Hanya dekat Allah

Baca: Mazmur 62

Memiliki posisi yang tinggi atau jabatan top tidak selalu membuat orang merasa tenang. Justru, sering kali orang dengan posisi sedemikian sadar bahwa bahaya mengincar dari sekeliling. Bisa jadi datangnya justru dari orang terdekat yang berambisi merebut takhta dan menghancurkannya. Tidak jarang orang dalam posisi sedemikian paranoid dan akan menggunakan segala cara untuk bertahan dalam jabatannya itu.

Mazmur keyakinan ini dipanjatkan bukan karena situasi sekeliling aman tanpa masalah. Sebaliknya, pemazmur sadar musuh mengintai hendak menjatuhkannya (4-5). Hanya, pemazmur percaya penuh kepada Allah. Kata ”hanya” muncul 6 kali dalam mazmur ini. Di ayat 2, 3, 6, dan 7, kata ini digunakan sebagai penegas bahwa Allah saja tempat perlindungan pemazmur.

”Hanya dekat Allah saja aku tenang” (2, 6). Tenang mengandung makna berdiam diri sambil menatap Tuhan penuh pengharapan bahwa Tuhan pasti bertindak membela dirinya. ”Hanya Dia gunung batuku dan keselamatanku…” (3, 7). Pemazmur sangat yakin kepada Allah, andalan satu-satunya. Oleh karena itu, pemazmur berani menantang para musuh yang hendak menghancurkannya (4-5) dan menganggap mereka tidak lain hanya angin (10). Bahkan pemazmur menasihati mereka yang menggunakan dusta (5) dan pemerasan (11) untuk menjatuhkannya (5) bahwa hal itu tidak ada gunanya. Mazmur ini ditutup dengan suatu pengakuan iman bahwa kuasa asalnya dari Tuhan demikian juga kasih setia (12-13).

Seperti pemazmur, kita harus belajar untuk mengandalkan Tuhan saja. Dalam posisi pelayanan atau pekerjaan apapun, jika kita bertanggungjawab dan takut akan Tuhan, kita dapat merasa tenang karena Tuhan dekat dengan kita. Tentunya, kita jangan sampai menaruh ambisi kita untuk mendapatkan posisi atau jabatan tertentu. Kita hanya boleh mensyukuri apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita.

Posted in SHA | Leave a comment

Sumber dan dasar hidup kita

Baca: Kolose 2:6-7

Menerima Yesus Kristus sama artinya dengan percaya bahwa Yesus telah mati untuk menebus dosa dan bangkit untuk memberi hidup yang kekal kepada kita. Kita menerima karya Yesus itu dengan iman, yaitu kemauan untuk memercayakan pengampunan dosa kita hanya kepada karya keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus saja. Kita tidak lagi mengandalkan keselamatan kita pada segala perbuatan dan amal ibadah menurut pikiran atau versi kita sendiri.

Sebagai jemaat yang sudah menerima Kristus, jemaat Kolose harus memiliki hidup yang tetap di dalam Yesus Kristus. Artinya, mereka tidak boleh memiliki kepercayaan yang lain di luar Yesus. Jemaat Kolose harus menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka selamanya. Hidup mereka maupun hidup kita semua, baik di dunia maupun di dalam kekekalan harus diserahkan kepada Yesus, karena Dialah yang memiliki dan memberi hidup kita.

Rasul Paulus memakai gambaran pohon yang memakai akar untuk mencari makanan dari dalam tanah, demikian pula hidup kita harus berakar di dalam Yesus Kristus. Artinya, Yesus adalah sumber utama kehidupan kita, darimana kita memperoleh makanan baik bagi tubuh maupun bagi kerohanian kita. Selain itu, Yesus juga digambarkan seperti sebuah batu fondasi yang menjadi tumpuan dari sebuah bangunan. Artinya, sebagai orang percaya kita harus mendasarkan hidup kita di atas Dia. Setiap keputusan dalam hidup, perilaku, dan cara berpikir kita harus sesuai dengan Kristus karena Dia adalah dasar hidup kita. Jika kita dengan setia selalu mencari makanan hidup kita dari Yesus maka niscaya iman kita pun akan semakin kokoh. Dan jika kita dengan setia membangun kehidupan kita di atas dasar Yesus Kristus, maka Alkitab mengatakan bahwa hidup kita pun akan penuh dengan ucapan syukur.

