-4). Namun, mereka tidak setia kepada Tuhan dengan menyembah berhala (7), berbuat cabul (8), mencobai Tuhan (9) dan bersungut-sungut kepada-Nya (10). Akibatnya, Tuhan marah dan membuat mereka menderita bahkan mati semua di padang gurun, kecuali Yosua dan Kaleb (5; bdk. Bil. 26:65). Perilaku buruk nenek moyang Israel dan dampaknya menjadi pelajaran bagi orang percaya di Korintus (6, 11).
Tidak seharusnya orang percaya gagal dalam pencobaan seperti yang dialami umat Israel. Pencobaan mereka berkaitan dengan hal sehari-hari. Tuhan tidak akan memberikan pencobaan yang melampaui kekuatan mereka dan selalu ada jalan keluar bagi setiap pencobaan (13).
Sebagai orang percaya, kita senantiasa menghadapi berbagai cobaan. Janganlah kita kalah terhadap cobaan. Sebaliknya, mari kita melawan cobaan karena Yesus, sang “batu karang rohani”, yang telah mencurahkan darah-Nya bagi keselamatan kita, akan setia bersama kita selalu (4).
5 Mei 2013

MERESPON KARYA ALLAH DENGAN TEPAT

Ada tiga dimensi alam ciptaan, yang menggambarkan keagungan Allah, Sang Khalik.Pertama, dimensi ruang yang menjadi wadah semua makhluk ciptaan hadir menjalani hidup.Kedua, dimensi kehidupan itu sendiri. Hidup berasal dari Allah, Sumber Hidup. Ketiga, dimensi waktu. Hidup bukan hanya suatu keadaan, tetapi suatu perjalanan. Bagi manusia, hidup memiliki tujuan karena waktu yang dijalaninya tidak berhenti saat kematian, tetapi diteruskan dalam kekekalan.Manusia diciptakan untuk mencapai tujuannya yaitu memuliakan Allah. Caranya, dengan mendayagunakan kehidupan untuk mengelola dan mengembangkan hidup di ruang yang telah diberikan kepadanya.
Ayat 1-9 dan 10-18 memberi alasan memuji Tuhan karena karya penciptaan-Nya dalam dimensi ruang. Bagian ketiga memaparkan dimensi waktu (19-23) dan dimensi kehidupan, secara khusus pada puncak ciptaan-Nya, manusia (27-30).
Bagi sebagian makhluk ciptaan, dimensi waktu seperti sebuah siklus, lingkaran musim.Setiap makhuk menjalani kehidupan bersandarkan hukum alam yang mengatur mereka.Namun, bagi manusia, siklus musim tidak berarti kehidupan berjalan statis. Dengan dimensi kekekalan, manusia melihat waktu secara linear, bertujuan. Siklus musim merupakan kesempatan untuk membangun dunia ini dengan kehidupan yang memuliakan Tuhan.
Mazmur ini ditutup dengan peringatan kepada manusia yang merespons salah. Pertama, orang yang tidak mensyukuri kebaikan Allah, yang telah memberi hidup dan memercayakan mereka pengelolaan atas ciptaan-Nya, dengan cara merusak atau memanipulasinya bagi kepentingan sendiri. Kedua, orang yang masa bodoh dan malas, sehingga menghabiskan hidup dan waktu seperti makhluk ciptaan lain yang memang tidak memiliki dimensi kekekalan. Semoga kita bukan orang-orang yang demikian.
4 Mei 2013

SEMUA DEMI KRISTUS

Seseorang yang sangat mencintai pasangannya (suami atau istri), pasti akan melakukan apa saja demi membahagiakan pasangannya itu. Ia akan rela berkorban materi, pikiran, perasaan, waktu, dan bila perlu nyawa ketika pasangannya sedang mengalami persoalan atau masalah. Dia juga tidak menuntut apa-apa selain kasih dan kesetiaan pasangannya.
Itulah yang dilakukan Paulus. Demi Kristus, ia rela menderita bahkan tidak menerima haknya sebagai rasul. Paulus berusaha menahan diri dari upah duniawi demi pemberitaan Injil Kristus (12b, 15). Seperti di ayat 1-12a, Paulus mengakui bahwa dia berhak menerima upah dari pemberitaan Injil yang dia lakukan (13-14). Akan tetapi, dia lebih mengutamakan pemberitaan Injil demi memenangkan jiwa dan membawanya kepada Kristus. Merupakan suatu keharusan bagi dia untuk melakukan tugas tersebut. Jika dia tidak melakukannya, Paulus justru merasa dirinya adalah orang yang celaka (16). Karena Paulus adalah hamba Kristus, maka upahnya adalah boleh memberitakan Injil Kristus, yang telah menebus dan menyelamatkan dirinya (17-18).
Demi memenangkan jiwa bagi Kristus, Paulus berusaha semaksimal mungkin beradaptasi dengan lingkungan di mana dia berada tanpa kehilangan identitasnya sebagai pengikut Kristus. Baik di antara orang Yahudi, non Yahudi, orang lemah, orang kuat, dsb. Paulus berusaha hidup seperti mereka sambil memberitakan Injil (20-23). Dirinya bagai seorang atlet yang sedang berlomba mengejar mahkota juara dengan mengikuti semua aturan yang ada. Meski proses menuju finis dipenuhi rintangan dan jalan yang berliku, tetapi dengan keyakinan dan penguasaan diri, ia akan dapat menerima mahkota kehidupan (24-27).
Semua yang dilakukan Paulus adalah untuk dan demi Kristus. Bagaimana dengan kita? Jikalau kita bisa melakukan segala sesuatu untuk pasangan yang kita cintai di dunia ini, bukankah kita juga seharusnya melakukan segala sesuatu untuk pasangan abadi kita, yaitu Yesus Kristus? Kiranya kesadaran bahwa kita adalah pengikut Kristus memotivasi kita.
3 Mei 2013

HAK PELAYAN TUHAN

Mengapa tiba-tiba Paulus membicarakan hak rasuli di pasal 9 ini? Sepertinya ini topik yang tidak berhubungan dengan pasal 8. Namun, kita bisa melihat hal ini sebagai teladan dari rasul Paulus. Seperti nasihat Paulus agar jangan sampai pengetahuan seseorang menjadi batu sandungan bagi orang lain (pasal 8), demikian juga hal rasuli jangan sampai mengganggu pelayanan rasul kepada jemaat. Itu sebabnya, walau memiliki hak rasuli, Paulus memilih tidak menggunakannya demi kepentingan pengabaran Injil (12b dst.). Di sisi lain, mungkin juga ada jemaat Korintus yang meragukan kerasulan Paulus.
Paulus meyakinkan jemaat Korintus bahwa dia benar-benar rasul Kristus (1-3). Bukankah mereka percaya kepada Kristus dari hasil pemberitaan Injilnya (1-2)? Gereja Korintus adalah buah pelayanan misi Paulus. Paulus menyadari betul akan haknya sebagai seorang rasul sama seperti para rasul dan hamba Tuhan lainnya (4-6). Untuk lebih menguatkan argumennya, Paulus membandingkan dirinya dengan contoh lazim saat itu, yaitu kehidupan seseorang yang menjalani hidup dari hasil profesinya (7).
Paulus mengajarkan prinsip Taurat yang terdapat di Ulangan 25:4. Paulus menjelaskan bahwa seorang pembajak mengharapkan hasil bajakan sama seperti pemilik pengirikan mengharapkan hasil gandum yang diirik. Bukan hanya lembu, tetapi pemilik pengirikan juga harus menikmati hasil pengirikan tersebut! Bagi Paulus itu berarti seorang pemberita Injil berhak menikmati berkat dari mereka yang menerima berita Injil, yaitu jemaat Korintus sendiri. Karena jemaat Korintus telah menerima berkat rohani dari pelayanan Injil Paulus, maka tidak berlebihan kalau Paulus menerima berkat jasmani dari jemaat Korintus (11-12a).
Kita adalah pelayan Kristus dan Tuhan menjanjikan upah bagi pelayan yang setia. Salah satu bentuk upah adalah buah pelayanan yang dapat kita lihat, seperti pertobatan atau pertumbuhan jemaat. Sebagai pelayan yang baik, sama seperti Paulus, bukan upah jasmani atau kepuasan jiwa yang kita kejar.
2 Mei 2013

BERHIKMAT MENGGUNAKAN PENGETAHUAN

Tanpa kita sadari, makanan dapat menjadi masalah yang merenggangkan hubungan kita dengan sesama. Dalam budaya tertentu, sikap tidak menghargai makanan yang disajikan dapat menimbulkan pertengkaran. Di tempat lain, makanan tertentu yang dimakan orang lain dapat menimbulkan prasangka negatif bahkan dikait-kaitkan dengan dosa. Sikap seperti itu terjadi karena seseorang merasa memiliki pengetahuan untuk memutuskan, apakah makanan itu boleh dikonsumsi atau tidak.
Paulus menghadapi persoalan yang sama. Ia harus menjawab pertanyaan tentang sikap orang percaya terhadap daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala (1). Masalah ini terjadi karena latar belakang sebagian jemaat Korintus yang dahulunya adalah penyembah berhala. Mereka yang dahulu mempersembahkan kurban kepada berhala, meyakini bahwa makan daging persembahan berhala berarti menyembah berhala. Namun, jemaat lain memiliki ‘pengetahuan’ bahwa berhala itu mati. Jadi, tidak ada masalah memakan makanan tersebut.
Paulus memberikan nasihat. Pertama, pengetahuan manusia sangat terbatas. Pengetahuan itu harus digunakan untuk mengasihi sesama dan Allah. Kalau pengetahuan menjadikan seseorang sombong, hal itu akan menjadi batu sandungan bagi orang lain (1b-2, 13). Kedua, Allah adalah Allah yang esa. Tidak ada allah lain yang hidup. Semua berhala adalah mati. Maka, makanan apa pun, termasuk yang sudah dipersembahkan kepada berhala, dapat kita nikmati dengan bebas (4-8). Ketiga, berhikmat menggunakan pengetahuan. Ketika kita sengaja menikmati makanan tersebut di depan orang-orang yang lemah imannya, mereka bisa terjatuh dalam dosa. Paulus menyarankan daripada menjadi batu sandungan lebih baik jangan memakannya (9-13).
Firman Tuhan menjadi sumber pengetahuan untuk menimbang benar dan salah. Gunakan pengetahuan itu untuk membangun iman sesama. Itu bukti kita mengasihi mereka. Kesombongan menjadikan kita batu sandungan bagi orang lain. Mintalah hikmat Tuhan agar dapat menggunakan pengetahuan kita dengan benar.
1 Mei 2013

FOKUS PADA PANGGILAN TUHAN

Pesan di bagian ini harus dipahami dengan menyadari tiga kalimat kunci. “Tinggal dalam keadaan sebagaimana ia dipanggil” (20, lih. 17, 24); “Yang penting ialah menaati hukum-hukum Allah” (19) bdk. 32, 34, dan 35); dan, “mengingat waktu darurat sekarang” (26, bdk. 29).
Apa artinya “tinggal dalam keadaan sebagaimana ia dipanggil”? Pertama, jangan mengupayakan perubahan apa-apa yang menyangkut penampilan luarmu ketika kamu menjadi orang percaya. Yang penting adalah panggilanmu dan perubahan di dalam kamu dengan menaati hukum-hukum Allah! Atau kedua, “tinggal tetap sebagai orang percaya dalam situasi apa pun yang Tuhan aturkan buat kamu, sebagaimana Tuhan telah memanggilmu” (terjemahan Today’s NIV). Dengan kata lain, setialah!
Mengapa kita jangan memusingkan status sosial atau tanda rohani? Tanda rohani yang terlihat seperti sunat dan status sosial sebagai orang merdeka, tidak serta merta membuat anak Tuhan bertambah rohani. Yang utama adalah bagaimana menyenangkan Tuhan dengan fokus melayani Dia. Termasuk di dalamnya masalah sosial pernikahan. Inti dari uraian Paulus di ayat 25-34 bukan tidak menikah lebih baik daripada menikah, walaupun itu preferensi Paulus pribadi. Melainkan, setiap anak Tuhan harus peka akan pimpinan Tuhan tentang apa yang tepat bagi dirinya, gadisnya, atau anak gadisnya agar dapat fokus melayani Tuhan mengingat godaan dosa amoralitas yang sangat kuat.
Nasihat Paulus ini harus dipahami bukan sebagai prinsip umum pernikahan. Paulus tidak sedang mengajar teologi pernikahan. Paulus menyadari situasi darurat saat itu. Masa itu begitu sulit dan sewaktu-waktu Kristus dapat datang kembali. Paulus mengharapkan umat Tuhan bisa fokus pada hal yang utama yaitu melayani Tuhan sebaik-baiknya.
Relevankah nasihat Paulus ini dengan konteks orang Kristen abad ke-21? Relevan. Sekarang ini orang lebih memandang penampilan luar dan mengabaikan karakter di dalam. Orang lebih sibuk dengan perkara ‘dunia’ daripada fokus pada Tuhan dan pelayanan.
30 April 2013

KEHENDAK ALLAH ATAS PERNIKAHAN

Hubungan seksual yang amoral memang dosa, tetapi sepasang suami istri halal melakukannya karena merupakan tanggung jawab keduanya untuk memenuhi kewajiban terhadap pasangan. Bukan hanya sebagai hak istimewa suami dan kewajiban istri saja, tetapi masing-masing pihak wajib menunjukkan kasih sayangnya secara fisik terhadap pasangannya, dengan maksud untuk menyenangkan atau memuaskan pasangannya (3-4). Relasi seksual merupakan berkat Allah, bukan beban apalagi kutuk. Lagi pula relasi seksual yang sehat dapat mencegah kehidupan seksual yang amoral. Absennya seks dalam sebuah pernikahan diperbolehkan untuk sementara waktu, tetapi hanya untuk alasan spiritual (5).
Lalu bagaimana bila orang tidak menikah? Walaupun orang yang menikah berharap seandainya tidak menikah atau orang yang tidak menikah berharap menikah, Paulus menegaskan bahwa keduanya merupakan karunia Allah (7-9). Begitu pun bila orang yang menikah merasa lebih beruntung dari orang yang tidak menikah atau yang tidak menikah merasa lebih beruntung dari orang yang menikah, harus dipahami bahwa masing-masing status merupakan karunia Allah.
Isu selanjutnya adalah perceraian. Sepasang suami istri Kristen tidak boleh bercerai karena alasan apa pun (12-13). Jika terjadi perpisahan, mereka tidak boleh menikah lagi dengan orang lain. Yang boleh dilakukan hanyalah mengadakan rekonsiliasi dengan pasangan mereka sebelumnya.
Nas ini memperlihatkan kepada kita bahwa Allah memandang serius suatu pernikahan, maka begitu pula orang beriman seharusnya. Pernikahan merupakan kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita yang bersifat permanen, sehingga tak seorang pun yang berhak memutuskan kesatuan itu.
Baik menikah atau melajang menghadirkan manfaat dan berkat masing-masing. Baik menikah atau melajang, kita harus melayani Tuhan dan mencari kemuliaan-Nya. Tidak boleh ada seorang pun yang menyombongkan diri atas statusnya karena semuanya merupakan anugerah Allah.
29 April 2013

BAIT ROH KUDUS

Biasanya kita akan berpikir soal salah dan benar ketika mempertimbangkan akan melakukan sesuatu. Itulah yang disebut legalitas.
Namun menurut Paulus, legalitas bukanlah satu-satunya pertimbangan dalam bertindak, harus dipertimbangkan juga apakah tindakan tersebut berguna (12). Ingatlah bahwa kebebasan kita bukan hanya untuk diri kita sendiri saja, melainkan juga untuk orang lain. Maka sepatutnya kita memikirkan juga apakah tindakan kita bermanfaat atau malah berdampak buruk bagi orang lain. Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan apakah kita akan diperhamba oleh tindakan itu. Karena sudah seharusnya Allah saja yang mengontrol segala tindakan kita, termasuk dalam hal seks.
Melihat latar belakang penduduk Korintus secara umum, mungkin saja jemaat Korintus juga menganggap bahwa seks di luar pernikahan merupakan hal yang bisa. Ini dapat kita lihat dari pasal 5, mereka tidak menegur orang yang melakukan dosa seks. Namun Paulus menegaskan bahwa seks berbeda dari makanan. Makanan, meski bersangkut paut dengan tubuh, mungkin saja tidak ada signifikansinya dengan iman, asal jangan rakus tentunya. Tidak demikian dengan seks. Perilaku seksual berkaitan erat dengan moral dan kekudusan. Seks di luar nikah mungkin saja menarik, tetapi dosa seks berpengaruh bagi tubuh dan dapat menghancurkan moralitas dan kerohanian kita.
Maka kita harus mengingat bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus (15), sebab itu jangan pernah digunakan untuk aktivitas seksual yang tidak semestinya baik itu zina, prostitusi, perilaku seksual menyimpang, dan lain-lain. Tubuh adalah bait Roh Kudus, tempat yang kudus bagi Allah, maka seharusnya tubuh kita bersih dari perilaku seks yang amoral. Jika benar kita dipenuhi Roh, itu akan terlihat dari perilaku seksual kita. Jika kita bersikap amoral dalam hal seksual, berarti kita telah menajiskan bait Roh Kudus. Jika kita diperhadapkan pada dosa seksual, teladanilah Yusuf yang berani melarikan diri dari dosa itu meski harga yang harus dibayar untuk itu sangat besar.
28 April 2013

PENCIPTA DAN PEMELIHARA

Adalah kenyataan bahwa di Indonesia ini banyak sarana umum yang berusia pendek.Salah satu penyebabnya, yang biasa ditudingkan kepada pemakainya ialah ketidakpedulian atau tidak bertanggung jawab untuk memelihara sarana itu. Kita hanya tahu memakainya, tidak mau repot menjaganya.
Sangat berbeda dengan Allah, Sang Pencipta. Dia yang mencipta dengan begitu baik dan asri (lihat Kej. 1), juga memeliharanya dengan sama baiknya. Allah memelihara ciptaan-Nya melalui penugasan dan pemberian wewenang kepada manusia (lihat Kej. 1:26-28). Manusia sebagai gambar Allah diberi kemampuan untuk mengelola alam (lihat Kej. 2).
Allah memelihara ciptaan-Nya melalui hukum alam/kodrati. Alam ini diciptakan asri dan harmonis. Bagian Mazmur ini (9-18) memberikan alasan memuji Tuhan karena Dialah Pencipta yang memelihara ciptaan-Nya. Baik pengelolaan benda-benda mati (10, 13), maupun tumbuhan dan binatang (11-12, 14, 16-18), sampai kepada manusia (14-15), semua tersistem dan saling terkait. Bandingkan dengan urutan penciptaan di Kejadian 1 yang memperlihatkan ketergantungan ciptaan satu sama lain.
Masalah kekacauan di dalam dunia ciptaan Allah, ada pada ulah manusia berdosa yang merusak alam. Manusia dalam ke-sokpintaran-nya merusak ekosistem dengan sistemnya yang berorientasi sempit, demi kepuasan sesaat dan kemakmuran jangka pendek.
Kalau kita mau menghayati pujian kepada Allah sebagai Pencipta yang memelihara ciptaan-Nya, kita harus wujudkan itu dengan kembali bertanggung jawab atas tugas kita sebagai gambar Allah. Mari kita bangun kembali alam yang sudah rusak. Kita dukung gerakan penghijauan, mencegah perusakan yang lebih parah dari hutan-hutan kita, membatasi diri dari menggunakan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan, yang sulit didaur ulang, dst.
27 April 2013

INGAT KESAKSIAN KITA

Ada sebuah gedung gereja yang digunakan untuk beribadah oleh dua kelompok dari denominasi yang berbeda. Sering kali kedua kelompok itu bertikai mengenai penggunaan gedung. Penjaga gedung sampai turun tangan untuk mendamaikan mereka. Yang ironis, sang penjaga berbeda iman dari kedua kelompok itu.
Tampaknya Paulus menganggap bahwa pertikaian di antara dua anggota jemaat tidak perlu sampai dibawa ke pengadilan umum, karena hakim yang bertugas di situ bukan orang beriman (1). Maka sungguh memalukan bila orang percaya minta didamaikan oleh orang yang tidak percaya. Dengan mendatangi hakim di pengadilan dunia untuk memecahkan masalah di dalam jemaat, itu sama saja dengan mengatakan bahwa tidak ada orang yang cukup berhikmat dan berotoritas untuk memecahkan permasalahan tersebut.
Bahkan adanya pertikaian di antara mereka saja sudah merupakan suatu hal yang memalukan. Menurut Paulus, adalah lebih baik bila mereka menderita kekalahan daripada harus bertikai dan saling membalas dengan cara-cara yang sama sekali tidak kristiani. Padahal suatu saat Allah akan mendelegasikan otoritas untuk menghakimi orang yang tidak beriman kepada orang beriman (2). Bila demikian besar otoritas yang akan diterima oleh orang beriman maka sudah seharusnya orang beriman punya kompetensi untuk menyelesaikan permasalahan internal. Lagi pula orang beriman dapat meminta hikmat dari Roh Kudus bila memerlukannya (Yoh. 14:26).
Dari kritik Paulus, tampak bahwa jemaat Korintus tidak memahami identitas mereka selaku orang percaya yang harus memberikan kesaksian yang benar kepada dunia ini. Maka selaku orang percaya, kiranya kita tidak sampai pergi ke pengadilan dunia untuk memecahkan masalah di antara jemaat. Kalaupun masalah di antara jemaat butuh seorang pendamai atau penengah, carilah seorang Kristen atau hamba Tuhan yang berhikmat dan berotoritas. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen marilah kita belajar untuk saling memberi, bukan hanya berusaha memanfaatkan sesama.
26 April 2013

TEGURLAH!