Nasihat Paulus ini berguna bagi jemaat Kolose saat mereka sedang terancam oleh ajaran sesat. Bagi kita saat ini pun, nasihat Paulus penting untuk dipegang karena Yesuslah sumber hidup kita dan dasar bagi kehidupan kita. Marilah kita tinggal tetap di dalam Dia.

Posted in SHA | Leave a comment

Harta yang tak ternilai harganya

Baca: Kolose 2:1-5

Banyak orang di dunia ini berlomba-lomba untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Bahkan ada kalanya mereka bersedia menerapkan cara apa pun demi menjadi pemenang dalam perlombaan tersebut. Namun, tidak jarang pula para pemenang dari perlombaan ini mengaku tidak puas dan tidak bahagia, bahkan setelah mereka meraih begitu banyak harta sekalipun. Jika demikian, harta seperti apakah yang layak dikejar oleh manusia?

Paulus juga berlomba-lomba dalam mengejar suatu harta. Dalam surat Kolose, Paulus melukiskan upayanya itu sebagai suatu perjuangan yang berat (1). Harta macam apakah kiranya yang sedang dikejar Paulus dengan perjuangan berat itu? Jawabnya adalah Yesus Kristus, sebab di dalam Yesuslah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan (3).

Berbeda dengan pemilik harta dunia yang enggan membagi-bagikan miliknya pada orang lain, Paulus justru berusaha sungguh-sungguh agar jemaat Kolose dapat memperoleh harta itu sebagaimana Paulus juga memilikinya. Paulus melakukan apa saja agar jemaat Kolose dapat merasa terhibur dan dapat bersatu dalam kasih (2). Sehingga pada gilirannya jemaat inipun dapat memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian tentang Yesus. Paulus begitu ingin agar jemaat Kolose mengenal rahasia terdalam dari Allah, yaitu pribadi Yesus Kristus. Sebab sebagaimana yang kita ketahui, iman jemaat Kolose kala itu sedang diperhadapkan kepada sebuah ancaman yang dikhawatirkan dapat membelokkan jemaat tersebut dari iman mereka yang sejati pada Yesus Kristus. Bagi rasul Paulus, penting sekali untuk memiliki iman yang sejati kepada Yesus.

Bagaimana sikap kita terhadap Yesus Kristus? Apakah kita memandang Yesus Juruselamat kita itu laksana suatu harta yang tak ternilai harganya? Ataukah kita lebih puas dan lebih menyukai harta lain di luar Yesus? Kiranya melalui pergumulan Paulus ini, kita disadarkan bahwa harta yang tak ternilai harganya adalah mengenal Yesus dan memperhatikan ajaran-Nya.

Posted in SHA | Leave a comment

Kembali ke dalam kemuliaan-Nya

Baca: Markus 16:9-20

Kepergian seseorang yang dikasihi sering kali identik dengan kesedihan. Namun merayakan hari kenaikan Tuhan Yesus ke surga janganlah dengan kesedihan, sekalipun ada nuansa perpisahan di dalamnya. Pada waktu itu Tuhan Yesus memang berpisah secara fisik dengan para murid-Nya. Namun kepergian itu diiringi pula dengan pesan tentang apa yang harus dilaksanakan oleh para murid setelah Yesus naik ke surga. Tidak hanya pesan yang ditinggalkan oleh Yesus, tetapi juga kuasa untuk melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Sehingga dapat dikatakan, kepergian Yesus ke surga justru memberi kesempatan yang lebih besar lagi bagi kita untuk menjadi wakil-Nya di dunia ini dan untuk melayani dunia ini. Oleh karena itu, marilah kita merayakannya dengan suasana lega, bersemangat, serta bersyukur sambil menantikan kedatangan-Nya kembali ke dalam kemuliaan (Mat.16:27).