Bagaimana sikap orang biasanya ketika ia ketahuan berbuat dosa? Ada yang langsung merasa bersalah dan mohon ampun kepada Tuhan atau mohon maaf kepada sesamanya. Ada juga orang yang jadi merasa malu lalu menghindari pertemuan dengan orang lain. Namun ada juga yang membela diri sedemikian rupa untuk menutupi kesalahannya, di samping ada juga yang merasa tidak peduli.
Seperti kita telah ketahui, jemaat Korintus menyombongkan keadaan dan kerohanian mereka. Namun Paulus mengetahui bahwa di dalam jemaat terdapat anggota yang berbuat tidak senonoh, yaitu hidup dengan isteri ayahnya (1). Begitu buruknya perbuatan ini sehingga Paulus berkata bahwa orang yang tidak mengenal Allah saja tidak melakukannya (1Kor. 5:1). Yang lebih parah, saudara-saudara seimannya yaitu jemaat Korintus tampaknya diam saja. Mereka tidak memberikan teguran kepada pria itu ataupun mendisplinkan dia. Mereka malah membanggakan diri, mungkin karena merasa telah melakukan apa yang baik, dengan tetap mengasihi dan menerima pria itu apa adanya, tanpa memperhitungkan dosa-dosanya (2). Mereka jelas telah memiliki konsep yang salah tentang kasih, dosa dan hukumannya. Maka selanjutnya Paulus mengingatkan mereka untuk tidak membiarkan pria itu tinggal di tengah-tengah mereka sebagai tindakan disiplin yang harus dilaksanakan.
Kita memang harus mengasihi dan menerima setiap orang apa adanya. Namun sebuah tindakan disiplin yang dilakukan terhadap saudara seiman yang berbuat dosa, sebenarnya juga merupakan wujud kasih, dengan maksud untuk mengembalikan yang salah ke jalan yang benar, demi kebaikan mereka.
Maka tindakan mendisiplin umat yang berbuat dosa hendaknya tidak dihapuskan dari peraturan gereja. Allah sangat serius menghadapi dosa, kita sebagai pengikut-Nya pun harus bersikap sama. Tak perlu takut gereja kita akan kehilangan atau kekurangan jemaat karena hal itu. Kita harus menjunjung tinggi kebenaran Allah serta kekudusan-Nya dalam kehidupan kita berjemaat.
25 April 2013

Di dalam surat ini, Paulus sering menggunakan kata yang bermakna arogan. Frekuensi penggunaan kata ini mengidentifikasi salah satu masalah utama yang ada di dalam jemaat Korintus.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa mereka tidaklah superior bila dibandingkan dengan orang lain. Sikap superior itu dapat membuat mereka menghakimi orang lain, bahkan menghakimi hamba Tuhan. Meskipun mereka memiliki banyak hal, harus disadari bahwa semuanya itu adalah pemberian Allah. Sebab itu mereka seharusnya mengucap syukur dan bukan malah menyombongkan diri serta merendahkan Paulus yang mengalami kesukaran dan penderitaan dalam pelayanannya.
Paulus memberi contoh tentang dirinya dan para rasul yang lain tentang bagaimana mereka harus mengalami hinaan dan direndahkan oleh karena Kristus. Iman dan pelayanan mereka kepada Kristus tidak menghasilkan sesuatu yang membawa kebanggaan dan kesenangan bagi diri mereka sendiri. Yang diperoleh para rasul justru hal-hal yang menyengsarakan dan menyakitkan (11-13). Melalui pengalaman ini, Paulus bermaksud menegur mereka agar menyadari sikap mereka dan tahu bagaimana seharusnya mereka bersikap. Karena itu mereka harus mengikuti teladan Paulus sebab ia telah terlebih dahulu mempraktikkan apa yang dia ajarkan (16).
Teguran Paulus kepada jemaat Korintus jadi teguran juga bagi kita. Kita bisa saja membanggakan diri karena jadi anggota suatu gereja besar atau bila gereja kita dipimpin oleh pendeta besar yang terkenal. Kebanggaan itu membuat kita jadi merasa seolah-olah kita sama besarnya dengan pendeta tersebut. Atau kita telah memilih jalan yang benar dengan menjadi anggota gereja tersebut. Kebanggaan seperti ini dapat melahirkan perasaan superioritas yang tidak pada tempatnya serta dapat membuat kita merendahkan gereja-gereja yang beranggotakan orang-orang yang berstatus ekonomi rendah. Ingatlah bahwa esensi iman kita adalah memikul salib dan mengikut Kristus.
24 April 2013

SIKAP TERHADAP HAMBA TUHAN

Bagaimana hubungan jemaat, di tempat Anda menjadi anggota, dengan pendeta atau hamba Tuhan yang melayani di situ? Lalu bagaimana hubungan dengan hamba Tuhan lain, yang tidak khusus melayani di situ?
Jemaat Korintus sedang terpecah-belah. Mereka berkelompok-kelompok sesuai pemimpin rohani yang mereka agung-agungkan. Sebab itu, Paulus mengoreksi pemahaman mereka mengenai pemimpin rohani. Seorang pemimpin rohani adalah seorang hamba Kristus, yang dipercayakan rahasia Allah (1). Seorang hamba tentu harus menjaga kepercayaan penuh yang diberikan oleh tuannya. Bagi Paulus, ini berarti setia pada Injil yang telah dia terima dan beritakan. Maka bagi Paulus, pendapat orang Korintus tentang bagaimana ia menjaga kepercayaan dari Allah bukan merupakan suatu hal yang penting. Evaluasi pribadi tentang kinerjanya sendiri juga bukan merupakan hal yang utama (3). Apa yang penting bagi Paulus adalah penilaian Allah terhadap pelayanannya hingga suatu waktu kelak dia menerima pujian dari Allah (4-5).
Maka Paulus mengimbau orang Korintus untuk berhenti menghakimi hamba-hamba Tuhan karena sesungguhnya mereka menghakimi hanya berdasarkan apa yang mereka lihat. Sementara Tuhan mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati hamba-hamba-Nya. Lagi pula tidak sepatutnya mereka mengambil tempat Tuhan dalam menghakimi.
Ini menjadi pelajaran bagi kita dalam bersikap terhadap para hamba Tuhan. Ingatlah bahwa Tuan bagi para hamba Tuhan adalah Tuhan sendiri, bukan kita. Maka hanya Tuhan yang layak menerima pertanggungjawaban mereka. Karena itu jangan pernah memandang hamba Tuhan sebagai hamba kita, yang harus patuh pada kita dan memenuhi segala keinginan kita. Sebagai hamba Tuhan, mereka harus memprioritaskan dan melaksanakan apa yang Tuhan inginkan. Justru kita harus bersyukur atas hamba-hamba Tuhan yang setia mendorong umat untuk hidup melayani Tuhan agar kita menerima pujian juga pada hari kedatangan-Nya kelak.
23 April 2013

MEMBANGUN JEMAAT

Dewasa ini ada banyak parameter yang dipakai orang untuk melihat keberhasilan dalam membangun jemaat. Megachurch-jemaat yang berjumlah ribuan serta musik dan audio visual dalam ibadah adalah gambaran tentang jemaat yang berhasil.
Melalui perikop ini, Paulus ingin menegaskan mengenai apa yang seharusnya menjadi dasar utama dan satu-satunya dalam membangun jemaat (10-11). Ia sekaligus ingin menegaskan pengkontrasan antar apa yang dibanggakan oleh orang-orang Korintus tentang hikmat. Di sinilah terlihat konsistensi Paulus yang sejak awal, yang selalu menekankan pada salib Kristus dan Injil sebagai pusat pemberitaannya. Selanjutnya Paulus memberi penjelasan bahwa di atas dasar yang kokoh itu pembangunan harus berlanjut terus menerus.
Dasar saja belumlah cukup. Lalu persoalannya, bahan apa yang akan digunakan di atas dasar itu (13). Kualitas dari bahan yang digunakan dalam membangun jemaat suatu saat akan teruji, yaitu pada hari Tuhan itu semua. Di sinilah kita belajar tentang pentingnya membangun jemaat dengan firman Tuhan yang kokoh. Firman itulah yang akan menolong orang dalam menghadapi gempuran filosofi dunia yang mungkin harus dihadapi tiap hari.
Sebagai pemimpin jemaat, sebagaimana konteks dimana Paulus berbicara (18-20), penting untuk memperhatikan “bahan” apa yang kita pakai untuk membangun jemaat. Hikmat dunia dan termasuk berbagai apa yang ada di dalamnya adalah kebodohan di hadapan Allah. Alkitab sudah banyak memberikan teladan dan peringatan bahwa jika kita ikut-ikutan dengan dunia maka kita akan mengalami perpecahan dan kehancuran.
Apa yang disampaikan Paulus biarlah mengingatkan kita bahwa zaman boleh saja berubah, tetapi metode dan cara dalam menyampaikan kebenaran bisa saja diakomodir. Hanya saja, perlu kita camkan baik-baik bahwa isi berita yang kita sampaikan jangan pernah bergeser. Kiranya hanya salib Kristus dan firman-Nya saja yang menjadi dasar dan bahan dalam membangun jemaat dan kehidupan kita secara pribadi.
22 April 2013

MANUSIA DUNIAWI

Cara kita merespons sesuatu hal, sedikit banyak mengindikasikan siapa kita. Melalui sikap jemaat Korintus, Paulus dapat melihat siapa mereka sesungguhnya.
Dari cara jemaat Korintus bersikap, Paulus menegaskan bahwa mereka adalah manusia duniawi (3), karena mereka hidup dalam kedagingan. Ciri paling kuat yang ditunjukkan yaitu adanya iri hati dan perselisihan di antara mereka. Mereka hidup berdasarkan pengelompokan-pengelompokan. Relasi yang semacam itu di antara mereka mengekspresikan relasi mereka yang sesungguhnya dengan Tuhan. Relasi seperti ini tidak bisa dimanipulasi. Itulah sebabnya Paulus sangat marah kepada mereka karena mereka seperti kanak-kanak yang masih membutuhkan susu.
Selanjutnya Paulus menunjukkan kebodohan mereka yang amat mendasar. Paulus memberikan fakta yang sebenarnya bahwa baik Paulus maupun Apolos hanyalah alat yang dipakai oleh Tuhan untuk melayani Dia. Baik yang menanam maupun yang menyiram memiliki posisi yang sama di hadapan Allah. Pertumbuhan hanya berasal dari pihak Allah. Tanpa Allah, maka usaha menanam maupun menyiram tidak ada gunanya. Paulus dan Apolos hanyalah alat yang dipakai Allah secara bersama-sama untuk membawa jiwa kepada Dia. Jadi jika para “pemimpin” mereka hanyalah instrumen seharusnyalah mereka saling menghargai satu dengan yang lain serta saling bekerja sama. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Semuanya dipakai Tuhan untuk membawa orang kepada Kristus.
Tanpa sadar sering kali apa yang dialami oleh jemaat Korintus kita alami juga. Kita terkotak-kotak karena iri hati melihat orang lain atau jemaat lain atau pemimpin di jemaat lain lebih berhasil atau dipakai Tuhan. Pemahaman bahwa kita hanyalah alat di tangan Tuhan seharusnya membawa kita mensyukuri setiap orang yang dipakai Tuhan. Kiranya bukan iri hati yang muncul melainkan keinginan untuk mendukung orang-orang itu dalam doa kita karena suatu kerinduan, yaitu agar Yesus Kristus, Tuhan kita, dimuliakan melalui mereka.
21 April 2013

KEBESARAN TUHAN

Mazmur 104, seperti Mazmur 103 mulai dengan ajakan pemazmur kepada jiwanya sendiri untuk memuji Tuhan. Alasan memuji Tuhan diarahkan pada kebesaran Tuhan dan kuasa-Nya atas alam semesta milik-Nya. Hal ini yang membedakannya dari Mazmur 103 yang fokus pada karya dan kasih setia Allah.
Yang pertama (ayat 1-9), Tuhan itu Mahabesar, Dia Pencipta alam semesta. Di ayat 1-4, Allah digambarkan sebagai Raja dengan segala keperkasaan dan kuasa-Nya yang mengendalikan segala ciptaan-Nya yang di atas.Dialah Raja dengan segala kemegahan-Nya. Pakaian kebesaran-Nya adalah terang.Langit, atap istana-Nya, dan kamar-kamarnya pada air yang di atas cakrawala. Kendaraan perang-Nya adalah awan dengan angin dan api sebagai alat perang-Nya.
Sedangkan di ayat 5-9, segala ciptaan-Nya yang di bawah menjadi tumpuan kaki-Nya. Bagian ini fokus kepada Allah yang mengendalikan samudera dengan segala airnya. Bagi dunia purba, air yang bergolak merupakan kenyataan yang menakutkan bahkan gambaran kuasa jahat yang mengacau. Namun, di mata Sang Pencipta, tidak ada kuasa yang tidak berada di bawah kendali-Nya. Dia yang menciptakan segala sesuatu, berdaulat dan berkuasa atas segala ciptaan-Nya.
Segala sesuatu yang ada di atas di langit maupun yang ada di bawah, di bumi takluk kepada Sang Pencipta. Siapakah manusia yang menyombongkan dirinya di hadapan Sang Khalik? Dengan kemajuan teknologi masa kini, kedahsyatan alam tetap merupakan momok bagi manusia. Lalu bagaimana bisa dibandingkan dengan Allah yang Maha dahsyat, yang menciptakannya? Oleh karena itu, sembahlah Allah dan tunduklah pada kedaulatan-Nya.Sesuai dengan mandat Ilahi, kelolalah alam dengan bertanggung jawab demi hormat dan kemuliaan-Nya.
20 April 2013

HIKMAT SEJATI

Hikmat manusia mungkin saja terdengar indah, tetapi belum tentu hikmat itu akan mengarahkan orang pada Kristus dan karya salib-Nya. Itu sebabnya Paulus, dalam nas sebelumnya, mengritik kesukaan jemaat Korintus akan hikmat yang diajarkan manusia.
Meski demikian, bukan berarti berita Injil yang disampaikan oleh Paulus tidak mengandung hikmat sama sekali. Namun hikmat itu tersembunyi dan bersifat rahasia, tetapi terbuka bagi mereka yang sudah matang (6). Matang di sini bermakna sama dengan dewasa (bdk. 1Kor. 14:20; Ef. 4:13; Flp. 3:15). Orang yang dewasa adalah orang yang tahu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Kita tahu bahwa anak kecil akan memasukkan apa saja ke dalam mulutnya, tanpa mau tahu apakah itu berbahaya atau tidak. Jadi orang yang matang yang dimaksudkan Paulus adalah orang yang tahu membedakan manakah hikmat yang dari Allah dan mana yang bukan.
Lalu mengapa penguasa dunia gagal mengenali hikmat mulia itu (8)? Karena hikmat itu datang secara tersembunyi, tetapi dinyatakan melalui Injil Kristus sebagaimana yang diberitakan Paulus. Hikmat itu adalah sebuah rahasia suci, yang tidak dapat diketahui hanya dengan hikmat manusia, melainkan hanya melalui penyataan Allah. Itu sebabnya, hanya Roh Kudus yang dapat menyampaikan hal ini kepada manusia.
Oleh karena manusia duniawi tidak menginginkan segala sesuatu yang berasal dari Allah, karena dianggap sebagai suatu kebodohan, maka manusia tidak dapat memahami segala sesuatu yang dari Allah. Percuma saja mengharapkan manusia duniawi dapat memahami dan menghargai hal-hal yang bersifat rohani.
Namun sayangnya, masih ada orang-orang Kristen yang berpikir seperti manusia duniawi. Orang-orang semacam ini menolak hal-hal yang bersifat rohani dan hidup hanya dalam perspektif kekinian. Mereka tidak mau direpotkan dengan memandang hidup dari perspektif hikmat Allah. Kiranya kita menjadi orang Kristen yang hidup berlandaskan hikmat Allah karena Firman yang hidup itu telah menghidupkan kita.
19 April 2013

HIKMAT ALLAH vs HIKMAT DUNIA

Motivator tampaknya menjadi figur yang cukup digemari masyarakat dalam beberapa tahun belakangan ini. Kata-kata para motivator seolah menjadi sabda yang wajib didengar, sehingga tak heran bila beberapa stasiun radio dan televisi kemudian memiliki program khusus bagi mereka. Mungkin perlu diselidiki, apakah orang Kristen lebih menggemari kata-kata motivator dibanding mendengar firman Tuhan.
Lalu bagaimana sikap orang dalam mendengarkan berita Injil? Paulus mengatakan bahwa pemberitaan Injil yang dia lakukan menghasilkan dua efek yang berlawanan. Pertama, Injil merupakan kekuatan Allah bagi orang yang diselamatkan; kedua, Injil dianggap sebagai kebodohan oleh orang-orang yang akan binasa (18). Sekarang coba pikirkan, kalau orang menganggap Injil sebagai kebodohan, bukankah itu berarti bahwa mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai orang berhikmat? Namun menurut Paulus, yang mengutip Yesaya 29:14, hikmat manusia tidak ada artinya di hadapan Allah (19). Hikmat dan kebijaksanaan manusia tak akan memampukan orang untuk mengenal Kristus, juga tidak akan mampu membebaskan mereka dari dosa-dosa mereka. Hanya “kebodohan” untuk percaya pada Injil Kristuslah yang akan memampukan orang untuk memiliki pengenalan akan Kristus hingga dosa-dosanya diampuni. Dan jika ada orang-orang yang meminta tanda sebagai pembuktian kemahakuasaan Kristus, maka saliblah yang menjadi tandanya. Meskipun salib bisa saja dianggap sebagai tanda kutuk atau hukuman, yang memperlihatkan ketidakmampuan Kristus membebaskan diri dari salib.
Demikianlah pemaparan Paulus kepada jemaat Korintus mengenai superioritas Injil di atas segala hikmat. Lalu apa pendapat Anda sendiri mengenai Injil dan bagaimana sikap Anda? Kiranya kita menghargai Injil melebihi segala hikmat dan kata-kata bijak yang disampaikan oleh para motivator yang menjadi tenar sekarang ini. Janganlah kiranya kesukaan akan buku-buku motivasi dan inspirasi mengalahkan ketersediaan waktu kita untuk merenungkan firman Tuhan.
18 April 2013

PENGKULTUSAN=SUMBER PERPECAHAN

Salah satu penyebab perpecahan dalam jemaat Korintus adalah klaim-klaim golongan. Klaim itu didasarkan pada penghormatan jemaat yang terlalu berlebihan terhadap pemimpin mereka. Akibatnya mereka jadi tidak menghargai pemimpin yang lain. Di sisi lain, pemujaan berlebihan terhadap pemimpin secara tidak langsung bisa saja merupakan manifestasi dari pemujaan diri, sebagai pengikut sang pemimpin.
Paulus menasihati mereka dalam suasana kekeluargaan. Ini terlihat dari sapaan “saudara-saudara” yang muncul sebanyak dua puluh satu kali. Paulus seolah ingin menegaskan bahwa di tengah ancaman perpecahan, persaudaraan di dalam Kristus tidak dapat dibatalkan. Oleh alasan itu pula, Paulus mengingatkan mereka untuk sehati sepikir di dalam Kristus. Terjemahan yang lebih tepat sebenarnya adalah “milikilah gaya hidup Kristus secara terus menerus”. Hanya dengan gaya hidup Kristuslah maka di dalam perbedaan pun, persatuan dapat dimiliki oleh orang percaya. Cara Paulus menasihati jemaat Korintus pun sangat objektif. Ini terlihat dari penggunaan frasa “demi Kristus”. Terlihat bahwa Paulus tidak memihak salah satu kelompok.
Nasihat kedua adalah supaya jangan ada perpecahan di antara mereka. Jelas perpecahan bukanlah ciri anak-anak Tuhan. Dan yang ketiga, Paulus menasihati mereka supaya erat bersatu dan sehati sepikir. Sehati sepikir merujuk pada kedewasaan berpikir.
Selanjutnya Paulus masuk ke dalam persoalan yang dihadapi jemaat Korintus dalam bagian ini (12-14), yaitu perselisihan mengenai para pemimpin. Ini dapat kita lihat dari perkataan “aku dari golongan...”. Mereka melibatkan nama pemimpin mereka padahal sang pemimpin tidak terlibat dalam perselisihan itu. Cara berpikir seperti ini jelas tidak dewasa dan akan membawa perpecahan.
Maka janganlah berlebihan dalam mengapresiasi pemimpin jemaat. Pengkultusan pemimpin, walaupun pemimpin rohani/ jemaat, bisa saja mengarah pada persaingan yang tidak sehat dan dapat berujung pada perpecahan. Kiranya kita mewaspadai hal ini sehingga hanya memuliakan Kristus, Pemimpin jemaat yang sejati.
17 April 2013

FOKUS PADA KRISTUS

Ketika terjadi masalah di sebuah jemaat, biasanya anggota jemaat maupun sesama Kristen akan lebih mudah mengeluh atau mengritik. Sedikit sekali orang yang mau ikut serta sumbang saran dan terlibat dalam upaya perbaikan.
Paulus menulis suratnya yang pertama kepada jemaat Korintus dalam rangka menanggapi permasalahan yang muncul di dalam jemaat itu. Di bagian awal suratnya, Paulus menyatakan bahwa para pembaca suratnya, yaitu jemaat Korintus, adalah orang-orang kudus (2). Karena itu Paulus mengucap syukur karena ia tahu bahwa Allah telah melimpahi mereka dengan berbagai anugerah (4-6), yang telah membuat mereka menjadi kaya dalam berbagai perkataan dan pengetahuan. Ini terlihat dari karunia-karunia rohani yang telah mereka terima di dalam Kristus, yang merupakan peneguhan kebenaran Injil. Memang pemberian karunia merupakan salah satu cara Allah menyatakan kebenaran Injil pada zaman gereja mula-mula. Karunia-karunia tersebut merupakan pendahuluan dari kegenapan yang akan mereka alami saat kedatangan Kristus yang kedua kali kelak.
Ya, meskipun ada masalah yang sedang dihadapi jemaat Korintus, Paulus menyatakan keyakinannya bahwa Allah akan meneguhkan mereka sehingga mereka tak bercacat pada hari Tuhan kelak (8).
Penekanan pada nama Tuhan Yesus Kristus, yang telah memanggil, menguduskan, serta menganugerahi jemaat Korintus dengan berbagai karunia memperlihatkan keyakinan Paulus untuk melihat permasalahan yang dihadapi jemaat Korintus dari sudut pandang Kristus. Sehingga titik awal Paulus dalam memandang masalah yang dihadapi jemaat Korintus tersebut adalah ucapan syukur kepada Allah.
Surat Paulus ini kiranya menolong kita ketika berhadapan dengan masalah-masalah di dalam jemaat. Ingat, jangan letakkan fokus perhatian kita pada masalah yang menghadang kehidupan dan kemajuan jemaat, melainkan pada Kristus, yang berkuasa memanggil dan menguduskan, serta menganugerahi jemaat dengan berbagai karunia bagi kemuliaan nama-Nya.
16 April 2013

MISI SEPERTI APA?