Setidaknya ada tiga alasan mengapa kita perlu merayakan kenaikan Tuhan Yesus ke surga dengan sukacita dan penuh harap. Pertama, kita sangat bersyukur karena penyelamatan bagi isi dunia yang sudah sedemikian lama dinubuatkan itu benar-benar dipenuhi dengan sempurna. Jalan keselamatan sudah terbuka. Kelepasan dari kuasa dosa dan maut telah disediakan bagi umat manusia. Kita menikmatinya. Puji Tuhan. Kedua, kita kini justru mempunyai panggilan hidup yang baru, yaitu dalam hidup ini kita memberitakan jalan keselamatan itu melalui kata dan perbuatan kita. Bukan hanya pendeta yang memberitakan jalan keselamatan itu, tetapi kita semua sebagai orang percaya. Hidup kita menjadi bermakna, bahkan menjadi mulia. Mengapa dikatakan mulia? Karena kita telah menjadi pembawa kabar kesukaan, kabar gembira dan kabar keselamatan. Ketiga, Kristus naik ke surga untuk menyediakan tempat bagi kita di rumah Bapa yang kekal. Kita yang percaya kepada Yesus pasti akan ke sana. Di dunia kita berjuang, tetapi pada akhirnya kita akan pulang ke rumah Bapa di surga (Yoh.14:1-3). Jadi, hidup kita jelas merupakan hidup yang mempunyai tujuan, dan tujuan itu adalah pasti!

Posted in SHA | Leave a comment

Bersyukur di tengah penderitaan

Baca: Kolose 1:24-29

Tampaknya, kalimat “bersyukur di tengah penderitaan” adalah kalimat yang sangat sulit di dengar oleh telinga kita dan sangat tidak relevan. Barangkali, hanya orang-orang tertentu seperti nabi yang bisa berkata dan menerima hal itu. Ada kesan bahwa semboyan yang demikian hanya berlaku pada zaman dahulu, sehingga kurang relevan untuk zaman sekarang ini. Namun, kita harus belajar menerima kenyataan bahwa Yesus Kristus pun mengizinkan anak-anak Tuhan sampai saat ini mengalami penderitaan di dunia. Alkitab menyoroti hal penderitaan yang diijinkan Tuhan itu secara positif. Sebab semua itu terjadi dalam kendali dan kontrol Allah, meskipun kendali itu masih menjadi rahasia Allah dan misteri bagi kita sehingga kita belum mampu memahami maksud dan tujuannya (26). Kita diminta untuk belajar memercayai Allah yang memegang kendali, ketika penderitaan datang kepada kita.

Paulus sendiri mengalami banyak penderitaan dalam melaksanakan tugasnya memberitakan Injil keselamatan dalam Kristus. Meski begitu, Paulus tetap bertekun di dalam tugas mulia tersebut sehingga berita keselamatan dapat diterima oleh bangsa-bangsa. Meski mendapat aniaya, Paulus tetap bertekun di dalam menasihati, mengajar, dan memimpin tiap-tiap orang datang kepada Yesus Kristus untuk beroleh keselamatan dan kesempurnaan di dalam Dia. Seperti Paulus, setiap anak Tuhan juga harus siap untuk menderita. Yang dimaksud di sini bukanlah penderitaan yang disebabkan oleh kejahatan yang dilakukan, sehingga seseorang pantas mendapat hukuman, melainkan penderitaan yang timbul karena seseorang menaati kebenaran firman Tuhan (1Ptr. 2:20). Kebenaran firman Tuhan itu tidak sejalan dengan pandangan umum. Pandangan umum seringkali didasarkan pada nafsu, kejahatan dan kekejian. Di sinilah dituntut keberanian kita untuk tampil beda.

Dengan meyakini bahwa berita Injil sangat penting bahkan urgen untuk didengarkan dunia ini, kita akan dimampukan untuk menghadapi persoalan dan penderitaan bahkan dengan tetap bersyukur.

Posted in SHA | Leave a comment

Jangan memusuhi Allah!