Bagian ini merupakan penutup dari surat Paulus kepada jemaat di Roma, tetapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Pada bagian penutup suratnya, Paulus menuliskan doksologi (puji-pujian kepada Tuhan), bukan doa berkat seperti yang biasa ia tuliskan pada surat-surat kiriman yang lain (1Kor. 13:13; Gal. 6:18).
Doksologi yang terdapat pada ayat 25-27 terkesan merupakan pengulangan dari ayat 20. Tampaknya ayat 20 merupakan akhir dari surat kiriman ini, tetapi kemudian Paulus teringat untuk menyampaikan salam dari rekan-rekan sekerjanya untuk jemaat di Roma. Setelah rangkaian salam yang terakhir (21-23) barulah Paulus menuliskan doksologi.
Kalimat puji-pujian yang mengakhiri surat kiriman Paulus kepada jemaat di Roma mengungkapkan pemahaman Paulus akan penyertaan Allah dalam pekabaran Injil yang telah dilakukan di Roma. Paulus sadar bahwa apa yang terjadi di Roma bukan karena kehebatan dan kuasa pekabar Injil yang telah bekerja sedemikian keras, melainkan karena campur tangan Allah belaka. Semua itu karena anugerah Allah, dan yang pasti karena Allah mengasihi umatnya, secara khusus umat Allah yang berdiam di Roma.
Ada tiga hal yang Paulus sampaikan melalui doksologi ini.
Pertama, Injil yang berarti “kabar baik” merupakan penyingkapan dari suatu rahasia yang telah tersembunyi berabad-abad lamanya, yaitu rahasia tentang karya keselamatan Allah bagi umat manusia. Kedua, Paulus menyadari bahwa pekabaran Injil adalah perintah Allah sendiri. Maka seluruh pemberitaan Injil harus bermuara pada kemuliaan Tuhan, Allah yang memberi perintah. Dialah satu-satunya Allah dan tidak ada seorang pun yang pantas mencuri kemuliaan-Nya. Ketiga, jangkauan pemberitaan Injil haruslah meliputi ”segala bangsa.” Harus diakui bahwa belum semua gereja mempunyai visi ini. Karena itu kita perlu berdoa agar gereja-gereja memiliki beban ini dan giat bermisi “sampai ke ujung bumi”, menjangkau jiwa-jiwa sampai ke pelosok-pelosok, kepada semua suku di segala tempat.
15 April 2013

WASPADA!

Paulus, pada bagian akhir suratnya, mengingatkan jemaat di Roma agar waspada terhadap guru-guru palsu. Guru-guru palsu adalah orang-orang yang mengajarkan pokok-pokok yang bertentangan dengan Injil.
Guru-guru palsu setara dengan nabi-nabi palsu yang ada pada zaman Perjanjian Lama (lihat Yer. 23:16-40, 28:1-17). Mereka memutarbalikkan ajaran Kristus dan rasul-rasul-Nya. Mereka meremehkan kematian dan kebangkitan Yesus. Ada yang menyatakan bahwa Yesus bukanlah Allah, sementara yang lain mengklaim bahwa Yesus bukan manusia sejati. Bahkan guru-guru palsu memperbolehkan pengikut mereka untuk melakukan segala macam perbuatan, sekalipun yang tidak bermoral. Oleh karena itu, guru-guru palsu harus diwaspadai (17)!
Pada waktu surat ini ditulis, Paulus belum menginjakkan kakinya di Roma untuk bertemu dengan jemaat ini. Jemaat ini memang bukan hasil penginjilan Paulus. Tradisi mengatakan bahwa jemaat Roma merupakan hasil penginjilan yang dilakukan Petrus. Meski demikian, Paulus mengingatkan mereka akan bahaya guru-guru palsu itu. Sebab itu jemaat harus membandingkan pengajaran guru-guru palsu dengan pengajaran para rasul.
Selain itu, Paulus meminta jemaat untuk menghindari guru-guru palsu karena mereka tidak melayani Kristus, tetapi melayani perut mereka sendiri. Kata-kata mereka muluk-muluk dan bahasa mereka manis-manis, tetapi sesungguhnya tipuan belaka. Merekalah yang menyebabkan jemaat pecah dan kacau sehingga Paulus harus bersusah payah untuk mengoreksi dan membimbing kembali jemaat-jemaat tersebut, misalnya jemaat di Korintus.
Guru-guru palsu selalu ada dari masa ke masa, datang silih berganti, menawarkan pengajaran yang menarik telinga dan hati kita. Bahkan kadang-kadang dengan iming-iming tertentu untuk menarik kita menjadi pengikut. Peringatan Paulus agar umat Tuhan waspada dan menghindari mereka, harus kita dengar! Kalau Anda ragu apakah suatu ajaran itu palsu atau bukan, bandingkan dengan Alkitab. Kalau masih belum yakin benar, tanyakan pendeta Anda.
14 April 2013

KASIH SETIA TUHAN

Mazmur 103 sangat terkenal. Kita biasa mengutip ayat-ayatnya untuk dijadikan pujian kepada Allah. Dasar pujiannya adalah kasih setia Allah (4, 8, 11, 17) terhadap umat-Nya.
Di ayat 1-5, pemazmur mengajak jiwanya sendiri untuk memuji Tuhan (1, 2; juga 22).Hal ini cukup biasa di dalam mazmur (bdk. Mzm. 57:9; 104:35; 108:2; 146:1). Ada lima perbuatan baik Tuhan sebagai alasan memuji-Nya: mengampuni, menyembuhkan, menebus, memahkotai, dan memuaskan. Mengampuni dan menyembuhkan disejajarkan. Di PL sakit kerap dikaitkan dengan dosa, kesembuhan dengan pengampunan.Pemazmur memuji Tuhan karena kasih setia-Nya terbukti dan teruji. Dosa diampuni, sakit disembuhkan, hari-harinya menjadi bersemangat seperti rajawali (bdk. Yes. 40:31).
Bagian kedua memaparkan karya kasih setia Tuhan yang dialami umat-Nya (6-19). Umat Israel telah mengalami banyak kesabaran dan kesetiaan-Nya walau mereka sering memberontak. Adalah sesuai dengan sifat Allah sendiri, manusia mendapatkan berulang kali pengampunan, kesempatan kedua, dst. Dia adalah Bapa bagi anak-anak-Nya. Bapak mana yang membuang anaknya sendiri? Dia tahu manusia fana. Kasih setia-Nya yang kekal melampaui dan menutupi kefanaan manusia.
Bagian terakhir (20-22) kembali mengajak kita memuji Tuhan. Ajakan ini diluaskan kepada para malaikat yaitu pahlawan pelaksana firman, kepada para tentara atau pejabat. Mereka mungkin menunjuk kepada semua orang yang dipanggil untuk menjalankan fungsi pewartaan firman. Mazmur ini ditutup dengan ajakan untuk semua ciptaan Tuhan, dan kembali pada ajakan untuk diri sendiri. Mulailah memuji Tuhan dari dirimu sendiri dengan tulus dan penuh semangat, maka Anda akan menggerakkan orang lain, bahkan seluruh ciptaan untuk memuji-muji sang Khalik!
13 April 2013

ORIENTASI PELAYANAN

Pada bagian terakhir dari suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus memberi salam paling tidak kepada dua puluh enam orang yang menetap di Roma (3-15). Ia menutup suratnya dengan salam dari sembilan orang percaya yang bersama dengannya di Korintus ketika ia menulis surat itu (21-23). Mereka yang mendapat salam dan ikut memberi salam adalah orang Romawi dan Yunani, Yahudi dan nonYahudi, laki-laki dan perempuan, tahanan dan warga terkemuka.
Pelayanan yang baik adalah pelayanan yang dimulai dan bermuara pada orang, karena memang sasaran atau esensi pelayanan kita adalah orang. Kita perlu ingat bahwa orientasi pelayanan kita bukanlah pada program-program yang kita buat. Bila kita berorientasi pada program maka kita akan merasa berhasil dan puas bila program yang kita canangkan bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan standar keberhasilan yang telah ditentukan. Namun bila pelayanan kita berorientasi pada orang maka selesainya program bukan berarti selesainya kerja, dan keberhasilan pelaksanaan program pada saat itu tidak lantas membuat kita merasa puas. Pelayanan yang berorientasi pada orang akan membuat kita terus bergumul hingga orang-orang yang dilayani memperlihatkan kerinduan untuk mengalami pertemuan dengan Tuhan, untuk menerima Kristus sebagai Juruselamatnya pribadi, atau untuk bertumbuh di dalam firman dan doa hingga dari hari ke sehari makin menuju keserupaan dengan Kristus. Dan orientasi yang semacam ini tidak dapat terwujud hanya dengan program yang dilakukan satu kali saja. Perlu program yang berkesinambungan, perlu dukungan doa dari jemaat, perlu tim kerja yang melayani dengan sepenuh hati. Lihatlah Paulus, ia bukan seorang single fighter atau one man show (orang yang lebih suka bekerja sendiri). Paulus adalah seorang team player (seorang yang senang bekerja dalam tim).
Maka bukalah kesempatan kepada sebanyak mungkin orang untuk terlibat dalam berbagai program pelayanan karena kerja dalam tim memungkinkan banyak juga orang yang dapat kita layani.
12 April 2013

BUKAN HANYA DI BIBIR

Paulus memberi informasi kepada jemaat di Roma bahwa ia dan rekan-rekannya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem (25). Mereka sedang melakukan misi khusus yaitu mengantarkan bantuan dari jemaat nonYahudi di Yunani kepada orang-orang percaya Yahudi yang menderita di Yerusalem (26).
Kata “bantuan” yang digunakan Paulus dalam suratnya ini menginformasikan bahwa persembahan yang dia antar mempunyai nilai yang cukup besar. 2 Korintus 8-9 mencatat secara lengkap rincian tentang persembahan ini. Melalui informasi ini, Paulus memotivasi jemaat Roma untuk turut serta meringankan kesulitan saudara-saudara seiman mereka di Yerusalem.
Melalui persembahan ini Paulus mengingatkan orang-orang percaya nonYahudi bahwa keselamatan yang mereka miliki datangnya dari bangsa Israel. Itu sebabnya mereka memiliki kewajiban moral untuk membantu orang-orang percaya Yahudi yang mengalami penganiayaan karena iman mereka di dalam Kristus. Orang yang kaya didorong untuk membantu orang yang berkekurangan, orang yang kuat haruslah membantu orang yang lemah.
Meskipun berbeda bangsa, orang-orang nonYahudi itu mau menyatakan kasihnya kepada saudara-saudara mereka yang Yahudi. Sebagai saudara seiman, mereka memiliki kerinduan untuk bersama-sama menanggung beban yang saat itu diderita saudara seiman mereka yang berbangsa Yahudi. Dukungan kasih yang dinyatakan melalui pengiriman bantuan ini memperlihatkan kesatuan dan ikatan di antara saudara seiman. Citra Kristus juga nyata di dalamnya.
Hari ini kita diingatkan bahwa di antara saudara seiman memang harus terdapat kasih. Namun, kasih itu jangan hanya di bibir saja melainkan harus juga dinyatakan melalui tindakan praktis dan nyata. Misalnya dengan menyatakan keprihatinan, mendampingi, menolong, atau memberikan dukungan. Dukungan sekecil apa pun mempunyai nilai yang besar bagi mereka yang dibantu. Kepedulian kita setidaknya menunjukkan bahwa kasih di antara saudara-saudara seiman ada dan sungguh nyata.
11 April 2013

FOKUS DAN FOKUS

Dari Yerusalem sampai ke Ilirikum, Injil Kristus (19) telah diberitakan oleh Rasul Paulus. Pemberitaan ini merupakan hasil pemahaman Paulus akan esensinya sebagai rasul bahwa Tuhan memberinya kasih karunia untuk menjadi pelayan Kristus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ia mengemban tugas imam dalam mewartakan Injil Allah supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, serta yang disucikan oleh Roh Kudus (15-16). Itu sebabnya Paulus tidak melakukan penginjilan ke Roma, karena sudah ada Petrus di sana.
Paulus tidak mau membangun di atas dasar yang telah didirikan oleh orang lain (20). Ini bukan karena menghindari persaingan, melainkan agar daerah-daerah lain yang belum tersentuh oleh Injil dapat dijangkau juga. Paulus memang fokus pada panggilan untuk menjangkau bangsa-bangsa bukan Yahudi. Kesadaran akan panggilan itulah yang membuat Paulus memusatkan pikiran, usaha, dan kekuatannya untuk memenuhi panggilan yang telah dia terima.
Sejarah mencatat bahwa banyak gereja yang berhasil didirikan oleh Paulus, serta banyak jiwa yang dia menangkan. Jemaat Korintus, Efesus, Galatia, Filipi, Kolose, dan Tesalonika merupakan jemaat-jemaat hasil penginjilan Paulus. Tidak sedikit pula orang yang bertobat oleh pelayanannya, lalu menjadi murid dan kemudian meneruskan pelayanannya. Misalnya Timotius dan Titus.