Baca: Kolose 1:21-23

Memusuhi Allah tampaknya adalah sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan. Bagaimana mungkin kita yang sangat kecil ini berani dan mampu menjadi musuh Allah yang mahabesar? Namun, bacaan Alkitab hari ini berkata demikian tentang jemaat Kolose sebelum mereka diperdamaikan oleh Kristus. Apa maksud “memusuhi Allah” dalam nasihat Paulus itu?

Banyak orang mengira bahwa  kejahatan hanyalah sesuatu yang dikaitkan pada aspek perbuatan saja. Artinya, sesuatu yang benar-benar jahat di mata Allah adalah hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan jahat seperti membunuh, mencuri, merampok, korupsi, dan lain sebagainya. Alkitab dengan jelas mengungkapkan bahwa kejahatan terhadap sesama manusia adalah juga perbuatan yang terkait dengan sikap kita terhadap Allah Pencipta (Mat. 25:40). Memusuhi manusia atau tidak mengasihi sesama adalah sikap yang pada hakikatnya memusuhi Allah juga (21). Namun sebenarnya sikap memusuhi Allah dapat pula terjadi di dalam hati kita, yaitu ketika kita memilih untuk melakukan segala sesuatu yang semata-mata sesuai dengan kehendak hati kita sendiri, tanpa peduli apa yang menjadi kehendak hati Allah. Contohnya, adalah: ketika kita berusaha mengejar keselamatan menurut cara kita sendiri dan bersikeras menolak Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka pada dasarnya kita juga sedang memusuhi Allah.

Aspek kejahatan memang begitu luas dan kita pernah memusuhi Allah melalui ketidakpercayaan kita. Namun, syukur pada Allah karena Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah (22). Hanya di dalam kuasa dan kasih Kristus itulah sikap memusuhi Allah itu dapat diselesaikan. Titik balik dari keadaan memusuhi Allah menjadi umat yang taat kepada-Nya disebut dengan pertobatan.

Kini sebagai orang-orang yang sudah bertobat kita harus berpegang teguh pada pengharapan Injil. Kita memiliki jaminan keselamatan maka kita bisa bergiat mengabarkan kabar pendamaian itu kepada semua orang dan mewujudkan pendamaian itu dengan saling mengasihi.

Posted in SHA | Leave a comment

Mengapa harus mengenal Yesus Kristus?

Baca: Kolose 1:15-20

Berbeda dengan pandangan dunia tentang Yesus Kristus sebagai seorang nabi, atau tokoh yang saleh, atau pun pendiri agama, Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa Yesus adalah Pencipta. Dengan demikian, Alkitab juga secara tegas mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah. Sungguh mudah menerima Yesus sebagai manusia biasa yang saleh, guru yang baik atau nabi yang agung. Tetapi dibutuhkan pekerjaan Roh Kudus untuk mengenal dan memahami Yesus Kristus yang sebenarnya.

Jangankan segala sesuatu yang ada di bumi ini, segala sesuatu yang ada di surga pun, dicipta oleh Yesus (16). Jangankan segala sesuatu yang bisa kita lihat, segala sesuatu yang tidak terlihat pun dicipta oleh-Nya. Dunia bisa menolak Yesus Kristus. Tetapi dunia harus tahu, bahwa di antara yang paling berkuasa di dunia ini, tidak ada satu kuasa pun yang melebihi kuasa-Nya. Setiap nafas manusia, baik yang dipakai untuk menghujat Yesus maupun memuji Dia, adalah nafas yang diberikan oleh-Nya. Setiap tangan manusia, baik yang dipakai untuk menuliskan hal-hal buruk tentang Yesus atau pun yang dipakai untuk memuliakan nama-Nya, adalah tangan yang dicipta oleh-Nya. Setiap hati yang membenci Dia, tidak akan pernah ada kecuali oleh hikmat dan kuasa-Nya telah dibiarkan menjadi ada. Juga setiap hati yang mencintai Dia, adalah berasal dari Dia.

Bukan saja sebagai Pencipta, Yesus pun telah menebus dunia yang telah jatuh dan durhaka ini. Tidak ada satu tokoh atau satu nabi atau satu makhluk apa pun yang pernah berdarah-darah demi menebus dunia yang jahat ini (20). Hanya Yesus yang penuh kuasa sekaligus penuh kasih itulah yang pernah mati bagi ciptaan-Nya dan yang telah bangkit kembali mengalahkan kematian. Di zaman sekarang ini, ketika agama-agama dunia berkembang dan cara-cara dunia lebih populer daripada cara-cara Allah, ketika nama Yesus sering dipergunjingkan dengan kisah-kisah isapan jempol, pemahaman akan Yesus yang sungguh-sungguh Allah itu harus kita pegang kuat, yakini dan beritakan. Jemaat Kolose harus mengetahuinya, dunia kita sekarang pun harus mengetahuinya.

Posted in SHA | Leave a comment

Mohon pemulihan

Baca: Mazmur 61

Kalau penulis Mazmur 60 merasakan diri terbuang dari hadapan Allah, maka mazmur 61 ini mungkin ungkapan seorang raja yang sedang terbuang jauh dari bangsanya, yaitu di ujung bumi. Sejarah Israel pernah mencatat beberapa raja yang terasing dari takhtanya sendiri. Misalnya, Daud ketika lari dari Absalom dan Manasye yang ditawan ke Babel (2Taw. 33). Keduanya dicatat pula dalam sejarah kembali ke takhtanya, oleh kasih karunia Allah.

Seruan sang raja bukan tanpa pengharapan. Justru karena ia tahu Tuhan adalah tempat perlindungan yang pasti (4), ia berani menaikkan permohonannya. Ia tahu, kendati keadaan terasing secara fisik ini begitu pahit, Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Maka, ia berupaya mencari hadirat Tuhan dan hidup benar di hadapan-Nya (5). Ia menyadari bukan kekuatan sendiri yang memampukannya hidup berkenan kepada-Nya, maka ia meminta tuntunan Tuhan (3b).

Dalam keyakinan bahwa Tuhan pasti akan menjawab permohonannya, pemazmur sengaja menggunakan kata ganti orang ketiga untuk meminta berkat baginya (7-8). Kalau Tuhan berkenan memulihkan takhtanya, barlah Tuhan mengaruniakan pula umur panjang kepada raja. Tujuannya agar ia boleh melayani Allah dengan menjadi raja yang lebih baik dari sebelumnya. Kita tahu Daud memang dikudeta oleh Absalom. Namun, kesalahan juga ada di pihak Daud yang tidak bijaksana memperlakukan anaknya ini. Manasye pernah berbuat jahat di masa-masa pertama pemerintahannya, yang menyebabkan Tuhan menghukumnya dengan pembuangan. Hanya setelah merendahkan diri dan bertobat, takhtanya dipulihkan.

Kalau Anda sedang merasa terasing oleh karena dosa-dosa Anda. Bertobatlah dan mintalah pemulihan dari Allah agar Anda dikembalikan dalam kesempatan semula. Anda bisa memulai hidup baru, pelayanan baru, dan kesempatan menjadi berkat yang baru pula.

Posted in SHA | Leave a comment

Ketika hidup baru menjadi milik kita

Baca: Kolose 1:9-14

Panggilan kita sebagai orang percaya adalah untuk mewujudnyatakan hidup baru, yaitu hidup saling mengasihi. Paulus menulis: “Kita dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan ke dalam Kerajaan Anak-Nya” (13). Sungguh besar kuasa Allah dan sungguh tak terperikan kasih-Nya kepada manusia. Dengan kuasa dan kasih sebesar itu, Allah telah mengerjakan apa yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia sendiri, yaitu memasukkan ke dalam Kerajaan Anak Allah. Manusia sendiri tidak mungkin mampu melepaskan diri dari kuasa kejahatan. Namun di dalam kuasa Allah, manusia yang jahat itu dapat memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa (14).