Dimulai dari Yerusalem, Paulus memulai penginjilannya dengan berkeliling ke Asia Kecil, Makedonia, Yunani, dan bahkan ke Ilirikum. Wilayah yang Paulus kunjungi mempunyai rentang jarak sejauh 1.400 mil. Paulus juga memberdayakan para pemimpin gereja lokal untuk menginjili ke wilayah-wilayah sekitar.
Fokus, fokus, dan fokus. Tanpa mengecilkan arti penyertaan Roh Kudus, fokus merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam menjalankan panggilan Tuhan. Tidak ada pekerjaan, sekecil apa pun, yang bisa terselesaikan bila kita tidak fokus untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
10 April 2013

KUAT DAN LEMAH

Paulus meminta kita untuk meneladani Yesus dalam hal lebih memperhatikan sesama dibandingkan memperhatikan diri sendiri (3). Permintaan Paulus ini berkenaan dengan kewajiban kita sebagai orang yang dianggap kuat (1). Kita diminta untuk menanggung kelemahan orang yang lemah dengan cara memperhatikan mereka dan mendukung mereka agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Kita yang kuat diharuskan untuk memperhatikan dan menerima mereka yang lemah agar iman mereka dibangun.
Paulus menggunakan istilah “kuat” dan “lemah” untuk menggambarkan keadaan rohani orang percaya. Istilah “kuat” menunjuk pada iman orang yang telah dewasa dalam Kristus sehingga peka terhadap masalah orang lain. Orang yang “kuat” adalah orang yang memahami kebebasan rohani mereka di dalam Kristus dan tidak mau lagi diperbudak aturan hukum Taurat. Mereka yang kuat adalah mereka yang peka pada hati nurani yang telah diterangi oleh firman Allah, lebih dari ketaatan mereka akan ritual dan tradisi hukum Taurat.
Istilah “lemah” mengacu pada orang percaya yang imannya belum dewasa, yaitu yang masih percaya pada ritual dan tradisi hukum Taurat. Mereka merasa berkewajiban untuk mematuhi aturan dan tradisi hukum Taurat tentang apa yang boleh mereka makan dan minum dan kapan mereka harus beribadah. Mereka yang lemah iman berkeyakinan bahwa orang Kristen yang dewasa rohani menghidupi kekristenannya dengan cara mengikuti aturan ketat dan seringkali menghakimi sesama yang tidak sejalan dengan pandangan mereka.
Nasihat ini mengingatkan kita yang merasa kuat iman agar peka terhadap pergumulan saudara seiman kita yang lemah. Kita harus membantu mereka, misalnya dengan cara mendampingi atau mendoakan ketika mereka jatuh atau dalam pencobaan. Hendaknya kita menjadi panutan, bukan celaan bagi mereka yang lemah! Tentu kita berkerinduan agar orang yang lemah iman suatu saat menjadi kuat juga. Maka marilah kita belajar peka serta memberi perhatian dan dukungan kepada saudara-saudara seiman kita.
9 April 2013

JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN

Menjadi batu sandungan jelas merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang percaya. Mengapa? Karena akan menghalangi orang untuk datang kepada Kristus.
Dalam perikop sebelumnya Paulus mengingatkan pihak yang “kuat” dan yang “lemah” dalam jemaat untuk saling menerima dan tidak saling menghakimi. Kini Paulus memberikan satu prinsip, khususnya bagi pihak yang “kuat” agar tidak menjadi batu sandungan bagi pihak yang “lemah” (13, 21). Dalam hal makanan, Paulus menegaskan bahwa tidak ada yang najis (14, 20), maka pihak yang “kuat” tidak perlu lagi merasa terikat oleh hukum tentang makanan haram. Namun bisa saja kebebasan memakan segala sesuatu menjadi batu sandungan bagi jemaat yang masih mengharamkan makanan tertentu. Maka Paulus mengingatkan bahwa kebebasan untuk melakukan segala sesuatu kiranya tidak menyebabnya lemahnya iman saudara yang lain (15). Jika ini yang terjadi maka berarti pekerjaan Allah telah dirusak (20).

Kebebasan harus dipraktikkan dalam kasih kepada sesama orang percaya (15). Kebebasan harus ditundukkan pada prinsip damai sejahtera dan tujuan untuk saling membangun (19).
Pemakaian kebebasan yang menjadi batu sandungan mengingkari esensi Kerajaan Allah, yaitu kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (17). Kristus sudah membayar harga yang begitu mahal, yaitu dengan mati bagi mereka yang “lemah” iman (15). Bagaimana mungkin pihak yang “kuat” tidak rela mengalah kepada yang “lemah” dalam hal-hal yang remeh supaya tidak menjadi batu sandungan?
Banyak hal yang orang Kristen boleh lakukan, tetapi bukan berarti semuanya perlu dilakukan, khususnya yang dapat menjadi batu sandungan bagi yang lemah iman. Prinsip kasih dan saling membangun harus mengendalikan kebebasan kita dalam melakukan segala sesuatu. Apa artinya kita menang perdebatan tentang boleh makan semua makanan, tetapi kehilangan orang yang tidak setuju dengan hal itu? Kiranya hal ini menjadi pertimbangan kita.
8 April 2013

JANGAN SALING MENGHAKIMI

Salah satu strategi ampuh yang Iblis pakai untuk merusak gereja adalah dengan menyebabkan perpecahan dalam tubuh Kristus. Perpecahan terjadi dalam jemaat Roma karena adanya pihak yang “kuat” (15:1) dan yang “lemah” (14:1; 15:1). Pihak yang “kuat” adalah mayoritas, yaitu orang-orang Kristen nonYahudi yang merasa bebas dari hukum Musa, sedangkan pihak yang “lemah” adalah orang-orang Kristen Yahudi yang masih terikat tradisi sesuai hukum Musa (2, 5). Pihak yang “kuat” seringkali menghakimi pihak yang “lemah” dalam hal praktik-praktik tentang makanan dan hari-hari khusus.
Paulus menasihati agar kedua pihak itu saling menerima meskipun terdapat perbedaan (1). Menerima bukan sekadar mengakui keberadaan pihak lain, melainkan memperlakukannya sebagai saudara. Inilah ciri khas umat Allah. Namun ini sulit terjadi jika pihak yang “kuat” memaksakan kehendak kepada pihak yang “lemah.”


Alasan penting mengapa anggota tubuh Kristus harus saling menerima satu sama lain, adalah karena “Allah telah menerima orang itu” (3; 15:7). Maka siapakah kita sehingga merasa berhak menolak dan menghakimi orang yang telah diterima Allah? Karya Kristus yang telah memperdamaikan manusia dengan Allah janganlah dinodai dengan penolakan anggota tubuh Kristus satu sama lain. Kristus telah mati dan membuktikan diri-Nya sebagai Tuhan (9). Sebagai Tuhan, Dia berhak menghakimi dan kepada-Nya setiap orang akan memberi pertanggungjawaban (10-12).
Dalam perspektif pengadilan Allah, tidak ada seorang pun yang lebih berhak untuk menghakimi orang lain.
Seringkali masalah-masalah remeh dalam gereja menjadi penyebab perpecahan. Ada kelompok yang merasa lebih benar dibanding yang lain, ada yang merasa berkarya lebih banyak. Paulus mengingatkan bahwa dalam hal-hal yang tidak hakiki, yang paling penting bukan masalah siapa yang benar atau salah, melainkan bagaimana agar anggota tubuh Kristus dapat hidup sebagai sesama saudara yang telah menerima karya Kristus dan yang akan bersama-sama menghadapi pengadilan Kristus.
7 April 2013

KELUHAN DAN PENGHARAPAN

Mazmur keluhan biasanya tidak melulu berisi keluhan. Ada waktunya di saat meratap, pemazmur menguatkan hati, dan bersyukur, menyatakan keyakinan dan pengharapannya bahwa Tuhan peduli kepadanya.
Dinamika mazmur ini kuat sekali. Pemazmur mulai dengan keluhan karena penderitaan yang berat, yang dirasakannya sebagai akibat kemarahan Tuhan atas dirinya (2-12). Dilanjutkan dengan keyakinan dan pengharapan bahwa Tuhan akan bangkit mengasihi Sion bahkan membangunnya kembali sebagai tempat nama-Nya disembah dan dimashyurkan (13-23). Lalu ia tenggelam kembali ke dalam rasa putus asa dan permohonannya tambah mendesak (24-25). Akhirnya pemazmur menutup keluhannya itu dengan pernyataan keyakinan bahwa Tuhan tidak berubah dalam kasih setia-Nya!

Pemazmur tidak menyebut penyebab penderitaan, apakah karena dosa, penyakit, atau tekanan musuh. Ia hanya tahu sedang menderita dan Tuhan membiarkannya menderita (11). Para musuhnya pun mengejek dan mencela dia (9).
Namun, pemazmur tidak sampai menghujat Tuhan. Ia membangun pengharapannya pada kasih setia Tuhan. Penyebutan Sion beberapa kali (14, 17, 22) mengindikasikan pemazmur bergumul mewakili umat Israel. Mereka menderita karena berdosa. Sekali lagi karena kasih setia Tuhan, Israel tetap memiliki pengharapan.Penghukuman Tuhan bukan untuk membinasakan mereka, melainkan untuk memurnikan dan memulihkan mereka.
Tidak salah bila kita introspeksi tatkala sedang menderita. Kalau hal itu disebabkan oleh dosa, kita harus segera bertobat! Seperti pemazmur, kita harus yakin bahwa Allah mengasihi kita. Tujuan Allah mengizinkan penderitaan melanda hidup kita adalah agar kita dekat kepada Dia, meminta pengampunan-Nya, lalu berharap lagi kepada kasih setia-Nya. Tuhan tidak berubah kasih dan setia-Nya.
6 April 2013

HIDUP BARU, REALITAS BARU

Hutang adalah kewajiban yang harus selalu dilunasi. Namun ada hutang yang akan terus ada, yaitu hutang mengasihi. Terjemahan harfiah dari ayat 8a adalah, “Janganlah kamu berhutang apa pun kepada siapa pun kecuali (berhutang) untuk mengasihi satu sama lain.” Kuasa Injil memang mencondongkan orientasi hidup kita untuk mengasihi sesama, dan kasih adalah kegenapan dari hukum Taurat (8-10).
Dalam Roma 6:14-15, Paulus berkata bahwa orang percaya tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat. Ini tidak berarti bahwa kita bebas dari segala hukum sehingga bisa melakukan apa pun semaunya. Injil tidak membuat kita mengabaikan hukum melainkan menggenapi seluruh tuntutan hukum, yang mustahil terjadi tanpa kuasa Injil. Ketaatan kepada tuntutan inti dari Injil, yaitu mengasihi sesama, merupakan penggenapan dari hukum Taurat (bdk. Mat. 22:36-40).