Hidup di lingkungan baru, yaitu lingkungan Kerajaan Anak Allah, membawa kita pada gaya hidup baru. Paulus melukiskannya sebagai hubungan timbal balik “menerima dan memberi” yang muncul antara Allah dan manusia di dalam Kerajaan Anak Allah. Kita menerima hikmat (9) lalu kita memberi buah (10). Kita menerima kekuatan (11) lalu kita memberi ucapan syukur. Inisiatif selalu datang dari Allah, itu sebabnya kita menerima dulu, setelah itu barulah mampu untuk memberi. Apa yang kita beri bukan pertama-tama milik kita, karena dari Allah pulalah kita menerimanya.

Jemaat Kolose sudah percaya kepada Yesus, tetapi untuk berbuah dalam pekerjaan baik jemaat ini perlu terus memperoleh hikmat dan pengetahuan akan kehendak Tuhan. Tanpa itu, jemaat akan mudah sekali diombang-ambingkan oleh ajaran yang sesat. Jemaat Kolose perlu menerima kekuatan dari Tuhan agar mereka dapat berpegang pada iman yang sejati secara kokoh. Tanpa itu, betapa mudahnya jemaat ini dikalahkan oleh orang-orang yang menentang iman mereka.

Seperti jemaat Kolose, kita pun dapat meminta kepada Tuhan untuk diberikan hikmat dan kekuatan. Agar kita dapat semakin mengenal kehendak Tuhan dan senantiasa kuat dalam menghadapi cobaan terhadap iman kita. Sehingga pada gilirannya, kita dapat menghasilkan buah pertobatan dan ucapan syukur yang tulus kepada Tuhan kita.

Posted in SHA | Leave a comment

Gereja: sebuah komunitas kasih

Baca: Kolose 1:1-8

Sifat apakah yang harus menonjol di dalam gereja? Gereja tercipta karena pengurbanan Kristus yang menyelamatkan umat manusia.  Gereja bukan diciptakan oleh manusia, tetapi oleh Kristus. Yesus Kristus adalah Kepala gereja (Kol. 1:18). Para pekerja atau pelayan yang bertugas di gereja dipilih oleh Kristus, contohnya Rasul Paulus (1). Kemudian dilanjutkan sampai kepada pendeta dan para pemimpin lainnya. Para anggotanya disebut sebagai orang beriman dengan sapaan saudara-saudara dalam Kristus. Gereja juga bertugas memberitakan Injil keselamatan dalam Kristus, serta pengharapan yang tersimpan di dalam surga (5). Termasuk bagian yang penting yaitu memberitakan keadilan dan damai-sejahtera berdasarkan kasih yang diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari (6).

Kolose 1:1-8 memberikan gambaran yang cukup jelas tentang kasih persaudaraan yang diwujudnyatakan dalam keseharian mereka. Kasih persaudaraan itu dapat terlihat dalam diri Paulus yang telah menuliskan surat gembala pada jemaat Kolose. Sebagai seorang rasul Kristus yang mengasihi jemaat, mengirimkan surat gembala untuk membina jemaat adalah suatu tindakan yang baik dan penuh kasih. Paulus tidak tinggal diam ketika ia mengetahui ada persoalan yang terjadi di dalam jemaat tersebut. Dengan penuh kasih Paulus, menyapa, mengajar, menegur dan mengarahkan jemaat menuju pertumbuhan rohani yang lebih baik. Kehidupan jemaat Kolose, walaupun ada kekurangan di sana-sini, juga telah menunjukkan sikap yang saling mengasihi di antara anggota jemaat. Sikap mereka itu rupanya cukup berkesan sehingga menjadi topik pelaporan Epafras kepada Paulus.

Hubungan kasih yang terjalin di antara para pelayan firman dengan jemaat ini menjadi penting untuk kita refleksikan bagi kehidupan gereja di masa sekarang. Sudahkah kita membangun hubungan yang demikian di dalam kehidupan gereja kita sekarang? Sebab tanpa itu, peran kita sebagai tubuh Kristus di dunia akan kurang  bahkan tidak terasa bagi orang lain.

Posted in SHA | Leave a comment