Mengapa kasih merupakan kegenapan dari hukum Taurat? Karena kasih tidak akan melakukan hal yang jahat terhadap sesama (10). Dan dalam relasi umat dengan sesamanya, hukum Taurat merupakan perintah untuk berbuat baik. Maka syukur kepada Allah di dalam Kristus, yang telah memampukan kita untuk mengasihi sesama.
Selanjutnya sekali lagi Paulus mengingatkan orang percaya untuk memiliki totalitas dalam cara hidup yang baru berhubung dengan realitas barunya di dalam Kristus (11-14). Kita sudah hidup dalam hidup yang baru di mana Kristus memerintah. Sudah saatnya kita “bangun dari tidur”, meninggalkan hidup lama. Realitas hidup baru menjadi alasan untuk menanggalkan semua cara hidup dalam hidup lama (12-13). Menanggalkan atribut hidup lama dikontraskan dengan mengenakan Kristus (14a), yaitu mengadopsi karakter dan nilai-nilai-Nya. Hanya dengan mengenakan Kristus, kita dapat menolak keinginan daging dari kehidupan yang lama (14b).
Di dalam Kristus kita telah hidup dalam realitas baru. Hidup kita pun harus berpadanan dengan nilai-nilai hidup baru ini, yaitu selalu mengasihi sesama dan menolak perbuatan-perbuatan yang memalukan.
5 April 2013

TAKLUK KEPADA PEMERINTAH

Pemerintah yang baik tentu disukai rakyat. Lalu bagaimana jika kita berada di bawah pemerintahan yang lalim?
Rasul Paulus mengingatkan bahwa bagaimana pun baik atau buruknya pemerintah, orang percaya tetap harus tunduk. Paulus sendiri menulis Surat Roma ini ketika Nero menjadi kaisar Romawi (54-68 M). Ia bersikap sangat kejam terhadap orang Kristen.
Apa alasan Paulus menyatakan demikian? Pertama, karena keberadaan semua pemerintah ada di dalam kedaulatan Allah (1). Jika pemerintah itu jahat maka Allah sendiri yang akan menumbangkan pada waktunya. Allah saja yang berhak menghakimi semua pemerintah, yang baik maupun jahat. Selain itu, waktu untuk jatuh bangunnya pemerintah bukanlah dari manusia, melainkan dari Allah. Maka enggan untuk takluk pada pemerintah berarti melawan ketetapan Allah (2).

Kedua, pemerintah diberikan oleh Allah untuk menjamin keteraturan dan kemakmuran rakyatnya (3-4). Itu berarti, pemerintah menjadi alat Allah untuk memastikan keadilan bagi rakyat. Betapa pun korupnya sebuah pemerintahan, tetap lebih baik daripada tidak ada pemerintah. Oleh sebab itu seharusnya kita terus berdoa agar Allah bekerja melalui pemerintah untuk mewujudkan keadilan dan kebenaran (bdk. 1Tim. 2:1-2). Kita juga wajib membayar pajak kepada pemerintah guna berjalannya operasional pemerintahan (6-7).
Perhatikan, Paulus memakai kata “takluk” dalam hal sikap terhadap pemerintah (1). Takluk di sini berarti mengakui otoritas yang memerintah. Kita takluk kepada pemerintah berarti mematuhi segala peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun bukan berarti harus taat jika pemerintah sampai memaksa kita untuk menyangkal iman kita kepada Kristus.
Bagaimana pun keberadaan pemerintah kita, kita harus mensyukurinya. Kita pun harus berdoa agar pemerintah peka terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi rakyat serta bertanggung jawab atasnya. Kita harus berdoa agar pemerintah terbeban untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
COME AND JOIN US.....!!
15 - 17 JUNE 2013
Buat kamu remaja dan pemuda usia 15-19 tahun, ayo ikuti Retret yang akan diadakan oleh Scripture Union Indonesia (PPA) pada tanggal 15-17 Juni 2013. Jangan sampai ketinggalan. Isi liburanmu dengan menambah teman baru dan semakin bertumbuh dalam iman.
Info lebih lanjut hub. Daniel (0813-83252387) atau Ima (0852-18236121) email : suindonesia_kemitraan@yahoo.com.au

Kamis, 4 April 2013

INJIL SEBAGAI DASAR KASIH

Perintah untuk mengasihi cenderung membuat kita merasa kurang nyaman karena menempatkan kita di pihak yang memberi, berkorban, merendah, dan mengalah. Namun kekristenan bukan semata-mata soal perintah mengasihi melainkan berinti pada berita Injil. Perintah tanpa inti berita Injil membuat kita menjadi legalis dan apa yang dilakukan menjadi kewajiban semata.
Dalam Roma 1-11 Paulus memaparkan berita Injil tentang apa yang telah Kristus lakukan bagi orang percaya.Lalu alam pasal 12-15 Paulus memaparkan respons orang percaya yang seharusnya. Perikop hari ini memaparkan hal-hal praktis dalam kehidupan orang percaya sebagai buah dari kuasa Injil yang mengubahkan. Sepintas terlihat bahwa perintah-perintah ini tidak mempunyai kaitan satu sama lain, tetapi sesungguhnya semua terikat dalam satu perintah utama, yaitu perintah kasih (9-10). Merupakan hal yang normal jika umat tebusan Kristus mengasihi karena Kristus sendiri telah menetapkan norma itu: "sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu salng mengasihi" (Yoh.13:34b-35). Berita Injil memang harus menjadi dasar dari perintah mengasihi.

Kasih itu tidak boleh pura-pura (9; arti harfiah: memakai topeng). Kasih yang tulus tampak dalam relasi orang percaya dengan sesamanya (10, 13-21). Kasih itu aktif dan penuh inisiatif, seperti mendahului memberi hormat, membantu orang yang kekurangan, memberkati, bersukacita an berdukacita bersama orang lain, berdamai, dan berbuat baik.
Kasih juga mempunyai dimensi vertikal. Kasih mendorong orang untuk rajin dan berkobar dalam melayani Tuhan (11), bersukacita dan bersabar dalam kesesakan karena ada pengharapan kepada Allah (12). Kasih mendorong kita untuk menghormati hak dan kedaulatan Allah (19).
Mari wujudkan kasih Kristus dalam relasi kita dengan Allah dan sesama karena kita telah menerima anugerah Injil yang begitu berharga.
Rabu, 3 April 2013

DIPERBARUI LALU MELAYANI

Gaya hidup seseorang harus berpadanan dengan statusnya. Demikian juga orang percaya, harus hidup berpadanan dengan status sebagai tebusan Kristus. Roma 12:1-15;13 berisi perintah-pernitah rasul Paulus tentang bagaimana orang percaya seharusnya hidup.
Bagian ini dimulai dengan kata Karena itu" (1), yang berarti semua yang dikupas Paulus dalam pasal-pasal sebelumnya menjadi alasan bagi orang percaya untuk melakukan perintah-perintah itu. Oleh karena orang percaya telah dibenarkan oleh Kristus dan diperdamaikan dengan Allah, serta dipersatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, maka orang percaya harus hidup dengan cara hidup yang baru.

Hidup yang baru itu diungkapkan dengan gambaran mempersembahkan diri di mezbah (1). Jika kurban dalam Perjanjian Lama adalah binatang yang mati, maka orang percaya dalam Perjanjian Baru mempersembahkan kurban yang hidup yaitu seantero kehidupan kita, yang dikhususkan (dikuduskan) untuk menyenangkan Allah. Caranya? Hidup seturut firman-Nya. Mata tidak lagi untuk melihat hal-hal yang tidak patut, lidah hanya untuk perkataan yang membangun, tingkah lakupun harus mencerminkan nilai-nilai Kerajaan allah.
Pembaruan hidup itu bukan hanya di permukaan, melainkan sampai kedalaman hati. Bukan hanya gaya hidup yang berbeda dengan orang dunia, melainkan secara hakiki orang yang telah diperbarui memang tidak sama lagi dengan dunia (2). Anugerah Kristus mendorong orang yang telah mengalami pembaruan untuk mencari dan melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Di dalam hidup yang baru itu, orang percaya menjadi rendah hati (3) dan berfungsi efektif dalam tubuh Kristus untuk melayani (4-8). Untuk itu Allah memberikan karunia-karunia untuk melayani dan membangun tubuh Kristus.
Selasa, 4 Desember 2012

INILAH MURKA TUHAN

Banyak orang mengatakan bahwa Tuhan Maha Pengampun hanya untuk membenarkan diri saat terus menerus melakukan dosa. Ini jelas suatu tindakan yang meremehkan Tuhan. Orang seperti ini mungkin baru akan sadar saat melihat Tuhan menyatakan hukuman-Nya.
Melalui Amos, Tuhan menyatakan murka-Nya. Israel yang selalu membanggakan ritual ibadah akan menerima hukuman justru dari pusat ibadah mereka yang seharusnya. Mereka yang melakukan dosa tetap saja datang beribadah di mezbah. Mezbah yang seharusnya berfungsi sebagai tempat menyembah dan mencari hadirat Tuhan, dinajiskan oleh motivasi jahat mereka. Maka Tuhan menyatakan penghukuman-Nya juga dari mezbah-Nya. Penghukuman Tuhan sesuai dengan karakter-Nya yang kudus dan adil.
Oleh kemahakuasaan dan kemahatahuan Tuhan, tidak seorang pun yang dapat meluputkan diri dari hukuman-Nya. Mereka yang lari tak dapat luput dari pedang Tuhan, kemana pun mereka pergi. Meski mereka menembus dunia orang mati, Tuhan akan mengejarnya. Jika ada yang bersembunyi hingga gunung Karmel, Tuhan pun akan mengambil mereka dari sana. Tuhan juga memakai ular untuk memagut mereka yang bersembunyi di dasar laut. Yang berjalan tertawan oleh musuh akan dihadang oleh pedang. Mata Tuhan terus mencari untuk menghukum. Dengan jarinya Ia akan menggoyangkan bumi sehingga gempa terjadi, maka manusia berkabung.
Dari hukuman Tuhan ini kita belajar bahwa sesungguhnya Tuhan Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha Hadir. Manusia tidak dapat mengetahui bagaimana Tuhan bekerja atau menyatakan murka-Nya. Namun, tak seorang pun dapat menghindari murka-Nya itu. Yang baik dan yang jahat mungkin akan mengalami perkabungan sebagai akibat murka Tuhan. Oleh karena itu, sebelum hukuman Tuhan dijatuhkan dan dilaksanakan, bertobatlah segera! Atau, kalau kita tahu teman-teman kita yang masih bermain-main dengan dosa, tugas kitalah menyampaikan suara kenabian Amos ini agar mereka bertobat dan menerima kasih karunia.
Senin, 3 Desember 2012

MELANGGAR FIRMAN VS HAUS FIRMAN

Siapa saja yang Tuhan peringatkan dalam penglihatan yang Amos terima? Dan apa saja dampak perbuatan mereka terhadap kehidupan bangsa Israel? Yang Tuhan peringatkan adalah mereka yang tidak berpihak kepada orang miskin (4) dan yang curang dalam perdagangan (5). Kehidupan yang mereka jalani telah menjerat orang miskin menjadi lebih miskin. Perbuatan jahat yang mereka lakukan adalah menggunakan neraca palsu, menjadikan orang miskin sebagai budak hanya gara-gara sandal, dll. Jelas sekali pikiran mereka sangat materialistik dan dualistik. Pada hari Sabat mereka seakan hidup kudus, tetapi setelah itu mereka hidup dalam rupa-rupa dosa. Tuhan bahkan bersumpah tidak akan melupakan perbuatan mereka.
Hari penghakiman Tuhan bagi mereka adalah hari Tuhan (bdk. Am. 5:18-22). Karena perbuatan dosa mereka, Tuhan menyatakan penghakiman. Perbuatan mereka tidak lagi mendapat ampun dan berdampak buruk dalam kehidupan berbangsa. Semua akan menderita. Tak satu pun dapat menghindarinya. Masih dalam suasana penghakiman, Tuhan akan membangkitkan kelaparan dan kehausan rohani. Begitu hebat kehausan itu sehingga dikatakan kaum muda akan terkapar tidak berdaya. Di satu sisi ini adalah penghukuman, yaitu perasaan kosong yang melanda manusia berdosa. Di sisi lain adalah anugerah, yaitu kesempatan mencari Tuhan seperti yang telah dikumandangkan Amos dalam pemberitaan terdahulu.
Bolehkah kita yang mengaku pengikut Kristus memiliki dualisme seperti ini? Tentu tidak. Karena hidup seperti itu munafik dan tidak berkenan kepada Tuhan. Kita akan menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekeliling kita. Oleh karena itu, bila kita sudah menyadari kehampaan seperti yang akan dialami oleh bangsa Israel, jangan abaikan peringatan-Nya melalui hamba-Nya -Amos- dan jangan keraskan hati. Segera bertobat dan percaya Yesus, agar di hati kita hanya ada keinginan menyenangkan Dia. Sehingga setiap hari Minggu kita beribadah dengan kerinduan agar hari Senin sampai Sabtu kita menghadirkan Kristus dalam setiap aktivitas kita.
Minggu, 2 Desember 2012

WARGA NEGARA "SION"

Fokus pembicaraan mazmur ini adalah Sion sebagai kota kesukaan Allah. Lalu apa makna hal itu bagi umat Tuhan?

Sion menjadi lambang pemerintahan Tuhan atas umat-Nya, bahkan atas segala bangsa. Maka, kota-kota lain yang memiliki pemerintahannya masing-masing tak cukup untuk menggambarkan pemerintahan Tuhan. Sebaliknya, semua pemerintahan baik yang di tanah perjanjian (2) maupun di penjuru dunia (4) harusnya tunduk pada pemerintahan Allah di Sion. Di Sion Kerajaan Allah ditegakkan atas seluruh bangsa!
Sion menjadi kebanggaan umat Tuhan karena mereka lahir dan terdaftar di sana (5). Tentu kebanggaan ini tidak boleh disombongkan, seolah hanya Israel yang memiliki hak istimewa itu. Karena di luar sana, jauh di selatan (Rahab/Mesir) dan jauh di utara (Babilonia), maupun bangsa-bangsa di sekeliling Israel (Filistea dan Tirus), juga di Etiopia ada umat Tuhan, mereka “dilahirkan di sana” (terdaftar sebagai umat Tuhan).
Di Keluaran 19:5-6, Israel adalah bangsa pilihan dari antara bangsa-bangsa lain yang semuanya umat yang dikasihi Tuhan. Tujuannya adalah agar melalui Israel kasih Tuhan boleh dialami oleh bangsa-bangsa lain. Mazmur ini juga memiliki nuansa misi demikian. Tugas Israel adalah bermisi kepada bangsa-bangsa lain sehingga, umat pilihan Allah dari berbagai bangsa ditemukan dan bersama-sama menyembah Allah yang bersemayam di Sion. Maka, di Sionlah akan keluar pujian dari mulut semua umat-Nya: “Segala mata airku ada di dalammu.” Suatu pengakuan bahwa Allah adalah sumber kehidupan satu-satunya.
Tugas kita sebagai umat Tuhan bukan membangga-banggakan “sion” (denominasi, faham teologi, etnis) kita masing-masing. Melainkan memberitakan Satu Tuhan yang memerintah takhta-Nya (satu Sion) atas satu umat yang menyembah Dia, terlepas dari berbagai perbedaan yang ada.
Jumat, 30 November 2013

BURUK MUKA CERMIN DIBELAH

Misalkan Anda sedang menumpang bis kota, lalu naik beberapa pengamen dan bernyanyi di sebelah Anda. Mereka bernyanyi dengan sangat merdu, diiringi petikan gitar yang mengalun apik. Lagu yang mereka bawakan pun lagu favorit Anda. Apa respons Anda? Tentu Anda akan mengapresiasi mereka, bahkan memberikan tip yang lumayan. Tapi andaikan pula situasi yang sama, dengan kualitas yang sama, tetapi liriknya diganti dengan kata-kata yang merinci berbagai kesalahan Anda secara pribadi. Akankah Anda mengapresiasi mereka juga? Tentu saja tidak.

Dengan alasan yang sama, penolakan Amazia, imam di Betel, atas pemberitaan Amos itu bisa kita maklumi. Inti pemberitaan Amos (11) niscaya membuat bangsa Israel resah. Respons negatif Amazia bisa kita katakan normal, karena pemberitaan seperti yang dilakukan Amos ini tak jarang membuahkan pembalasan berupa kekerasan di konteks lain. Padahal penyimpulan yang diambil Amazia tentang Amos keliru. Pertama. Amos tidak hendak melawan raja dan bangsa Israel (10); Amos hanya menaati perintah Allah yang menyuruh dia pergi ke Israel. Kedua, Amos tidak sedang mencari makan melalui nubuat-nubuatnya (12); ia bukan nabi profesional (14), yaitu mereka yang bernubuat di istana-istana raja dan mendapat dukungan keuangan dari kerajaan. Amazia tidak mau mengerti bahwa pemberitaan hukuman ini merupakan akibat langsung dari dosa-dosa Israel terhadap Allah, yaitu menginjak-injak keadilan dan kebenaran Allah. Sebagai imam, ia tak lagi mewakili umat di hadapan Allah, tetapi sekadar menjadi pemasok kebutuhan religiositas orang Israel, religiositas yang palsu dan jelas ditolak Allah.
Jika teguran Allah datang, kita harus peka dan siap menerima, baik itu disampaikan Allah melalui orang lain, ataupun melalui pembacaan firman secara langsung. Teguran tak boleh kita anggap penghinaan melainkan kesempatan dari Allah untuk kita bertobat, bahkan biarpun penghukuman itu tetap datang pada akhirnya. Jangan sampai penolakan atas Allah itu menjadi final, sebagaimana yang kita lihat terjadi pada Israel Utara (17).
Memasuki tahun baru 2013 tentu membuat kita dipenuhi dengan berbagai resolusi. Tentu salah satunya adalah resolusi untuk mempergiat pembacaan Alkitab atau saat teduh setiap hari. Untuk melengkapi resolusi kita, Santapan Harian Januari-Februari 2013 telah hadir. Dapatkan di toko buku Kristen di kota Anda atau bagi Anda yang bermukim di Jakarta, dapatkan juga di toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Bila Anda tidak ingin kehabisan atau tidak ingin repot mencarinya, silakan berlangganan dengan menghubungi Indah di nomor telepom 021-3442462
AMOS 2:1-5


Kejahatan bisa dilakukan oleh siapa saja bahkan oleh orang-orang terdekat sekalipun. Namun Tuhan tetap tidak tinggal diam atas kejahatan yang dilakukan manusia. Tuhan akan memberikan penghukumannya ketika waktunya tiba.

APA SAJA YANG ANDA BACA?
1. Apa yang dilakukan Moab? Apa hukuman Tuhan atas Moab (1)?
2. Bangunan apa yang dibakar oleh Tuhan? Apa situasi yang timbul setelah peristiwa itu (2)?
3. Siapa yang dilenyapkan oleh Tuhan? Mengapa (3)?
4. Siapa bangsa pilihan Tuhan? Apa yang telah dilakukan bangsa itu terhadap Tuhan (4)?
5. Apa yang dilakukan Tuhan atas Yerusalem (5)?

APA PESAN YANG ALLAH SAMPAIKAN KEPADA ANDA?
1. Siapakah Moab dan Edom? Keturunan siapakah mereka?
2. Mengapa Tuhan membenci tindakan kejahatan, termasuk juga dalam hubungan saudara?
3. Mengapa tempat-tempat berhala dapat dimusnahkan Tuhan? Bahkan juga bisa terjadi pemusnahan tempat ibadah orang percaya?
4. Mengapa penghukuman Tuhan bisa berlaku kepada siapa saja?
5. Apa yang harus dipegang dan dilakukan dengan sungguh oleh orang percaya?

APA RESPONS ANDA?
1. Kadang hidup persaudaraan kita berjalan kurang baik. Hal-hal apa yang biasanya menjadi penyebab dalam kehidupan persaudaraan Anda?
2. Apakah yang akan Anda lakukan bila terjadi demikian?
3. Kadang-kadang kita memilah-milah orang dengan standar diri kita, apakah pengaruhnya dengan relasi kita terhadap sesama?
4. Sebagai umat yang ditebus Tuhan, apakah hidup Anda telah sungguh-sungguh memegang perintah-Nya?

POKOK DOA:
Agar dimampukan menyatakan kasih Tuhan kepada kaum kerabat Anda.
Pada tanggal 26 Desember 2012 - 4 Januari 2013 Scripture Union Indonesia akan menjadi tuan rumah program International Student Camp yang diselenggarakan oleh Scripture Union East and West Asia (SUEWA). Kamp ini akan dihadiri oleh ratusan pelajar dari gerakan Scripture Union di 21 negara di regional Asia Timur dan Barat.
Scripture Union adalah komunitas global di lebih dari 120 negara. Selama hamper 150 tahun, Tuhan telah memakai Scripture Union untuk membawa anak-anak, orang muda, dan orang dewasa pada suatu pengharapan yang hidup melalui Yesus Kristus. Pada masa kini harapan itu jauh lebih diperlukan. Lalu apa yang Tuhan inginkan dari Scripture Union dalam memasuki usia 150 tahun yang kedua pada tahun 2017 mendatang? Itulah yang sedang digumulkan oleh Living Hope. Di seluruh penjuru dunia, Scripture Union sedang berusaha mendengarkan suara komunitasnya, suara masing-masing Scripture Union di berbagai negara, dan suara orang-orang kunci yang ada di sekitar. Melalui proses tersebut dan saat berbagai dalam doa dan firman Tuhan, dirindukan Tuhan berbicara mengenai panggilan-Nya, arah dan penajaman pelayanan Scripture Union di masa mendatang.
Karena itu pada tanggal 5-9 November telah diselenggarakan pertemuan para pemimpin dari 130 gerakan Scripture Union di Kuala Lumpur, Malaysia. Bersama-sama mereka akan melihat karya Tuhan di masa sebelumnya dan mengidentifikasi kesempatan-kesempatan baru bagi pelayanan kepada anak dan generasi muda.

(Disarikan dari SU Living Hope News Okt-Nov 2012)
Connect On Facebook Follow On Twitter Our Youtube Channel
COPYRIGHT © 2010 SU-Indonesia. ALL RIGHTS RESERVED. Developed by Aqua-Genesis Web Development and Design